Monday, April 30, 2007
Alhamdulillah..Syukur kpdMu ya Robbi
Assalamualaikum wrth...
ribuan terima kasih ku ucapkan pdMu Ya Allah...ikhlas dr hatiku. Setelah aku rasa amat sedih...setelah aku diguris hati..setelah aku menitiskan air mata krn seseorang dan ttg hidupku. Aku tiba2 rasa gembira bhw aku dpt pergi ke Seminar Interaktif Falak Syar'ie. Aku tahu pendaftaran sudah tutup. Tapi tadi malam, aku talipon mesjid Siglap...sorg ustdz yg angkat.
aku: "Esok ada seminar interaktif Falak kan?"
ustdz: "Yer2..saya..."
aku: "Saya ingin daftar esok tapi sy tahu pendaftaran dah tutup. Jadi boleh tk sy dafar esok pagi?"
ustdz: "Awk nk jugak daftar?"
aku: "Yer..."
ustdz: "ok..tggu sekejap"
ustdz: "siapa nama?"
aku: "suhana bte rasid. tkde 'h'"
ustdz: "kite perlukan ic no jugak sbb ini akan dicatat dlm sijil nanti."
setelah aku beri no talipon dan ic no..aku diberitau olehnya utk dtg awal 8 pagi supaya dapat dilunaskan bayaran dan utk confirmation. Mmg awal bagi aku yg tinggal di barat dan mejed itu di timur..tapi ape pun..aku tetap ingin pergi. Sok bangun awal2... daftar kt auditorium... Alhamdulillah...tk sabar!!!
okay suhana...segala kesedihan sudah pun dihapus olehNya....
Tuesday, April 24, 2007
Indahnya hidup berpasangan
http://indrayogi.multiply.com
Assalamu'alaikum,
Alhamdulillah, tanggal 23 Maret kemarin umur saya bertambah (atau berkurang ?). Sekarang semuanya berjalan biasa saja, tidak ada yang istimewa. Kalau dulu biasanya memang ada sedikit perayaan kecil, misalnya traktir keluarga makan diluar. Tapi kali ini tidak, selain karena saudara yang lain sibuk sendiri, juga karena semakin bertambahnya keluarga jadi rasanya sedikit berat juga :p.
Tahun ini adalah yang pertama kalinya umur saya bertambah (berkurang ?) dengan didampingi teman sejati. Saya masih ingat tahun kemarin ulang tahun saya, saya keliling Jakarta dengan teman-teman rismata sambil bagi-bagi nasi kotak. Kali ini cukup diam dirumah dengan Nina. Tanggal 23 Malamnya ketika saya hendak berangkat ke peraduan alias tidur, saya melihat mata Nina sedikit menerawang, seperti ada sesuatu yang dia pikirkan. Lama saya perhatikan sampai akhirnya Nina sadar bahwa saya sedang memperhatikan dia.
"Lagi mikirin apa Nin ?"
Nina tak menjawab pertanyaan saya dan hanya tersenyum. Tak berapa lama kemudian mata Nina mulai berkaca-kaca dan bulir-bulir airmata yang jernih pun mulai mengalir turun dari mata ke pipi. Saya cukup tersentak melihat Nina yang tiba-tiba menangis.
"Nina, kamu kenapa ?! Indra punya salah sama kamu yah ?". Nina menggelengkan kepala.
"Yakin ?" tanya saya coba mendapatkan jawaban yang pasti.
Nina menjawab, "Ngga kok, ngga ada yang salah sama a'indra, justru Nina yang ada salah sama a'indra". Saya makin bingung dibuatnya karena saya tak sedikitpun merasa bahwa Nina punya salah dengan saya. Nina pun melanjutkan kalimatnya,
"Aindra, maaf ya....dihari ulang tahun aindra yang ke 26 ini Nina ngga bisa ngasih kado apa-apa....."
Saya tersenyum sekaligus takjub mendengar Nina bicara seperti itu. Sepertinya Nina tidak menyadari bahwa sebenarnya dialah hadiah ulang tahun yang teristimewa yang pernah ada dalam hidup saya. Kehadirannya semakin meneguhkan iman saya dan semakin yakin Allah Maha Adil. Keberadaannya mampu menyeimbangkan ritme kehidupan saya. Kesedehanaannya mengalahkan segala pesona dan kesabarannya mampu melunakkan hati yang keras. Tutur katanya yang selalu lemah lembut dan tak mampu berkata keras selalu berhasil membuat suasana hati menjadi tenang dan tentram.
Selaras dengan apa yang ada di Al Qur'an, Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang [QS 30:21]. Apa yang saya tulis ini tidaklah berlebihan bagi saya.
Kejadian diatas membuat saya berpikir, Subhanallah, betapa Allah Maha Sayang terhadap hamba-hamba-Nya walaupun masih banyak yang ingkar dan kufur akan nikmatNya. Allah menciptakan semuanya berpasangan, Allah berfirman :
Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui [QS 36:36]
Manusia pun diciptakan oleh Allah berpasang-pasangan agar segala kesulitan, kemudahan dan kebahagian hidup ini dapat dijalani bersama. Agar masing-masing berlomba-lomba dalam kebaikan (Fastabiqul khairat) dan saling mengingatkan dalam kealpaan. Pernahkah terbayang di benak kita bahwa kita akan hidup sendiri selamanya tanpa pernah sekalipun merasakan indahnya hidup berpasangan. Rasanya sulit bagi manusia normal untuk menolak salah satu bentuk kenikmatan yang diberikan oleh Allah, yaitu hidup berpasangan.
dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. [QS 53:45]
Akhirnya Allah pun menegaskan tujuan dari berpasangan,
Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.[QS 51:49]
Inilah salah satu keindahan dari hidup berpasangan, agar kita selalu dapat mengingat kebesaran Allah dan mensyukuri nikmat-Nya....
Fabiayyi alaa i Robbikumaa Tukaddzibaan....
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?......
Ya Zawjati...
Having Allah as my God,
Prophet Muhammad as my leader
and you as my wife
is the best gift in my whole life.
Alhamdulillahi Robbil 'alamin....
Wassalamu'alaikum
Assalamu'alaikum,
Alhamdulillah, tanggal 23 Maret kemarin umur saya bertambah (atau berkurang ?). Sekarang semuanya berjalan biasa saja, tidak ada yang istimewa. Kalau dulu biasanya memang ada sedikit perayaan kecil, misalnya traktir keluarga makan diluar. Tapi kali ini tidak, selain karena saudara yang lain sibuk sendiri, juga karena semakin bertambahnya keluarga jadi rasanya sedikit berat juga :p.
Tahun ini adalah yang pertama kalinya umur saya bertambah (berkurang ?) dengan didampingi teman sejati. Saya masih ingat tahun kemarin ulang tahun saya, saya keliling Jakarta dengan teman-teman rismata sambil bagi-bagi nasi kotak. Kali ini cukup diam dirumah dengan Nina. Tanggal 23 Malamnya ketika saya hendak berangkat ke peraduan alias tidur, saya melihat mata Nina sedikit menerawang, seperti ada sesuatu yang dia pikirkan. Lama saya perhatikan sampai akhirnya Nina sadar bahwa saya sedang memperhatikan dia.
"Lagi mikirin apa Nin ?"
Nina tak menjawab pertanyaan saya dan hanya tersenyum. Tak berapa lama kemudian mata Nina mulai berkaca-kaca dan bulir-bulir airmata yang jernih pun mulai mengalir turun dari mata ke pipi. Saya cukup tersentak melihat Nina yang tiba-tiba menangis.
"Nina, kamu kenapa ?! Indra punya salah sama kamu yah ?". Nina menggelengkan kepala.
"Yakin ?" tanya saya coba mendapatkan jawaban yang pasti.
Nina menjawab, "Ngga kok, ngga ada yang salah sama a'indra, justru Nina yang ada salah sama a'indra". Saya makin bingung dibuatnya karena saya tak sedikitpun merasa bahwa Nina punya salah dengan saya. Nina pun melanjutkan kalimatnya,
"Aindra, maaf ya....dihari ulang tahun aindra yang ke 26 ini Nina ngga bisa ngasih kado apa-apa....."
Saya tersenyum sekaligus takjub mendengar Nina bicara seperti itu. Sepertinya Nina tidak menyadari bahwa sebenarnya dialah hadiah ulang tahun yang teristimewa yang pernah ada dalam hidup saya. Kehadirannya semakin meneguhkan iman saya dan semakin yakin Allah Maha Adil. Keberadaannya mampu menyeimbangkan ritme kehidupan saya. Kesedehanaannya mengalahkan segala pesona dan kesabarannya mampu melunakkan hati yang keras. Tutur katanya yang selalu lemah lembut dan tak mampu berkata keras selalu berhasil membuat suasana hati menjadi tenang dan tentram.
Selaras dengan apa yang ada di Al Qur'an, Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang [QS 30:21]. Apa yang saya tulis ini tidaklah berlebihan bagi saya.
Kejadian diatas membuat saya berpikir, Subhanallah, betapa Allah Maha Sayang terhadap hamba-hamba-Nya walaupun masih banyak yang ingkar dan kufur akan nikmatNya. Allah menciptakan semuanya berpasangan, Allah berfirman :
Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui [QS 36:36]
Manusia pun diciptakan oleh Allah berpasang-pasangan agar segala kesulitan, kemudahan dan kebahagian hidup ini dapat dijalani bersama. Agar masing-masing berlomba-lomba dalam kebaikan (Fastabiqul khairat) dan saling mengingatkan dalam kealpaan. Pernahkah terbayang di benak kita bahwa kita akan hidup sendiri selamanya tanpa pernah sekalipun merasakan indahnya hidup berpasangan. Rasanya sulit bagi manusia normal untuk menolak salah satu bentuk kenikmatan yang diberikan oleh Allah, yaitu hidup berpasangan.
dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. [QS 53:45]
Akhirnya Allah pun menegaskan tujuan dari berpasangan,
Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.[QS 51:49]
Inilah salah satu keindahan dari hidup berpasangan, agar kita selalu dapat mengingat kebesaran Allah dan mensyukuri nikmat-Nya....
Fabiayyi alaa i Robbikumaa Tukaddzibaan....
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?......
Ya Zawjati...
Having Allah as my God,
Prophet Muhammad as my leader
and you as my wife
is the best gift in my whole life.
Alhamdulillahi Robbil 'alamin....
Wassalamu'alaikum
Sunday, April 22, 2007
Alim Yang Menyesatkan
Pandangan dari Maarof Salleh
Bagaimanakah kita menilai apakah seseorang yang dianggap alim (jama'nya ulama) itu bercakapa benar atau merujuk sumber ilmiah yang betul? Bagaimanakah pula kita harus memberikan reaksi kepadanya?
Contohnya, Osama Bin Laden, yang bagi para pemujanya ialah seorang alim dan berwenang. Dia mengeluarkan fatwa yang menghalalkan serangan ganas ke atas Amerika Syarikat dan sekutunya sebagai jihad yang dibenarkan agama. Padahal, para ulama menghukumkan fatwanya menyesatkan. Ancaman alim palsu atau ulama su' (daripada istilah Imam Ghazali dalam bukunya Bidayatul Hidayah) sudah berlaku sejak lama. Mereka tidak bercakap yang benar atau mengguna pakai sumber yang berupa pemalsuan agama. Malah, tanggapan mereka yang demikian itu sampai ke dalam rancangan televisyen atau sidang rasmi yang membahaskan kepentingan umum.
Sebuah akhbar arus utama Malaysia pada Ahad lalu menyiarkan pandangan dua ulama yang kian menarik sorotan - Dr Moh Asri Zainal Abidin, Mufti Kerajaan Negeri Perlis, dan Dr Syed Ali Tawfik Al-Attas, Ketua Pengarah Institut Kefahaman Islam Malaysia (Ikim). Dr Mohd Asri lulusan agama, manakala Dr Syed Ali pula lulusan konvensional. Solah mendedahkan alim, ulama atau golongan mana yang betul kini hangat di sebarang Tambak. Mufti Perlis mempersoalkan sikap sesetengah penceramah agama yang juga ahli panel siaran agama televisyen yang disifatkannya "belum mencapai piawaian ilmu". Katanya, mereka tidak ilmiah dan menyampaikan fakta palsu atay tidak munasabah. Namun, pandangan Dr Moh Asri, yang berusia 35 tahun dan lulusan bidang bahasa (balaghah), mendapat tetangan ramai ulama Malaysia. Mentelah beliau dikatakan mencemuh golongan Hadrami (dari Hadramaut Yaman) dan amalan sufi. Dr Tawfik pula lebih menjurus kritikannya terhadap budaya Melayu dan Islam. Misalnya, beliau mengupas isu identiti Melayu dalam beberapa sidang perwakilan Umno, pertubuhan politik terbesar yang mengwakili orang Melayu, yang umumnya beragama Islam. Menurut beliau, dalam definisi Melayu yang termaktub dalam Perlembagaan Persekutuan serta berdasarkan amalan turun menurun di negara itu, agama Islam merupakan ciri utamanya.
Hujahnya, apa jua formula merumuskan identiti Melayu harus menyertakan nilai atau unsur penting daripada ajaran Islam seperti nilai keluhhuran akhlak dan keadilan sosial. Lantaran itu, penyertaan sktif kalangan elit agama, termasuk ulama, mesti ada dan menonjol.
Menurut Dr Tawfik, golongan elit agama, termasuk ulama, memang ada. Malangnya, suara-suara aktif mereka menyumbang dalam perbincangan mengenai identiti Melayu tidak kedengaran atau kendengaran pun tidak menyerlah.
Akibatnya, kata beliau lagi, gagasan Melayu Umno kekaburan dengan nilai-nilai murni Ilsam. Kesannya, berlaku banyak kekeliruan apabila diterapkan dalam amalan pemerintahan atau dalam kehidupan sosial. Mungkin Dr Tawfik cuba menunjukkan banyaknya amalan buruk dan tidak beretika berlaku dalam kerajaan yang Umno menjadi rakan kongsi paling utama, misalnya masalah rasuah, salah guna kuasa dan pecah amanah.
Bahaya penyakit sosial pula dikatakan kian menular dalam kehidupan masyarakat. Orang ramai kian tertekan dengan budaya lepak dan gejala mat rempit dalam kalangan anak muda serta kes kebejatan moral dan salah guna dadah dan sebagainya.
Namun, masalah ini bukanlah sekadai di Malaysia saja. Umat Islam di mana jua sering menanggungnya selagi itu integrasi ilmiah atau keilmuan tidak dihormati. Yang jelas, risiko cukup besar ditanggung orang awam atau rakyat apabila golongan yang memakai gelar ulama atau elit agama tidak cukup arif, apatah lagi bercakap yang benar.
Sayangnya, yang betul-betul alim pula membisu saja walaupun kekeliruan berlaku. Mengapakah terdapat ulama dan elit agama berpendirian demikian?
Para imam besar, seperti Imam Ghazali, sudah lama membincangkannya. Hakikatnya, ulama juga insan biasa yang mengalami beberapa kekurangan seperi kesibukan mengisi jadual. Mereka juga tidak dapat menguasai pelbagai ilmu dan terbatas bidang mereka saja. Malangnya, tuntutan umat kini amat besar atas ulama agar memberikan jawapan segera seperti rancangan ceramah di radio atau televisyen. Gambaran media pula semacam mendorong seseorang alim dinila bak selebriti.
Akibatnya, etika seseorang alim di segi keilmuan kurang menjadi pertimbangan penting baik bagi pihak penganjur rancangan. Di segi lain, mungkin ramai ulama yang enggan menonjolkan diri kerana tidak mahu dianggap bercanggah dengan keputusan pihak yang sedang memegang kuasa - khuatir risiko yang tidak berbaloi. Sejarah Islam menunjukkan memang ada ulama yang terpaksa meringkuk di penjara demi menegakkan keadilan. Sehingga kini pun, cara Machievelli , iaitu prinsip 'tujuan menghalalkan cara' masih berlaku di sesetengah negara majoriti Islam. Akibatnya, elit agama, termasuk ulama, terpaksa berhati-hati untuk mempengaruhi midan pihak atasan. Hanya setelah keyakinan itu diperolehim barulah boleh diusahakan langkah-langkah menerapkan nilai-nilai tulen agama. Mungkin juga, seperti yang dihimbau Dr Tawfik bahawa terdapat "ulama bikinan" daripada kalangan mereka yang sengaja diangkat untuk memberikan pengesahan agama kepada beberapa dasar pihak yang sedang memegang kuasa.
Ketika berlaku pemberontakan tentera Turkey Mamluk di Baghdadm tentera Turkey dikatakan mempunyai fikiran sempit. Mereka memerlukan dukungan rakyat bagi menjayakan matlamat mereka untuk menguasai kerajaan, Ketika itu pulam golongan pemikir rasional atau muktazilah sedang berpengaruh kuat. Kerajaan baruitu memecat tokoh-tokoh nahzab muktazilah daripada memegang jawatan-jawatan rasmi yang berpengaruh dalam bidang fikiran dan politik. Banyak ulama aliran muktazilah dipenjarakan dan dibuang negeri. Sebagai gantinya, mereka memanggil semula aliran pemikiran nas (yang berpandukan teks agama seperti Al-Qurn dan Hadis tanpa menerima penggunaan akal dan rasional dalam memaham agama).
Dalam zaman pemerintahan Khalifah al-Qadir Billah (991-1031 M), berlaku kemuncak usaha membanteras kecenderungan ilmiah dan pemakaian pemikiran rasional sebagai pendekatan uama memahami agama.
Khalifah itu membuat perisytiharan yang antara lain melarang pengajian dan perdebatan tentang ilmu kalam, khususnya dalam faham rasional, melaknat golongan muktazilah di atas mimbar masjid sehingga orang ramai menjadi keliru bahawa berfikiran rasional dilarang Islam.
Mungkin ada aspek-aspek keterlaluan dalam soal amalan rasional pada gerakan muktazilah. Namun, ini tidak bermakna berfikiran rasional tidak boleh sama sekali. Hakikatnya, Islam menggalakkan kemerdekaan fikir demi meneroka ilmu agar tercapai kebenaran dalam apa jua hal.
Dalam Al-Quran, banyak sekali seruan agar kita berfikir, merenung, membandingkan, meneroka dan melihat kejadian alam dan sejarah manusia.
Tegasnya, Islam memberikan penghormatan yang tinggi kepada ilmu dan daya fikir sehingga wahyu pertama menyuruh insan agar 'membaca'. Keadaan ummah akan menjadi lebih buruk andai ulama dan elit agama hanya memilih untuk membisu, apatah lagi keberatan mendorong orang Islam agar berfikiran rasional dan mengkaji ke akar masalah dengan pelbagai pendekatan ilmu.
Hanya dengan ilmu dan petunjuk alim yang bertanggungjawab, kepalsuan dapat ditanggalkan.
-Retype: Suhana Rasid-
Bagaimanakah kita menilai apakah seseorang yang dianggap alim (jama'nya ulama) itu bercakapa benar atau merujuk sumber ilmiah yang betul? Bagaimanakah pula kita harus memberikan reaksi kepadanya?
Contohnya, Osama Bin Laden, yang bagi para pemujanya ialah seorang alim dan berwenang. Dia mengeluarkan fatwa yang menghalalkan serangan ganas ke atas Amerika Syarikat dan sekutunya sebagai jihad yang dibenarkan agama. Padahal, para ulama menghukumkan fatwanya menyesatkan. Ancaman alim palsu atau ulama su' (daripada istilah Imam Ghazali dalam bukunya Bidayatul Hidayah) sudah berlaku sejak lama. Mereka tidak bercakap yang benar atau mengguna pakai sumber yang berupa pemalsuan agama. Malah, tanggapan mereka yang demikian itu sampai ke dalam rancangan televisyen atau sidang rasmi yang membahaskan kepentingan umum.
Sebuah akhbar arus utama Malaysia pada Ahad lalu menyiarkan pandangan dua ulama yang kian menarik sorotan - Dr Moh Asri Zainal Abidin, Mufti Kerajaan Negeri Perlis, dan Dr Syed Ali Tawfik Al-Attas, Ketua Pengarah Institut Kefahaman Islam Malaysia (Ikim). Dr Mohd Asri lulusan agama, manakala Dr Syed Ali pula lulusan konvensional. Solah mendedahkan alim, ulama atau golongan mana yang betul kini hangat di sebarang Tambak. Mufti Perlis mempersoalkan sikap sesetengah penceramah agama yang juga ahli panel siaran agama televisyen yang disifatkannya "belum mencapai piawaian ilmu". Katanya, mereka tidak ilmiah dan menyampaikan fakta palsu atay tidak munasabah. Namun, pandangan Dr Moh Asri, yang berusia 35 tahun dan lulusan bidang bahasa (balaghah), mendapat tetangan ramai ulama Malaysia. Mentelah beliau dikatakan mencemuh golongan Hadrami (dari Hadramaut Yaman) dan amalan sufi. Dr Tawfik pula lebih menjurus kritikannya terhadap budaya Melayu dan Islam. Misalnya, beliau mengupas isu identiti Melayu dalam beberapa sidang perwakilan Umno, pertubuhan politik terbesar yang mengwakili orang Melayu, yang umumnya beragama Islam. Menurut beliau, dalam definisi Melayu yang termaktub dalam Perlembagaan Persekutuan serta berdasarkan amalan turun menurun di negara itu, agama Islam merupakan ciri utamanya.
Hujahnya, apa jua formula merumuskan identiti Melayu harus menyertakan nilai atau unsur penting daripada ajaran Islam seperti nilai keluhhuran akhlak dan keadilan sosial. Lantaran itu, penyertaan sktif kalangan elit agama, termasuk ulama, mesti ada dan menonjol.
Menurut Dr Tawfik, golongan elit agama, termasuk ulama, memang ada. Malangnya, suara-suara aktif mereka menyumbang dalam perbincangan mengenai identiti Melayu tidak kedengaran atau kendengaran pun tidak menyerlah.
Akibatnya, kata beliau lagi, gagasan Melayu Umno kekaburan dengan nilai-nilai murni Ilsam. Kesannya, berlaku banyak kekeliruan apabila diterapkan dalam amalan pemerintahan atau dalam kehidupan sosial. Mungkin Dr Tawfik cuba menunjukkan banyaknya amalan buruk dan tidak beretika berlaku dalam kerajaan yang Umno menjadi rakan kongsi paling utama, misalnya masalah rasuah, salah guna kuasa dan pecah amanah.
Bahaya penyakit sosial pula dikatakan kian menular dalam kehidupan masyarakat. Orang ramai kian tertekan dengan budaya lepak dan gejala mat rempit dalam kalangan anak muda serta kes kebejatan moral dan salah guna dadah dan sebagainya.
Namun, masalah ini bukanlah sekadai di Malaysia saja. Umat Islam di mana jua sering menanggungnya selagi itu integrasi ilmiah atau keilmuan tidak dihormati. Yang jelas, risiko cukup besar ditanggung orang awam atau rakyat apabila golongan yang memakai gelar ulama atau elit agama tidak cukup arif, apatah lagi bercakap yang benar.
Sayangnya, yang betul-betul alim pula membisu saja walaupun kekeliruan berlaku. Mengapakah terdapat ulama dan elit agama berpendirian demikian?
Para imam besar, seperti Imam Ghazali, sudah lama membincangkannya. Hakikatnya, ulama juga insan biasa yang mengalami beberapa kekurangan seperi kesibukan mengisi jadual. Mereka juga tidak dapat menguasai pelbagai ilmu dan terbatas bidang mereka saja. Malangnya, tuntutan umat kini amat besar atas ulama agar memberikan jawapan segera seperti rancangan ceramah di radio atau televisyen. Gambaran media pula semacam mendorong seseorang alim dinila bak selebriti.
Akibatnya, etika seseorang alim di segi keilmuan kurang menjadi pertimbangan penting baik bagi pihak penganjur rancangan. Di segi lain, mungkin ramai ulama yang enggan menonjolkan diri kerana tidak mahu dianggap bercanggah dengan keputusan pihak yang sedang memegang kuasa - khuatir risiko yang tidak berbaloi. Sejarah Islam menunjukkan memang ada ulama yang terpaksa meringkuk di penjara demi menegakkan keadilan. Sehingga kini pun, cara Machievelli , iaitu prinsip 'tujuan menghalalkan cara' masih berlaku di sesetengah negara majoriti Islam. Akibatnya, elit agama, termasuk ulama, terpaksa berhati-hati untuk mempengaruhi midan pihak atasan. Hanya setelah keyakinan itu diperolehim barulah boleh diusahakan langkah-langkah menerapkan nilai-nilai tulen agama. Mungkin juga, seperti yang dihimbau Dr Tawfik bahawa terdapat "ulama bikinan" daripada kalangan mereka yang sengaja diangkat untuk memberikan pengesahan agama kepada beberapa dasar pihak yang sedang memegang kuasa.
Ketika berlaku pemberontakan tentera Turkey Mamluk di Baghdadm tentera Turkey dikatakan mempunyai fikiran sempit. Mereka memerlukan dukungan rakyat bagi menjayakan matlamat mereka untuk menguasai kerajaan, Ketika itu pulam golongan pemikir rasional atau muktazilah sedang berpengaruh kuat. Kerajaan baruitu memecat tokoh-tokoh nahzab muktazilah daripada memegang jawatan-jawatan rasmi yang berpengaruh dalam bidang fikiran dan politik. Banyak ulama aliran muktazilah dipenjarakan dan dibuang negeri. Sebagai gantinya, mereka memanggil semula aliran pemikiran nas (yang berpandukan teks agama seperti Al-Qurn dan Hadis tanpa menerima penggunaan akal dan rasional dalam memaham agama).
Dalam zaman pemerintahan Khalifah al-Qadir Billah (991-1031 M), berlaku kemuncak usaha membanteras kecenderungan ilmiah dan pemakaian pemikiran rasional sebagai pendekatan uama memahami agama.
Khalifah itu membuat perisytiharan yang antara lain melarang pengajian dan perdebatan tentang ilmu kalam, khususnya dalam faham rasional, melaknat golongan muktazilah di atas mimbar masjid sehingga orang ramai menjadi keliru bahawa berfikiran rasional dilarang Islam.
Mungkin ada aspek-aspek keterlaluan dalam soal amalan rasional pada gerakan muktazilah. Namun, ini tidak bermakna berfikiran rasional tidak boleh sama sekali. Hakikatnya, Islam menggalakkan kemerdekaan fikir demi meneroka ilmu agar tercapai kebenaran dalam apa jua hal.
Dalam Al-Quran, banyak sekali seruan agar kita berfikir, merenung, membandingkan, meneroka dan melihat kejadian alam dan sejarah manusia.
Tegasnya, Islam memberikan penghormatan yang tinggi kepada ilmu dan daya fikir sehingga wahyu pertama menyuruh insan agar 'membaca'. Keadaan ummah akan menjadi lebih buruk andai ulama dan elit agama hanya memilih untuk membisu, apatah lagi keberatan mendorong orang Islam agar berfikiran rasional dan mengkaji ke akar masalah dengan pelbagai pendekatan ilmu.
Hanya dengan ilmu dan petunjuk alim yang bertanggungjawab, kepalsuan dapat ditanggalkan.
-Retype: Suhana Rasid-
Sunday, April 01, 2007
Kisah Teladan : Gadis tewas dalam posisi menari
Sebagai pemandi mayat selama 13 tahun di Saudi Arabia ia belum pernah melihat pemandangan seperti ini. Ketika ia membuka selimut yang menutupi mayat tersebut ia seketika pingsan. Beberapa wanita datang berusaha menyadarkannya, setelah ia sadar Fulanah segera menemui ibu si mayat tersebut dan bertanya, wahai ukhti seumur hidupku aku belum pernah melihat kondisi jasad yang demikian, aku melihat jasad putrimu dalam keadaan menari (berjoget) apa yang dilakukan putrimu di masa hidupnya??
Sang ibu dengan terisak menceritakan, bahwa putrinya semasa hidupnya meminati musik dan nyanyian. Ia terlalu cenderung dengan musik, terlebih usianya yang baru menginjak remaja (ABG * anak baru gede / puberty )sulit bagi sang ibu untuk menasehatinya. Ia senang menonton lagu-lagu favorit yang sedang hit dalam video klips, menyukai penyanyi-penyanyi tersebut dengan penuh cinta. Hidupnya hanya di isi dengan nyanyian dan musik.
Suatu hari gadis belasan tahun itu datang dalam sebuah pesta, karena memang ia diundang oleh kawannya. Dalam sebuah pesta tentu saja didalamnya ada nyannyian dan musik. Maka ketika lagu kesayangannya dinyanyikan ia tidak dapat menahan dirinya.Mulailah ia menari (berjoget) dan bernyanyi dengan riangnya. Dalam keadaan yang sangat bersemangat itu tiba-tiba ia terjatuh dan tubuhnya membentur meja di depannya. Ia tak sadarkan diri, orang-orang di sekitarnya berusaha menolongnya dan mereka mendapati gadis itu telah tiada. Dan, tubuhnya kaku (benar-benar kaku dan keras)tidak dapat digerakkan. Dengan posisi tangan meliuk di atas kepala (sebagaimana layaknya orang berjoget).
Setelah mendengar penjelasan sang ibu, Fulanah berusaha memandikan mayat gadis malang itu ia pun berusaha memposisikan jasad sang gadis sebagaimana layaknya mayat yang akan dikafankan. Tapi, subhanallah jasad itu benar-benar kaku seperti batu, ia tidak dapat menekukkan tangan sang mayat, akhirnya ia pasrah membungkus mayat dalam keadaan sebagaimana adanya.
Jika akhir hidup manusia yang menggemari para penyanyi seperti diatas mendapatkan hukuman seperti itu, bisakah kita membayangkan bagaimana keadaan para penyanyi (artis) itu sendiri bila mereka tidak segera bertaubat kepada Allah ?
Tidakkah kita mengambil ibrah ini wahai hamba Allah?? Tidak menjadi jaminan usia yang muda tidak akan diburu ajal? Tidakkah kita takut ketika kita melakukan maksiat tiba-tiba Allah mencabut nyawa kita dengan mendadak? Berapa banyak generasi salaf takut akan kondisi diatas, mati dalam keadaan suul khatimah (akhir yang buruk).Ada diantara mereka yang senantiasa berdoa agar Allah mewafatkan mereka ketika mereka sedang sujud sehingga Allah pun mengabulkan doanya. Semoga Allah menjadikan kita senatiasa istiqamah dalam ketaatan dan mengakhiri hidup kita dengan husnul khatimah.amin.
Sumber: Daurah Syar'iyah Muslimah Mahad Darul Hidayah, Rabwa, Riyadh.
Muraja'ah oleh : Ustadz Eko Hariyanto Lc
Sang ibu dengan terisak menceritakan, bahwa putrinya semasa hidupnya meminati musik dan nyanyian. Ia terlalu cenderung dengan musik, terlebih usianya yang baru menginjak remaja (ABG * anak baru gede / puberty )sulit bagi sang ibu untuk menasehatinya. Ia senang menonton lagu-lagu favorit yang sedang hit dalam video klips, menyukai penyanyi-penyanyi tersebut dengan penuh cinta. Hidupnya hanya di isi dengan nyanyian dan musik.
Suatu hari gadis belasan tahun itu datang dalam sebuah pesta, karena memang ia diundang oleh kawannya. Dalam sebuah pesta tentu saja didalamnya ada nyannyian dan musik. Maka ketika lagu kesayangannya dinyanyikan ia tidak dapat menahan dirinya.Mulailah ia menari (berjoget) dan bernyanyi dengan riangnya. Dalam keadaan yang sangat bersemangat itu tiba-tiba ia terjatuh dan tubuhnya membentur meja di depannya. Ia tak sadarkan diri, orang-orang di sekitarnya berusaha menolongnya dan mereka mendapati gadis itu telah tiada. Dan, tubuhnya kaku (benar-benar kaku dan keras)tidak dapat digerakkan. Dengan posisi tangan meliuk di atas kepala (sebagaimana layaknya orang berjoget).
Setelah mendengar penjelasan sang ibu, Fulanah berusaha memandikan mayat gadis malang itu ia pun berusaha memposisikan jasad sang gadis sebagaimana layaknya mayat yang akan dikafankan. Tapi, subhanallah jasad itu benar-benar kaku seperti batu, ia tidak dapat menekukkan tangan sang mayat, akhirnya ia pasrah membungkus mayat dalam keadaan sebagaimana adanya.
Jika akhir hidup manusia yang menggemari para penyanyi seperti diatas mendapatkan hukuman seperti itu, bisakah kita membayangkan bagaimana keadaan para penyanyi (artis) itu sendiri bila mereka tidak segera bertaubat kepada Allah ?
Tidakkah kita mengambil ibrah ini wahai hamba Allah?? Tidak menjadi jaminan usia yang muda tidak akan diburu ajal? Tidakkah kita takut ketika kita melakukan maksiat tiba-tiba Allah mencabut nyawa kita dengan mendadak? Berapa banyak generasi salaf takut akan kondisi diatas, mati dalam keadaan suul khatimah (akhir yang buruk).Ada diantara mereka yang senantiasa berdoa agar Allah mewafatkan mereka ketika mereka sedang sujud sehingga Allah pun mengabulkan doanya. Semoga Allah menjadikan kita senatiasa istiqamah dalam ketaatan dan mengakhiri hidup kita dengan husnul khatimah.amin.
Sumber: Daurah Syar'iyah Muslimah Mahad Darul Hidayah, Rabwa, Riyadh.
Muraja'ah oleh : Ustadz Eko Hariyanto Lc
Sunday, January 21, 2007
Apabila berhadapan dengan suami
- Semasa suami bercakap , isteri diam mendengarnya dan jangan suka menyampuk atau memotong cakapnya.
- Apabila suami marah, hendaklah isteri mendiamkan diri jangan suka menjawab, sikap suka menjawab, bertekak dan menegakkan kebenaran sendiri akan menambah kemarahan suami
- Kadang-kadang si suami suka mengusik isterinya. Apabila dia menyakiti hati isteri hendaklah banyak bersabar, isteri jangan cepat merajuk.
- Jika dia berhajat sesuatu hendaklah isteri cepat bertindak. Bangun segara apabila disuruh. Jangan melengah-lengahkan kemahuannya supaya tidak mencetuskan kemarahan atau rasa tersinggung di hatinya.
- Hendaklah memasak mengikut kesukaan suami, bukannya ikut selera diri sendiri. Suami akan gembira apabila seleranya dipenuhi.
- Apabila pakaian suami koyak atau tercabut butangnya hendaklah segera dijahit . Jangan dibuat sambil lewa kerana jahitan tersebut melambangkan peribadi isteri sama ada ikhlas atau terpaksa.
- Sentiasa berada dalam keadaan bersih dan kemas ketika suami di rumah supaya hatinya senang untuk bersenda gurau.
- Air minuman suami hendaklah sentiasa disiapkan biarpun sekadar air masak sejuk. Jangan sampai dia minta. Kalau boleh sediakan kuih-muih ringan.
- Sentiasa menghormati dan memuliakan keluarga suami. Bersikap ramah-tamahlah dengan keluarganya dan bersabarlah di atas segala tindakan mereka jika ada yang bertetangan dengan syariat.
Sumber Laman Web: www. perkahwinan.com.my
Pengikut Rufaqa tidak izin pasang kabel bagi sekolah anal
KL: Seglintir penduduk dipercayai ahli Pertubuhan Rufaqa, yang tinggal di Sungai Penchala, tidak mengambil berat kepentingan pelajaran anak mereka kerana terlalu taksub dengan ajaran serta program yang dianjurkan kumpulan terbabit.
Malah, mereka juga tidak memberi kerjasama sepenuhnya kepada pihak sekolah dan kontraktor yang dilantik memasang kabel bawah tanah bagi kegunaan makmal komputer di sekolah anak mereka, sejak dua tahun lalu.
Yang Dipertua Persatuan Ibu Bapa dan Guru (PIBG) Sekolah Kebangsaan Sungai Penchala, Encik Sahid Juri, berkata beliau kelas dengan sikap tidak peka ahli Rufaqa terbabit kerana ia memberi kesan kepada lebih 700 murid di sekolah berkenaan.
Ini kerana pelajar di sekolah itu sehingga kini tidak dapat menggunakan kemudahan komputer sepenuhnya kerana bekalan elektrik yang tidak mencukupi.
Walaupun kontraktor mendapat kelulusan dan mengikut prosedur ditetapkan, mereka berdegil dengan tidak membenarkan penanaman kabel itu dilakukan dan meminta bayaran kerana menggunakan tanah kawasan berkenaan.
"Tanah itu sebenarnya rizab jalan tetapi kontraktor tidak dibenarkan menanam kabel dengan alasan akan membahayakan nyawa mereka kerana dikhuatir akan berlaku kejadian tidak diingini," katanya. Encik Sahid berkata sikap penduduk terbabit menunjukkan Pertubuhan Rufaqa yang mengaku berjuang untuk agama adalah hipokrit kerana mengabaikan pendidikan anak bangsa.
Kebanyakkan anak ahli Rufaqa mempunyai masalah disiplin seperti sering ponteng sekolah dan tidak membayar yuran persekolahan.
Menurutnya, semua anak ahli Rufawa ini diberi bantuan Rancangan Makanan Tambahan dan bantuan Baitulmal tetapi mereka tidak membayar yuran. -Harian Metro.
Retype: Suhana Rasid
Malah, mereka juga tidak memberi kerjasama sepenuhnya kepada pihak sekolah dan kontraktor yang dilantik memasang kabel bawah tanah bagi kegunaan makmal komputer di sekolah anak mereka, sejak dua tahun lalu.
Yang Dipertua Persatuan Ibu Bapa dan Guru (PIBG) Sekolah Kebangsaan Sungai Penchala, Encik Sahid Juri, berkata beliau kelas dengan sikap tidak peka ahli Rufaqa terbabit kerana ia memberi kesan kepada lebih 700 murid di sekolah berkenaan.
Ini kerana pelajar di sekolah itu sehingga kini tidak dapat menggunakan kemudahan komputer sepenuhnya kerana bekalan elektrik yang tidak mencukupi.
Walaupun kontraktor mendapat kelulusan dan mengikut prosedur ditetapkan, mereka berdegil dengan tidak membenarkan penanaman kabel itu dilakukan dan meminta bayaran kerana menggunakan tanah kawasan berkenaan.
"Tanah itu sebenarnya rizab jalan tetapi kontraktor tidak dibenarkan menanam kabel dengan alasan akan membahayakan nyawa mereka kerana dikhuatir akan berlaku kejadian tidak diingini," katanya. Encik Sahid berkata sikap penduduk terbabit menunjukkan Pertubuhan Rufaqa yang mengaku berjuang untuk agama adalah hipokrit kerana mengabaikan pendidikan anak bangsa.
Kebanyakkan anak ahli Rufaqa mempunyai masalah disiplin seperti sering ponteng sekolah dan tidak membayar yuran persekolahan.
Menurutnya, semua anak ahli Rufawa ini diberi bantuan Rancangan Makanan Tambahan dan bantuan Baitulmal tetapi mereka tidak membayar yuran. -Harian Metro.
Retype: Suhana Rasid
Rufaqa cuba jual buku tulisan Ashaari
Saya amat setuju dengan tulisan Pak Oteh yang berjudul waspada ajaran sesat yang kian canggih (BH, 11 Disember). Kemunculan Rufaqa ternyata lebih sekadar satu perniagaan. Ia malah di dapati menyokong pembiayaan penyebaran ajaran Al-Arqam (diharamkan di Malaysia) yang di asaskan Ashaari.
Rufaqa di Singapura tiada bezanya. Seorang rakan yang kebetulan ahli Rufaqa pernah mendapat khidmat pengurus Restaurant Rufaqa Family di Tampines unutk menjual tudung Muslimah semasa kami mengadakan Minggu Kesedaran Islam(IAW) di Politeknik Ngee Ann lebih setahun lalu.
Ternyata beliau bawa lebih daripada tudung Muslimah. Beliau berhasrat untuk menjual buku agama sekali. Selaku penasihat, saya dan pengerusi jawatan kuasa IAW itu memutuskan untuk tidak membenarkannya menjual buku agama tersebut kerana ia tidak termasuk dalam perjanjian. Keputusan itu tepat kerana saya diberitahu pengerusi bahawa buku-buku agama yang ingin dijualnya merupakan buku-buku tulisan Ashaari pemimpin Al-Arqam. Tanggungjawab memantau dan mengawasi ajaran sesat bukan tugas MUIS dan Pergas saja tetapi juga tugas kita semua, terutama mereka yang memiliki ilmu agama yang sahih lagi mantap, berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah.
Bagi kita selaku orang awam, mudah sahaja. Jangan mudah percayakan ustaz-ustaz dengan taklid buta. Hendaklah kita selidik apa yang diajarkan seseorang ustaz, sama ada ia bersesuaian dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Hanya dengan demikian dapat kita pastikan apa yang diajar seseorang ustaz itu sahih dan ajaran Islam yang benar.
(Retype:Suhana Rasid)
Rufaqa di Singapura tiada bezanya. Seorang rakan yang kebetulan ahli Rufaqa pernah mendapat khidmat pengurus Restaurant Rufaqa Family di Tampines unutk menjual tudung Muslimah semasa kami mengadakan Minggu Kesedaran Islam(IAW) di Politeknik Ngee Ann lebih setahun lalu.
Ternyata beliau bawa lebih daripada tudung Muslimah. Beliau berhasrat untuk menjual buku agama sekali. Selaku penasihat, saya dan pengerusi jawatan kuasa IAW itu memutuskan untuk tidak membenarkannya menjual buku agama tersebut kerana ia tidak termasuk dalam perjanjian. Keputusan itu tepat kerana saya diberitahu pengerusi bahawa buku-buku agama yang ingin dijualnya merupakan buku-buku tulisan Ashaari pemimpin Al-Arqam. Tanggungjawab memantau dan mengawasi ajaran sesat bukan tugas MUIS dan Pergas saja tetapi juga tugas kita semua, terutama mereka yang memiliki ilmu agama yang sahih lagi mantap, berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah.
Bagi kita selaku orang awam, mudah sahaja. Jangan mudah percayakan ustaz-ustaz dengan taklid buta. Hendaklah kita selidik apa yang diajarkan seseorang ustaz, sama ada ia bersesuaian dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Hanya dengan demikian dapat kita pastikan apa yang diajar seseorang ustaz itu sahih dan ajaran Islam yang benar.
(Retype:Suhana Rasid)
Saturday, January 20, 2007
Permasalahan Ta'adud Jamaah (Hukum Berbilang Jamaah jemaah dan hukum Berjemaah)
Permasalahan Ta'adud Jamaah (Hukum Berbilang Jamaah jemaah dan hukum Berjemaah)
Ta'adud jemaah itu berasal dari perkataan "adad" iaitu bilangan dan kiraan dalam bahasa Arab manakala perkataan jamaah itu bermaksud kumpulan, himpun atau kumpul. (lihat Lisan Arab oleh Ibn Manzur ra m/s 118 Jilid 6).
Perkataan ini disebut dalam firman Allah swt :
“Sesungguhnya Dia (Allah) telah menghitung mereka dan mengira dengan sebaik-baik kiraan” (Maryam: 94).
Iaitu menyamakan maksud احص (kiraan) dengan عدد (bilangan) pada ayat di atas dengan menyebut penghitungan Allah itu ialah sebagai sebaik-baik hitungan dan bilangan.
Pengertian ta'adud jemaah yang menjadi fokus kita pada kali ini ialah yang membawa kepada pengertian "berbilang jemaah" . Dimaksudkan dengan ta’adud jemaah itu ialah kewujudan jemaah yang banyak sehingga dapat dibilang dan dikira.
Berbilang jemaah bermaksud satu keadaan di mana wujudnya pelbagai kumpulan dan jemaah dalam satu masa dan tempat.
Apakah hukumnya berbilang jemaah di Malaysia ?
Membincangkan soal berbilang jemaah ini ialah satu isu sensitif dan saya akan sekali lagi terkena tempias dari mereka yang buta hati dan perut yang tidak mahu menggunakan akal dan kecerdikan untuk meneliti al-qur'an dan sunnah sebaliknya hanya bertaqlid buta lalu memburukkan sesiapa yang tidak sependapat dengannya.
Namun kerana permintaan untuk menjelaskan perihal ta'adud jemaah ini datangnya dari sahabat lama maka ana mustahil dapat menolak. Permasalahan ta'adud jemaah ini mesti dilihat dari beberapa aspek.
1) Kedudukan perkara yang diperselisihkan dan diperbezakan sehingga mengundang wujudnya perpecahan dan berbilang pandangan dan pendapat lalu masing-masing kumupulan duduk dan menetap dengan kumpulan mereka dan pendapat mereka. Lalu terjadilah ta'adud jemaah pada pendapat tertentu.
Permasalahan ta’adud jemaah atau perbezaan pendapat sering berlaku sejak zaman-berzaman dari era para sahabat iaitu ketika awal kemunculan Islam sehinggalah ke hari kiamat. Ini bahkan disebut sebagai ujian dan fitrah yang Allah berikan kepada hamba-Nya kecuali mereka yang terselamat dengan berpegang teguh kepada panduan-Nya sahaja akan terpelihara dari perbezaan dan perpecahan.
“ Jika Allah kehendaki nescaya dapat Dia menjadikan semua manusia itu umat yang satu tetapi mereka itu (dijadikan ) berselisih kecuali ORANG YANG DIKASIHI OLEH TUHAN-MU” (Surah hud : 118).
Golongan yang dikasihi ilaha golongan yang beriman yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah dan tetap di atas kesabaran dan tidak menurut akal serta hawa nafsu dalam tindakan dan amalan mereka.
Sekalipun wujud perbezaan pendapat dan ta’adud jemaah sejak zaman berzaman namun apa yang pasti keadaanya tidaklah seperti yang kita sangkakan.
Iaitu tidaklah benar ianya dibolehkan, sebaliknya sejak zaman para sahabat ta’adud jemaah ini hanyalah berlaku di antara kumulan yang benar dan kumupulan yang salah bukan bermakna semua yang berbeza pendapat itu semuanya benar. Sebaliknya ada yang benar dan salah.
Berkata Ibn Qasim ra “ Aku mendengar dari Malik (imam malik) dan dari Laits mereka bercakap perihal perbezaan pendapat dikalangan sahabat rasulullah salallahualaihiwasalam bukanlah seperti apa yang diperkatakan oleh orang awam iaitu sebagai rahmat sebaliknya mereka (Imam malik dan Imam Laits) menyebut pada perbezaan pendapat dikalangan sahabat itu wujud benar dan salah !!
Berkata Asyhab :
“ Berkata malik (imam Malik) Demi Allah kebenaran itu hanyalah satu dan perkataan dua orang yang berselisih itu bagaimana mungkin wujud sahih kedua-duanya ? Tiadalah benar dan sahih melainkan satu !!!
Pernah Umar Al-Khattab ra memarahi Ibn mas’ud dan Ubai ibn ka’ab lantaran berbeza pendapat dalam masalah solat dengan memakai pakaian yang hanya satu sahaja.
(Sila lihat dalam “Al-Madhkal Fiqhiyah” oleh Ustaz Dr. Al-Zarqa).
Perbezaan pendapat itu hukumnya dilihat kepada perkara yang diperbezakan :
- Jika perbezaan pendapat itu dan wujud kelompok jemaah berbilang dalam masalah aqidah dan iktiqad kepercayaan maka hukumnya ialah haram.
Ini berdasarkan firman Allah swt :
“Janganlah kamu menjadi seperti orang yang musyrikin iaitu mereka yang BERPECAH-BELAH dalam agama mereka dan setiap HIZBI (golongan, parti, jemaah) itu bergembira dengan apa yang merka punyai” (Surah Ar-Rum 31-32).
“ Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah bercerai-berai dan berselisihan (dalam agama mereka) sesudah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas nyata (yang dibawa oleh Nabi-nabi Allah), Dan mereka yang bersifat demikian, akan beroleh azab seksa yang besar” [‘Ali Imran:103-105] .
Permasalahan perbezaan kumpulan dan kewujudan perbezaan dan berbilang kumpulan dalam aqidah ini ialah seperti apa yang berlaku dalam umat islam apabila wujud kelompok Ahlul sunnah, syiah, khawarij, Asyairah, muktazilah, qadariyah, jabariyah dan semuanya adalah sesat kecuali satu.
Dalam hadith baginda yang diriwayatkan oleh Ibn Umar ra yang bermaksud “ Akan datang kepada umatku perkara seperti yang pernah menimpa kaum bani Israel , selangkah demi selangkah sehingga akan berlaku dikalangan mereka yang berzina dengan ibunya secara terang-terangan. Sehingga ada umatku akan melakukan sedemikian. Sesungguhnya umat bani Israel berpecah kepada 72 golongan dan akan berpecah umatku kepada 73 golongan dan kesemuanya di neraka kecuali satu golongan.
Maka bertanyalah para sahabat ra kepada baginda akan siapakah golongan yang satu itu wahai rasulullah ? Maka jawab baginda “ Golongan yang aku berada di dalamnya dan para sahabatku .” (Hadith Hasan, riwayat Tirmidzi no.26 Jilid 5, Hakim no.218 Jilid 1).
Iaitu jalan serta manhaj yang beradanya nabi dan para sahabatnya iaitu jalan salaf soleh dalam iktiqad (kepercayan) serta aqidah mereka itulah yang benar iaitu aqidah salaf manakala selainnya sesat dan ditolak. Aqidah salaf itu ialah apa yang disebut sebagai aqidah yang dipegang oleh rasulullah, para sahabat dan tabien sejak awal sehinggalah kurun ke tiga.
Manakala aqidah asya’irah yang dibawa oleh Imam Abu Hasan Al-Asya’ari yang lahir pada 260 Hijrah itu bukanlah aqidah salaf dan ianya temasuk aqidah baru yang direka hasil ijtihadnya dengan pengaruh muktazilah di dalamnya dan ternyata ianya sesat dan salah dan Imam Abu Hasan Al-Asya’ari sendiri sebelum wafatnya pada 324 Hijrah telah bertaubat dan menulis sebuah kitab berjudul “ Al-Ibanah Fi Usul Ad-Diyanah” sebagai menolak kembali segala fahamannya dan menolak usul aqidah asya’irah yang dinisbahkan kepadanya serta menyatakan ruju (kembali) taubatnya kemballi kepada aqidah salaf dan menurut jalan salaf soleh dan jalan Imam terdahulu seperti Imam Ahmad Ibn Hambal ra yang dikenali sebagai imam Ahlul Sunnah Wal Jamaah.
Nabi Salallahualaihiwasalam bersabda melalui riwayat Aisyah ra : " Sebaik-baik kurun manusia ialah kurun aku berada di dalamnya dan kemudian kurun kedua (Sahabat) dan kurun ketiga (Tabi'ien)” (Hadith Sahih, riwayat Muslim no.1965 Jilid 2, Abu Daud no. 44 Jilid 50).
- Jika perbezaan pendapat itu dalam masalah fiqh dan kefahaman dalam feqah hasil ijtihad para ulama dengan masing-masing berusaha memahami dalil dan hujah setekun mungkin namun tetap berselisih pendapat maka hukumnya ialah harus dan setiap kumpulan itu berusaha bersatu dengan mentarjihkan (mencari ketepatan) dalam pandangan masing-masing sehingga mampu sampai ke titik pertemuan yang membawa kebenaran kerana kebenaran itu hanyalah satu.
Ini dibuktikan oleh sikap para fuqaha dan Imam ummah dalam berbeza pendapat dengan mengutamakan hujah dan dalil dan jika diteliti dengan penguasaan ilmu dan hujah semua orang mampu bersatu di atas kefahaman yang sama dan beramal dengan tidak jauh beza jika diutamakan kebenaran dan beramal berdasar ilmu bukan hanya taqlid buta.
Pernah sekali Malik bin Anas ditanya adakah perlu membasuh jari-jari kaki ketika berwudhu’. Beliau menjawab “Itu tidak perlu”. Setelah berakhirnya majlis kuliah tersebut, seorang anak murid Malik, bernama Ibn Wahhab berkata “Aku mengetahui akan suatu hadis berkenaan soalan tadi.”
Bertanya Malik: “Hadis apakah itu ?”
Ibn Wahhab berkata: “Laits ibn Sa‘ad, Ibn Luhai‘ah dan ‘Amr bin al-Harits meriwayatkan dari jalan Yazid bin ‘Amr, dari Mustawrid bin Shaddad; di mana mereka telah berkata: ‘Kami melihat Rasulullah menggosok antara jari-jari kakinya ketika berwudhu dengan anak jarinya’.”
Berkata Malik: “Riwayat ini adalah sahih. Aku tidak pernah mendengarnya hingga seketika tadi.”
Ibn Wahhab seterusnya menerangkan bahawa Malik kemudian mengajar orang ramai untuk menggosok jari-jari kaki mereka apabila berwudhu’
(Riwayat Ibn Abi Hatim di dalam kitabnya – al-Jarh wa al-Ta’dil, ms. 31-32(The Prophet’s Prayer Described, ms. xi ).
Imam Ahmad Ibn Hanbal ra juga turut menyebut :
" Janganlah kamu bertaqlid kepada aku, janganlah bertaqlid kepada Imam Malik, janganlah kamu bertaqlid kepada Imam Syafi'ie dan jangan kepada Imam Al-Auza'ie dan jangan juga kepada Imam As-Sau'ri, tetapi ambillah hujah dari mana sumber yang mereka ambil…". Sila rujuk Ibn Qayyim dalam kitabnya "Al-I'lam" m/s 302 Jilid 2.
Para ulama ummah cukup melarang sikap ta’asub dan ta’adud jemaah dan kumpulan dalam pendapat fiqh kerana ianya memecah belahkan umat Islam dan ini terbukti dalam suasana hari ini.
Suasana taksub bermazhab yang paling jelas ialah apabila jemaah yang melaksanakan solat fardhu dibahagikan kepada 4 kumpulan di Masjid al-Haram menurut mazhab masing-masing. Perkara ini berlaku sebelum tahun 1342H/1924M. Lebih menyedihkan, suasana begini berlaku di hadapan Ka’bah padahal Ka’bah itu sendiri merupakan binaan yang mengisyaratkan persatuan umat Islam.
Adapun hadith yang mengatakan " Ikhtilaf pada umat ku itu rahmat" ialah hadith palsu dan bohong serta dusta !!!
Berkata Abu Muhammad ibnu Hazm : “Adapun hadits yang telah disebutkan “Perselisihan umatku adalah rahmat” adalah kebatilan dan kedustaan yang bermuara dari orang yang fasik.” (Al Ahkam fi Ushulil Ahkam 5/61).
Al Qoshimy mengomentari (sanad dan matan) hadits ini, dalam kitab Mahasinut Ta’wil 4/928 : “Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa hadits ini tidak dikenal kesahihan sanadnya. At Tibrani dan Al Baihaqy meriwayatkannya di dalam kitab Al Madkhol dengan sanad yang lemah dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’.
- Jika berbeza pendapat dalam masalah politik dan siyasah maka hukumnya ialah haram jika membawa kemudharatan dan halal jika membawa kemanfaatan dan dibuat demi maslahat.
Permbezaan dan ta’adud jemaah dalam politik jika ianya memecah belahkan kesatuan umat Islam, menyebabkan umat Islam saling bermusuhan di antara satu sama lain seperti sekarang maka hukumnya ialah haram ini kerana :
“ Janganlah KAMU berselisih dan berbantah-bantah nanti akan hilang kekuatan kamu” (Surah Al-Anfaal : 46).
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (agama Islam) dan janganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara” (Ali – Imran :102).
Persoalan politik ini isu sensitif tetapi menjaga sunnah dan mentaati perintah rasulullah itu wajib. Maka dalam menajga perpaduan umat Islam baginda rasulullah pernah berpesan kepada kita semua dengan sabda-Nya :
“ Aku berpesan kepada kamu supaya bertaqwalah kamu kepada Allah, dan dengar serta patuhlah kepada pemimpin walaupun dia diangkat dari hamba habsyi. Sesungguhnya sesiapa yang hidup selepas aku pasti akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpeganglah kamu pada Sunnah aku dan sunnah khulafa Ar-Rasyidin yang diberi pertunjuk selepas aku . Peganglah ia (sunnah) sesungguh-sungguhnya sehingga kalau pun kamu terpaksa mengigitnya dengan gigi geraham kamu. Dan berhati-hatilah kamu dengan perkara baru !!! Sesungguhnya setiap perkara baru (dalam agama) ialah bid’ah !!! dan setiap bid’ah itu sesat !!! (Hadith Sahih , riwayat Tirmidzi (no.2676) , Abu Daud (no. 4607) dan Ahmad (no.12561).
Al Hafidz Ibnu Katsir rohimahullah berkata : “Allah telah memerintahkan kepada mereka (umat Islam) untuk bersatu dan melarang mereka dari perpecahan. Dalam banyak hadits juga terdapat larangan dari perpecahan dan perintah untuk bersatu dan berkumpul (di atas kebenaran).” (Tafsir Ibnu Katsir 1/367).
Diriwayatkan dari Auf bin Malik ra yang rasulullah salallahualaihiwasalam bersabda :
“ Hendaklah sesiapa yang dibawah kepimpinan pemerintah dan dia melihat pemimpinnya melakukan maksiat maka hendaklah dibenci apa yang dilakukan oleh pemimpin itu dari maksiatnya namun jangan sekali-kali mencabut tangannya dari ketaatan kepada pemimpin itu” (Hadith Sahih, riwayat Muslim no. 1855).
Imam Ahmad ra menyebutkan beberapa hal yang antara lain : " Mendengar dan taat kepada para imam dan amirul mukminin (pemimpin kaum mukminin), baik yang shalih (adil) mahupun yang fajir (dhalim), dan taat kepada khalifah yang desepakati dan diridhai oleh kaum mukminin.
Jihad bersama mereka (yang adil mahupun yang zalim) secara terus menerus hingga hari kiamat, mengadakan pembagian harta fa'i (harta rampasan yang diperoleh tanpa melakukan perlawanan), juga terus menerus menjalankan hukum had. Tidak boleh bagi siapapun untuk mencela dan menyelisihi mereka, mengerjakan shalat Jum'at di belakang mereka dua raka'at. Barangsiapa yang mengulangi shalatnya, maka dia adalah mubtadi' (ahli bid'ah) yang meninggalkan atsar, menyelisihi sunnah dan tidak mendapat keutamaan Jum'at sedikitpun.
Barangsiapa yang memberontak kepada Imam kaum muslimin yang telah disepakati atau dan diakui kekhilafahannya, maka sungguh dia telah memecahkan tunggak kaum muslimin dan telah menyalahi atsar-atsar yang datang dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Apabila ia mati ketika melakukan hal itu, dia mati secara jahiliyyah. Dan tidak halal (diharamkan) bagi siapapun untuk memerangi sultan dan memberontaknya. Barangsiap yang berbuat demikian, dia adalah mubtadi' yang tidak berjalan di atas sunnah dan tidak pula berjalan di atas jalan yang lurus." (Syarah Ushul I'tiqad 1/160-161).
Abu Muhammad Abdur Rahman bin Abi Hatim Ar-Razy berkata : "Saya bertanya kepada bapakku dan Abu Zur'ah tentang madzab Ahlus Sunnah dalam Ushuluddin dan apa yang beliau berdua yakini dalam hal ini (politik dan pemerintahan) . Maka beliau berdua berkata : "Kami menjumpai para ulama di seluruh penjuru negeri, di Hijaz, Irak, Syam dan Yaman beri'tiqad. Kemudian beliau berdua menyebutkan beberapa hal antara lain : dan kita menegakkan jihad dan haji bersama imam-imam kaum muslimin di sepanjang zaman.
Kita tidak memberontak dan tidak pula memerangi mereka karena dikhawatirkan fitnah. Kita mendengar dan taat kepada Wilayatul Umur. Demikian pula kita tidak mencabut ketaatan dari mereka. Kita ittiba' kepada sunnah dan bersatu dalam jamaah dan menjauhi persengketaan dan perpecahan. Jihad bersama mereka tetap berjalan sejak diutusnya Nabi kita shalallahu 'alaihi wa sallam sampai hari kiamat kelak, dan tidak ada sesuatupun yang membatalkannya dan begitu juga haji." (Syarah Ushul I'tiqad 1/176-180).
Sesungguhnya mazhab Ahlul sunnah Wal Jamaah Dalam masalah kepimpinan dan pemerintahan ialah meletakkan soal pemerintahan termasuk perkara dasar. Hal ini boleh dilihat dalam kitab fathul Bari dalam musnad Ahmad dll sunan mengenai peristiwa kewafatan Nabi saw.
Para sahabat mengutamakan perlantikan Khalifah penganti nabi saw mendahului urusan jenazah baginda nabi saw sebagai tanda IJMAK SAHABAT bahawa soal pemerintahan termasuk perkara dasar BUKAN FURU'
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, dia berkata : Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Wajib atasmu untuk mendengar dan taat (kepada sulthan) dalam kesulitan dan kemudahanmu, dalam perkara yang menyenangkan dan yang kamu benci, dan tidak kamu sukai." (HR. Muslim 3/1467).
Dari Wail bin Hujr radhiallahu 'anhu, dia berkata :
Salamah bin Yazid Al-Ju'ti pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam : "Wahai Rasulullah, kalau kita diperintah oleh sultan yang meminta haknya, tetapi tidak mahu menunaikan hak kami, apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam berpaling darinya. Kemudian Salamah bertanya lagi dan Rasulullah berpaling lagi. Kemudian Salamah bertanya lagi untuk yang ketiga kalinya, maka ia ditarik oleh Al-Asy'ats bin Qais. Maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Dengar dan taatlah kalian, karena mereka akan memikul dosa-dosa mereka dan kalian juga akan memikul dosa-dosa kalian (sendiri)." (Muslim 3/1474).
Sabda baginda :
"Dengar dan taatilah (Umara), sekalipun budak Habasyi yang juling matanya." Dan dalam riwayat Bukhari : "sekalipun diperintah oleh budak Habasyi yang panjang dan lebat rambut kepalanya." (HR. Muslim 3/1467 dan Bukhari 1/30).
“ Katakanlah (hai Muhammad): "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah ke jalan Allah dengan bashirah (petunjuk dan ilmu), maha suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik." (Yusuf: 108).
2) Siapakah yang melakukan perbuatan berbilang pendapat dan kumpulan ini
Melihat kepada golongan yang melakukan perbuatan ta’adud jemaah ini juga satu keperluan walaupun sebenarnya ianya tidak menjejaskan penetapan hukum. Namun kita dapat menilai kebenaran perbuatan ini apakah ianya dibenarkan atau tidak berdasarkan keadaan pelakunya.
Pertama jika yang melakukan perbezaan pendapat ini merupakan sahabat nabi salallahualaihiwasalam dan mereka melakukannya menurut panduan atau wasiat khas dari nabi maka tidaklah kita mempunyai pilihan dalam masalah ini melainkan tidak menjadikan hujah untuk kita turut sama melakukannya kerana mereka mendapat arahan khas untuk itu seperti perbuatan Sayidina Hussin ra cucu baginda yang menentang pemerintahan Muawiyah dan Yazid ra.
Disebut demikian juga perbuatan Abdullah ibn Zubair ra yang menentang pemerintahan Yazid ra yang melakukannya berdasarkan ijtihad beliau dan ternyata ijtihadnya itu salah dan dibenci.
Sabda baginda :
" Jika seorang qadhi itu berhukum lalu berijtihad maka jika ijtihadnya itu benar maka baginya dua pahala dan jika salah maka baginya satu pahala." (Hadith Sahih disepakati Bukhari no.7352 & Muslim no. 4462).
Walaubagaimanapun sebagai berkedudukan ulama’ , golongan ilmu mereka berhak membuat ijtihad namun tidak bermakna ijtihad mereka benar lalu jika terbukti ijtihad mereka salah maka wajar kita meninggalkan mereka dan berpegang teguh di jalan para salaf soleh yang lain berada dan menjauhi perpecahan dan perbezaan serta bersatu dan menjauhi ta’adud jemaah yang berasal dari syaitan.
Ini seperti perintah Allah swt :
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (agama Islam) dan janganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara” (Ali-Imran : 102).
Sebaliknya jika yang melakukan perpecahan, perbezaan pendapat, atau menubuhkan jemaah pelbagai dalam umat Islam sambil saling berbilang pendapat sehingga membawa perpecahan itu ialah mereka yang hanya terdiri dari golongan doktor perubatan, ahli ekonomi , engineer , ustaz atau ustazah yang cuma belajar selama 4 tahun di universiti timur tengah kemudian menyambung Master 2 tahun kemudian menyambung Phd 3 tahun maka hukumnya haram mereka ini melakukan perpecahan dan perbezaan pendapat.
Mereka ini tidak layak berijtihad dengan kejahilan dan kementahan ilmu mereka sera kemudiannya berjuang di bawah system demokrasi lalu berpecah-pecah sesama umat Islam sambil mengadakan jalan tariqah mereka sendiri dalam berdakwah dan memperjuangkan Islam didasari fikrah mereka.
Sudah jadi fenomena sekarang ini di kalangan muda mudi Islam yang cintakan Islam untuk terpengaruh dengan fikrah. Si anu itu berfikrah, si anu itu tidak mempunyai fikrah, si anu itu berfikrah tidak jelas , si anu itu fikrahnya sekian dan sekian maka apakah itu fikrah ?
Fikrah ialah idea dan celakalah dan semoga dilaknat mereka yang memperjuangkan islam dengan akal dan idea kreativiti mereka atau bertaqlid menurut fikrah (idea) kreativiti tokoh mereka dalam berdakwah dan memperjuangkan Islam.
Semoga Allah melaknat mereka yang memperjuangkan islam dengan fikrah dan semoga Allah menjelekkan dan menghancurkan dan menggagalkan dakwah mereka, memecah-belahkan ikatan mereka yang memperjuangkan Islam dengan fikrah (idea).
“Dan janganlah kamu mengikut sesuatu yang kamu tidak ketahui kerana Sesungguhnya pendengaran kamu, penglihatan kamu dan hati kamu semuanya akan ditanya dan dipersoalkan." (Surah Al-Isra : 36).
“ Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu urusan baru dalam agama kami sedang ia bukan dari kami maka sesungguhnya ianya ditolak.” (Hadith sahih disepakati Bukhari 156 Jilid 8 & Muslim no.4467) .
Adapun kita para muslimin dan mukminin memperjuangkan Islam dengan menurut al-Qur’an dan sunnah dan menurut jalan serta kefahaman para salaf soleh dan jalan mereka.
Kita yang beriman dengan sunnah, mempercayai bahawa Islam sudah lengkap tanpa perlu diwarnai dan dicemari fikrah murahan manusia maka kita menyakini bahawa sudah pasti jalan perjuangan Islam dan kaedah berdakwah semuanya telah diterangkan oleh sunnah dan dijelaskan dan dibentangkan oleh para salaf soleh.
Sebagaimana dalam riwayat Abu Dzar berkata : Rasulullah salallahualaihiwasalam bersabda : “Tidaklah tertinggal sesuatu yang dapat mendekatkan ke Syurga dan menjauhkan dari Neraka kecuali telah diterangkan pada kalian.” Juga disebut oleh Abu Zar ra akan katanya “ Rasulullah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepak-ngepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau menyebutkan ilmunya pada kami.” (Hadith Sahih riwayat Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, lihat As Sahihah oleh Syeikh Albani ra 416 Jilid 4 dan hadith ini memiliki pendukung dari riwayat lain).
3) Keadaan dan waqi' (suasana) serta tempat berlakunya perbezaan pendapat dan ta'adud jemaah itu.
Setiap tempat dan keadaan itu berbeza dengan keadaan yang lain maka sebagai misalnya di sesetengah tempat hukum berta’adud jemaah mungkin bertukar dari haram kepada harus dan wajib apabila keadaan memerlukan seperti apabila berada di Iran dan Amerika syarikat misalnya.
Iaitu apabila berada di Iran di tempat aqidah mereka sesat dan menurut fahaman syiah maka adalah menjadi haram kita bersatu dan berjemaah dengan mereka maka wajib bagi umat islam di Iran yang beraqidah Ahlul sunnah untuk berpecah dan berselisih dari mereka serta bersatu dalam satu jemaah aqidah ahlul sunnah dan mengelak dari bersama syiah yang sesat dan menyeleweng itu.
Maka demikian juga mereka yang berada di Amerika adalah menjadi haram untuk mentaati pemerintah dan bersatu dengan masyarakat kuffar yang berada di sana sebaliknya hendaklah menyisih diri dan bersatu di dalam jemaah umat islam dan tidak bersatu dengan kuffar.
Adapun di Negara Umat islam seperti Malaysia maka hukumnya ialah haram berta’adud jemaah dan berpecah sehingga umat Islam lemah dan hilang kekuatan dan hilang perpaduan serta bermusuh-musuhan sesama sendiri.
“ Janganlah KAMU berselisih dan berbantah-bantah nanti akan hilang kekuatan kamu” (Surah Al-Anfaal : 46).
4) Kaedah dalam berbeza pendapat dan berselisih pandangan
Dimaksudkan keadaan dalam berbeza pendapat itu ialah ianya berlaku secara tidak diingini dan bukanlah berlaku secara kehendak. Adalah haram untuk berbeza pendapat secara suka dan kehendak dan tidaklah yang berhasrat dan suka untuk berpecah dan berbeza pendapat melainkan mereka itu ialah golongan yang zalim dan jahil.
Sekiranya terjadi berbeza pendapat itu secara tidak sengaja dan tanpa kerelaan namun kerana terpaksa seperti wujudnya keadaan berselisih di antara umat Islam yang tidak dapat dielakkan akibat hasutan dari pihak yahudi atau hasutan dari golongan munafiq maka hendaklah masing-masing segera bertaubat dan kembali kepada soff dan barisan jemaah Umat Islam serta bersatu di dalam jemaah.
“ Bersatulah kamu semua di atas tali Allah dan janganlah kamu berpecah-belah” (Ali-Imran : 103).
“ Bertaubatlah kamu semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman moga kamu mendapat kejayaan.” (An-Nur : 31).
Baginda nabi bersabda : “Hendaklah kamu berada dalam jemaah sesungguhnya tangan Allah itu berada dalam jemaah” (Riwayat Tibrani 447 /12).
Sekiranya berlaku perbezaan pendapat dan ta’adud jemaah dan ketika itu berlaku kerana tidak diingini dan dalam usaha untuk segera bersatu dan mencari jalan untuk kembali menyatukan umat Islam maka tidaklah berdosa dan dengan rahmat Allah moga dimaafkan kelemahan kita semua.
Namun sekiranya setelah diberi penerangan dan penjelasan dan di ajak untuk kembali bersatu namun pihak kumpulan jemaah tertentu itu masih enggan dan degil dan merasa suka kepada ketua mereka, merasa selesa dengan fikrah mereka, merasa benar dengan jalan mereka, merasa angkuh dengan jemaah mereka maka ketahuilah bahawa mereka telah keluar dari manhaj salaf soleh dan berada dalam dosa dan kemaksiatan kepada Allah swt.
“ Katakanlah : Mahukah kami khabarkan kepada kamu akan keadaan golongan yang hanya merugi amalan mereka ? Iaitu mereka yang sesat perbuatan mereka (jalan mereka) di dunia sedangkan dalam kesesatan itu mereka menyangka mereka sedang berbuat baik”.(Al-kahfi : 103-104).
Hukum ta'adud jemaah secara umum ialah haram
Ini disebabkan Islam itu sendiri sudah merupakan satu jemaah dan ini terbukti melalui banyak dalil dan hujah dari Al-Qur'an dan sunnah.
Allah swt berfirman :
1) “ Janganlah KAMU berselisih dan berbantah-bantah nanti akan hilang kekuatan kamu” (Surah Al-Anfaal : 46).
2) “Janganlah kamu menjadi seperti orang yang musyrikin iaitu mereka yang BERPECAH-BELAH dalam agama mereka dan setiap HIZBI (golongan, parti, jemaah) itu bergembira dengan apa yang merka punyai” (Surah Ar-Rum 31-32).
3) “ Jika Allah kehendaki nescaya dapat dia menjadikan semua manusia itu umat yang satu tetapi mereka itu (dijadikan ) berselisih kecuali ORANG YANG DIKASIHI OLEH TUHAN-MU” (Surah hud : 118).
Menurut ulama tafsir, setiap perintah dalam Al-Qur'an itu di datangkan dalam kaedah umum dan menyeluruh sekaligus membuktikan Islam ini ialah jemaah dan umum kepada semua umat Islam.
Di dalam Al- Qur’an Allah swt menyebut perkataan “ jemaah” atau se-ertinya dengan sangat banyak seperti dalam firman-Nya :
“ Bersatulah kamu semua di atas tali Allah dan janganlah kamu berpecah-belah” (Ali-Imran : 103).
“ Bertaubatlah kamu semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman moga kamu mendapat kejayaan.” (An-Nur : 31).
Sebenarnya sangat banyak ayat-ayat yang menyebut sekitar jemaah namun cukup kita mengambil dua ayat di atas sebagai contoh untuk dilakukan perbincangan. Ayat yang pertama disebut oleh para mufasir seperti Imam As-Syaukani ra dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai bermaksud perintah Allah swt supaya umat Islam bersatu dan berkumpul keseluruhannya di atas deen Islam dan melarang hamba-Nya dari berpecah belah dalam agama kerana agama itu ialah jemaah (kesatuan) .
Manakala Imam Ibn Katsir ra menambah bahawa larangan Allah swt kepada hamba-Nya supaya jangan berpecah belah ( تفرقوا) itu di awali dengan perintah jami’an (جميعا ) iaitu menyuruh manusia supaya bersatu di atas tali Allah (حبل الله) iaitu Al-Qur’an yakni Islam. (sila lihat Tafsir Al-Qur’an Azim m/s 33 Jilid 1).
Seterusnya dalam ayat yang ke dua dalam surah An-Nur ayat 31 maka Allah swt telah memerintahkan orang yang beriman supaya segera bertaubat dan di situ di gunakan kalimah jami’an ( جميعا) iaitu keseluruhan (lihat Fathul Qadir m/s 35 Jilid 4).
Mengunakan kaedah usul tafsir maka para ulama tafsir seperti Syeikh Abd Rahman Nasir As-Sa’di ra (1307-1376 H) menyebutkan bahawa Kaedah Al-Qur’an dalam memberi perintah kepada umat Islam ialah dengan mengunakan kalimah jamak iaitu (secara jemaah) keseluruhan kepada umat Islam ( lihat Qawaid Hisan Li Tafsir Qur’an m/s 26 ).
Kerana itu kita akan mendapati bahawa dalam Al-Qur’an apabila menyentuh mengenai perintah maka Allah swt kerap memulakan firman-Nya dengan uslub ( يا أيها الذين أمنوا )dan
( يا ايها الناس) iaitu di sebut untuk seluruh manusia dan Umat Islam kerana Islam itu ialah jemaah.
Oleh yang demikian, jemaah itu pengertiannya harus dilihat pada kedudukan ayat Al-Qur’an dan apabila sesuatu perintah dari Allah swt kepada umat Islam itu di sebut kalimah jemaah maka sebenarnya jemaah di situ bermaksud Islam. Kerana itu apabila Allah memerintahkan umat Islam dengan suatu kewajipan maka digunakan istilah jemaah seperti ayat di atas sebagai simbol bahawa Islam ini sebuah jemaah yang setiap arahan dari Allah swt itu tertuju kepada semua bukan hanya kepada kumpulan tertentu sahaja dan dimaksudkan supaya tidak mengadakan kumpulan baru dalam Islam kerana Islam itu sudah jemaah dan mengadakan jemaah bererti telah mengadakan kumpulan baru yang keluar dari jemaah (Islam) yang asal.
Demikianlah pengertian Al-Qur’an pada jemaah iaitu Islam itulah jemaah kerana Islam itu tidak wujud secara berpecah- pecah dan tidak boleh khilaf dalam Islam. Kerana itu jemaah dalam Al-Qur’an bukanlah bermaksud satu kumpulan haraki, terdiri dari amir dan amirah bertudung labuh dengan tanzim mereka , bukan demi Allah bukan !
Islam itu sudah jemaah ! Jemaah lain selain Islam itu itu tidak patut wujud kerana Islam itu sendiri sudah sebuah jemaah yang terdiri dari umat Islam yang beriman kepada Allah swt dan melaksanakan tanggungjawabnya sebagai muslim dengan pertunjuk Al-Qur’an dan Sunnah.
Demikianlah pegangan ulama salaf soleh yang berada di jalan kebenaran seperti sabda baginda rasul melalui riwayat Aisyah ra :
“ Sebaik-baik kurun manusia ialah kurunaku berada di dalamnya dan kemudian kurun kedua (Sahabat) dan kurun ketiga (Tabi’ien). “ (Sahih Muslim no 1965 Jilid 2, Abu Daud 44 Jilid 5).
Manakala kalimah dan pengertian jemaah berdasarkan hadith pula boleh dilihat pada riwayat yang pelbagai dari baginda rasulullah salallahualaihiwasalam yang menyebut perihal jemaah.
Seperti yang dikeluarkan oleh At- Tibrani dengan sanad yang sahih akan sabda baginda nabi salallahualaihiwasalam :
عليكم بالجماعة فان يد الله على الجماعة
“Hendaklah kamu berada dalam jemaah sesungguhnya tangan Allah itu berada dalam jemaah” (Riwayat Tibrani 447 /12).
Dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi ra , dari riwayat Ibn Abbas ra bahawa baginda pernah bersabda :
يد الله مع الجما عة
“Tangan Allah itu bersama jemaah” (Riwayat Tirmidzi m/s 367 Jilid 6).
Juga melalui riwayat yang lain di tambah dengan
فان الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد
“ Sesungguhnya Syaitan itu bersama seorang dan menjauh apabila berdua” (riwayat Ahmad dan Nasaie, Tirmidzi dan Ibn hibban dan lain-lain.)
Juga disebut melalui riwayat Umar Ibn Khattab ra menyebut bersabdanya baginda rasulullah salallahualaihiwasalam :
من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة
“Barangsiapa yang menginginkan tempat tinggal di syurga maka hendaklah berada dalam jemaah” (Hadith Sahih riwayat Tirmidzi no 2165, Ibn Majah dan Humaidi).
Juga dari riwayat Abi Dzar ra yang berkata bahawa telah bersabda rasulullah salallahualaihiwasalam :
من فا رق الجماعة شبرا فقد خلع الله ربقه ألاسلام من عنفه
“Barangsiapa yang memisahkan dirinya dari jemaah walaupun sejengkal maka Allah akan mencabut ikatan Islam dari tengkuknya” (Hadith sahih riwayat Abu Daud no. 4750).
Sebenarnya masih banyak hadith yang menyebut mengenai perihal kewajipan melazimi dan berada dalam jemaah dan larangan dari keluar atau mengasingkan diri dari jemaah. Baiklah dari sini saya mengaharapkan pembaca memahami bahawa setiap dalil hadith ini wajiblah kita imani dan di amalkan kerana ianya merupakan perintah Allah swt :
" Wahai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada rasul.." (An-Nisa :59)
Membincangkan pengertian Jemaah dari sudut hadith maka para ulama salaf soleh dan bukannya seperti para ustaz yang mengaji empat tahun yang sewenang- wenang dan mudah berdalil pada hadith-hadith bagi mewajibkan orang menyertai jemaah mereka sebaliknya para ulama salaf soleh telah menyebut bahawa maksudnya ialah Islam dan masyarakat muslim yang beriman kepada Allah.
“Katakanlah : “Rabbmu hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al A’raf : 33)
Masyarakat muslim yang beriman kepada Allah dan rasul dengan pertunjuk Al-Qur’an dan sunnah maka mereka inilah jemaah. Adapun kepimpinan dan imam itu ialah khalifah yang dilantik oleh umat Islam.
Sebagai contoh, pada hadith dari riwayat Umar Al-Khatab ra yang menyebut bahawa rasulullah salallahualaihiwasalam pernah bersabda :
عليكم بالجماعة واياكم والفرقة فان الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة
“ Hendaklah Kamu berada dalam jamaah dan jauhilah kamu dari perpecahan sesungguhnya syaitan itu bersama seorang dan menjauh apabila berdua dan barangsiapa yang menginginkan tempat tinggal di syurga maka hendaklah berada dalam jemaah” ( Hadith Sahih riwayat Tirmidzi, Ibn Majah dan Humaidi).
Imam Al-Hafidz Mubarakfuri dalam kitabnya Syarah Jami’ Tirmidzi Tuhfatul Ahwazi mensyarahkan hadith ini dengan menyebut ( عليكم بالجماعة) dalam hadith ini ialah bermaksud menetapkan diri bersama kepimpinan masyarakat Islam kerana Islam itu ialah sudah merupakan sebuah jemaah dan barangsiapa yang memisahkan dirinya dan keluar dari jemaah (masyarakat Islam) itu atau menyisihkan diri (membuat jemaah baru) maka sesungguhnya dia telah menghilangkan islam dari dirinya seperti apa yang disebut oleh hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah secara marfu dalam Sahih Muslim yang menyebut :
من خرج من الطاعة و فرقوا الجماعة فمات مات ميتة جاهلية
“ Barangsiapa yang keluar dari ketaatan kepada kepimpinan umat Islam dan memecah belahkan jemaah (masyarakat Islam) maka matinya merupakan kematian jahiliyah”
Bahkan berkata lagi Hafidz, hal ini juga disebut dalam hadith yang diriwayatkan oleh Syaikhain (Imam Bukhari dan Muslim) dari Huzaifah al-yamani ra akan hadith yang berbunyi :
تلزم جماعة المسلمين وامامهم “ Hendaklah kamu beriltizam dengan jemaah umat Islam dan kepimpinannya” dan dalam riwayat Khalid bin Sabi’ di sisi Tibrani menambah apabila kamu melihat Khalifah maka taatilah dan apabila tiada khalifah maka berperanglah ( Sila lihat Tuhfatul Ahwazi m/s 385 Jilid 6).
Menurut para ulama salaf soleh seperti apa yang diriwayatkan oleh Muhammad Ibn Sirrin dari Ibn Mas’ud ra bahawa yang dimaksudkan jemaah itu ialah para sahabat baginda dan sebahagiannya mengatakan mereka itu ialah para ulama kerana para ulama itu pewaris nabi salallahualaihiwasalam ان العلماء ورثة الأنبياء (Hadith Sahih, riwayat Tirmidzi no. 2606, Abu Daud dan Ibn Majah).
Walaubagaimanapun kesimpulan dari pegangan para salaf soleh ketika menafsirkan maksud jemaah pada waktu mereka itu berdasarkan dalil dari hadith maka mereka secara ramai menyebutnya sebagai masyarakat Islam dan kepimpinannya dan kewajipan mentaatinya. Namun tidak pernah ada sesiapa pun yang menafsirkan jemaah dalam hadith – hadith baginda sebagai melambangkan kumpulan tertentu atau gerakan tertentu begitu juga akan Al-Qur’an melainkan golongan yang jahil dan puak khawarij.
Adapun maksud kalimah jemaah dalam beberapa hadith yang lain merupakan masyarakat umat Islam yang berpegang kepada Al-Qur’an dan sunnah dengan aqidah yang sahih iaitu Ahlul sunnah wal jamaah dan ini memang wujud seperti dalam hadith yang diriwayatkan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan ra bahawa rasulullah bersabda :
الا أن من قبلكم من اهل الكتاب افترقوا على ثنتين و سبعين ملة و ان هذه الملة ستفترق على ثلاث وسبعين ثنتان وسبعون فى النار وواحد فى الجنة وهى الجماعة
“ Sesungguhnya umat terdahulu sebelum kamu dari ahli kitab telah berpecah kepada 72 golongan dan umat Islam ini kana berpecah kepada 73 golongan dan 72 golongan dalam neraka serta Cuma satu sahaja dalam syurga iaitu Al-Jamaah” (Hadith Hasan riwayat Abu Daud no. 4597 dan Ahmad, Darimi, Hakim serta Tibrani) .
Dalam hadith ini jemaah merujuk kepada masyarakat yang padanya wujud rasulullah dan para sahabat di dalamnya seperti yang dijelaskan dalam hadith lain riwayat Tirmidzi, Hakim dengan sanad Hasan. Para ulamak seterusnya mengatakan dimaksudkan dengan beradanya rasulullah dan para sahabatnya itu ialah sebagai kinayah (perumpamaan) yakni dimaksudkan ialah menuruti sunnah baginda dan mengikut jalan para salaf soleh seperti yang disampaikan oleh hadith riwayat Irbad ibn Sariyah ra yang menyebut baginda rasulullah pernah bersabda :
أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وان كان عبدا حبشيا فانه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين فتمسكوا بها و عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فان كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة
“ Aku berpesan kepada kamu supaya bertaqwalah kamu kepada Allah, dan dengar serta patuhlah kepada pemimpin walaupun dia diangkat dari hamba habsyi. Sesungguhnya sesiapa yang hidup selepas aku pasti akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpeganglah kamu pada Sunnah aku dan sunnah khulafa Ar-Rasyidin yang diberi pertunjuk selepas aku . Peganglah ia (sunnah) sesungguh-sungguhnya sehingga kalau pun kamu terpaksa mengigitnya dengan gigi geraham kamu. Dan berhati-hatilah kamu dengan perkara baru !!! Sesungguhnya setiap perkara baru (dalam agama) ialah bid’ah !!! dan setiap bid’ah itu sesat !!! (Hadith Sahih , riwayat Tirmidzi (no.2676) , Abu Daud (no. 4607) dan Ahmad (no.12561).
Manakala dalam erti kita menjelaskan makna hadith yang lain itu secara umum maka ianya bermakna keseluruhan umat Islam dan kepimpinan yang tertegak di dalamnya baik ianya merupakan kepimpinan yang baik atau pun zalim kerana berdasar pertunjuk sunnah dan perintah supaya mentaati mereka seperti yang diriwayatkan dari Auf bin Malik ra yang menyebut bahawa baginda rasulullah pernah bersabda :
“ Hendaklah sesiapa yang dibawah kepimpinan pemerintah dan dia melihat pemimpinnya melakukan maksiat maka hendaklah dibenci apa yang dilakukan oleh pemimpin itu dari maksiatnya namun jangan sekali-kali mencabut tangannya dari ketaatan kepada pemimpin itu” (Hadith Sahih, riwayat Muslim no. 1855).
Maka dalam konsep Malaysia saya dapat katakan kita umat Islam wajiblah mentaati kepimpinan yang ada walaupun kepimpinan itu melakukan maksiat dan kejahatan namun kita tidak boleh sekali-kali menubuhkan sebuah jemaah atau sebuah gerakan baru yang menyebabkan kita terkeluar dari jemaah asal iaitu Islam dan masyarakat Islam serta menyebabkan berlakuknya perpecahan di kalangan umat Islam.
Oleh yang demikian barangsiapa yang melakukan penyelewengan terhadap makna dan maksud Al-Qur’an dan sunnah dengan menyesatkan para pemuda Islam dan para wanita Islam dengan mewajibkan mereka menyertai jemaah dan kumpulan serta gerakan tertentu kononnya sebagai hukum wajib dengan mengunakan dalil- dalil dari hadith yang menyebut perkataan jemaah maka ternyata mereka telah melakukan dosa besar dan pendustaan terhadap Allah swt dan rasulnya serta umat Islam seluruhnya walaupun dia ustaz yang mengaji empat tahun di universiti !
"Katakanlah! Apakah kamu menyetahui apa-apa yang Allah telah turunkan untuk kamu daripada rezeki, kemudian dijadikan sebagian daripadanya itu, haram dan halal; katakanlah apakah Allah telah memberi izin kepadamu, ataukah memang kamu hendak berdusta atas (nama) Allah?" (Yunus: 59).
"Dan jangan kamu berani mengatakan terhadap apa yang dikatakan oleh lidah-lidah kamu dengan dusta; bahwa ini halal dan ini haram, supaya kamu berbuat dusta atas (nama) Allah, sesungguhnya orang-orang yang berani berbuat dusta atas (nama) Allah tidak akan dapat bahagia." (an-Nahl: 116)
" Apakah kamu sanggup mengatakan sesuatu perihal Allah tanpa ilmu ?" (Surah Al-Baqarah : 80).
Demikianlah peringatan kepada mereka yang mewajibkan sesuatu yang dusta dengan mewajibkan jemaah –jemaah dan mengintimakan diri dalam jemaah serta berdusta dengan kejahilan bahawa hukumnya wajib maka sesiapa yang mewajibkan jemaah –jemaah dalam masyarakat Islam yang sebenarnya hanyalah merupakan perpecahan maka dirinya telah zalim kepada Allah swt dan dirinya telah berdusta dalam agama.
Celakalah mereka yang menyalah tafsirkan hadith dan al-qur’an demi kepentingan politik mereka dan menyokong kumpulan tertentu serta menjual agama mereka demi harga yang murah.
Sedang baginda Salallahualaihiwasalam bersabda :
" Berhati-hatilah kamu terhadap apa yang disampaikan dari aku melainkan kamu mengetahuinya (akan kebenarannya) (Hadith Hasan, Riwayat Tirmidzi, Abi Syaibah dan Ahmad).
Sebenarnya menurut faham salaf soleh, mereka mengatakan bahawa Islam ini ialah sudah berjemaah dan setiap muslim yang benar aqidahnya maka mereka sesama muslim yang lain ialah bersaudara dan satu ukhuwah Islamiyah yang dinaungi oleh kalimah syahadah.
Baginda juga pernah menyebut :
“Tidak sempurna iman seseorang kamu selagimana dirinya tidak mengasihi saudaranya sepertimana mengasihi dirinya sendiri” (hadith sahih, riwayat bukhari dan Muslim).
Jemaah itu ialah Islam dan sesiapa yang sudah muslim baik di kutub utara dan kutub selatan maka secara rasminya dia merupakan sejemaah dengan kita di Malaysia ini iaitu jemaah Islam.
Namun perkembangan realiti dunia Islam yang semakin hari umat Islam sudah meninggalkan Islam maka demikian juga dalam bidang agama lantaran lahir kejahilan dan kedunguan maka fenomena jemaah begitu pesat berkembangan dan wujud di merata-rata.
Ramai umat Islam mula tertarik kepada puak-puak atau golongan tertentu dalam masyarakat dan kelompok-kelompok tertentu dalam Islam.
“Dan janganlah kamu mengikut sesuatu yang kamu tidak ketahui kerana Sesungguhnya pendengaran kamu, penglihatan kamu dan hati kamu semuanya akan ditanya dan dipersoalkan." (Surah Al-Isra : 36).
Setiap umat Islam merasa selamat dan selesa dengan jemaah masing-masing konon beralasan atas kesamaan fikrah (idea) dan kesamaan pendapat dalam agama Islam yang mereka punyai berdasar akal mereka.
Kumpulan A :
Mereka memahami Islam dengan fahaman mereka lalu menafsirkan Islam dengan tafsiran mereka lalu berdakwah dan menjalankan amal Islam dengan kefahaman mereka lalu menubuhkan jemaah mereka , menamakan kumpulan mereka, hidup sebagai Islam menurut pandangan fikrah mereka, lalu bergerak berharakah di atas kefahaman mereka .
Mereka ini Islam tetapi mereka membeza-bezakan umat Islam yang lain dengan jemaah mereka. Ahli jemaah mereka ialah saudara mereka manakala umat Islam yang bukan ahli jemaah mereka bukanlah saudara mereka dan bukan mendapat perihatian sangat dalam kehidupan mereka.
Mereka berjuang di atas fikrah yang mereka dokong dan mentaati kepimpinan yang dilantik oleh mereka berdasar fahaman mereka.
“ Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu urusan baru dalam agama kami sedang ia bukan dari kami maka sesungguhnya ianya ditolak.” (Hadith sahih disepakati Bukhari 156 Jilid 8 & Muslim no.4467) .
Ubay bin Ka'ab berkata : 'Sesungguhnya sederhana di jalan ini dan (di atas) sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh tetapi dalam menentang jalan ini dan bercanggah dengan sunnah. Maka lihatlah amalan kalian jika dalam keadaan bersungguh-sungguh atau sederhana hendaknya di atas manhaj (cara pemahaman dan pengamalan) para Nabi dan sunnah mereka.'
Kumpulan B :
Mereka seperti kumpulan di atas cumanya kefahaman mereka terhadap Islam berbeza dengan kefahaman kumpulan A dan kaedah mereka berdakwah, kaedah mereka menjalankan syariat tidak sama dan berbeza uslub dengan kumupulan A.
Mereka mempunyai kepimpinan mereka sendiri, mempunyai kaedah, uslub mereka sendiri yang dibangunkan berdasarkan kefahaman mereka kepada Islam.
Demikianlah sehingga wujud kumpulan C, D dan E serta sehinggalah ke Z seperti firman Allah swt :
“ Jika Allah kehendaki nescaya dapat Dia menjadikan semua manusia itu umat yang satu tetapi mereka itu (dijadikan ) berselisih kecuali ORANG YANG DIKASIHI OLEH TUHAN-MU” (Surah hud : 118).
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah bercerai-berai dan berselisihan (dalam agama mereka) sesudah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas nyata (yang dibawa oleh Nabi-nabi Allah), Dan mereka yang bersifat demikian, akan beroleh azab seksa yang besar.” [‘Ali Imran 3:102-105].
Dalam hadith baginda pernah bersabda :
'Amal yang paling dicintai Allah adalah yang istiqamah (terus-menerus) walau sedikit'." (HR. Bukhari 1/109 dan Muslim nombor 782) [Ilmu Ushulil Bida', Syaikh Ali Hasan halaman 55-56]. Seorang Alim Ahli Al Qur'an, Muhammad Amin Asy Syinqithi berkata dalam Adlwa'ul Bayan 1/494 : "Para ulama telah menyatakan bahwa kebenaran itu berada di antara sikap melampaui batas dan sikap meremehkan.
Dan itu adalah makna ucapan Mutharrif bin Abdullah :”Sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah. Kebaikan itu terletak antara dua kejelekan”.
Dan dengan itu, kamu tahu bahwa orang yang berhasil menjauhi kedua sifat itu telah mendapat hidayah." Ucapan Syaikh Ali Hasan dalam buku Dhawabith Al Amr bil Ma'ruf wan Nahyi 'Anil Munkar 'inda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah halaman 9.
Sedangkan imam Az-zahabi ra pernah menyebut " Apabila seorang ahli kalam (ahli akal) berkata jauhkan kami dari al-qur'an dan sunnah dan biarkan kami mengunakan akal" maka ketahuilah dia itu ialah Abu Jahal !! Dan jika datang kepada-Mu seorang Ahli sufi berkata " tinggalkan dalil zahir dan nash dan pakailah zauq, khusyuk dan wajd (suara hati) maka ketahuilah dia itu sesungguhnya ialah iblis dalam rupa manusia." (lihat dalam siyar alam nubala' m/s 472 Jilid 4).
Kesimpulan
Dalam masalah ta'adud jemaah ini hendaklah kita menjauhi perpecahan dan bersatu di atas tali Allah iaitu Al-Qur'an dan Sunnah. Janganlah kita berpecah dan berselisih sesama umat Islam sebaliknya di atas ukhuwah agama dan pertalian saudara berasaskan tauhid itu hendaklah kita berkerjasama menegakkan Islam berdasar sunnah rasulullah dan jalan para sahabat salaf soleh.
“ Bersatulah kamu semua di atas tali Allah dan janganlah kamu berpecah-belah” (Ali-Imran : 103).
Yakinilah bahawa sesungguhnya tidaklah para rasul dan nabi itu diwafatkan melainkan telah menyampaikan amanah dakwah kepada umatnya maka demikianlah juga dengan rasul kita Muhammad salallahualaihiwasalam yang telah menyampaikan segala risalah dakwah dan ajaran Islam tanpa tertinggal dan di antaranya telah dijelaskan kepada kita cara berjuang menegakkan Islam tanpa perlu kita mencedoknya dari fikrah manusia atau mengambilnya dari barat.
Sebagaimana dalam riwayat Abu Dzar berkata : Rasulullah salallahualaihiwasalam bersabda : “Tidaklah tertinggal sesuatu yang dapat mendekatkan ke Syurga dan menjauhkan dari Neraka kecuali telah diterangkan pada kalian.” Juga disebut oleh Abu Zar ra akan katanya “ Rasulullah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepak-ngepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau menyebutkan ilmunya pada kami.” (Hadith Sahih riwayat Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, lihat As Sahihah oleh Syeikh Albani ra 416 Jilid 4 dan hadith ini memiliki pendukung dari riwayat lain).
Seandainya wujud khilaf dan perselisihan maka hendaklah kita semua kembali kepada al-Qur'an dan sunnah sebagaimana perintah Allah swt supaya kita dapat bersatu.
"Maka jika kamu berselisih dalam sesuatu hal maka kembalilah pada Allah (Al-quran) dan rasul (As-sunnah)…" ( Surah An-Nisa' : 59).
Maka demikianlah kefahaman yang sebenar yang perlu difahami bahawa kesatuan dan perpaduan itu wajib dan harus diusahakan oleh setiap mereka yang mengaku beriman kepada Allah swt dan rasul. Maka sesungguhnya kefahaman yang benar itu ialah yang berdasar kehendak Allah swt dan di atas pertunjuk rasul-Nya.
" Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan baginya Maka Allah akan memberikannya kefahaman dalam urusan agama." (hadith Sahih, Muttafaqun Alaih –Disepakati oleh Bukhari no. 3116 & Muslim no. 1037)
Sebagai peringatan juga hendaklah kita mengawasi kumpulan-kumpulan pelampau dalam agama yang bergerak dan berjuang Islam dengan kejahilan sehingga lebih menimbulkan fitnah dari kebaikan.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang memperingatkan agar berhati-hati dari orang-orang khawarij dimana beliau telah menyebutkan tanda-tandanya kepada para sahabat dengan sabdanya : “Bacaan (Al Qur’an) kalian tidak dapat mengimbangi bacaan (Al Qur’an) mereka sedikitpun. Shalat kamu tidak dapat menandingi shalat mereka sedikitpun. Mereka membaca Al Qur’an dan menyangka bahwa Al Qur’an itu dalil bagi mereka padahal hujjah atas mereka. Makna shalat mereka tidak melewati tenggorokan mereka dan mereka keluar dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya.” Dalam riwayat lain : “Sesungguhnya jika aku mendapati mereka, aku akan bunuh mereka seperti membunuh kaum Tsamud.” (Hadith sahih riwayat Muslim)
Para ulama menyebut Orang yang dikasihi oleh Allah itu ialah orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada pertunjuk sunnah dan bersatu di atas Al-Qur'an dan Sunnah dan tidak menyertai perpecahan dan menjauhi perbezaan dan perselisihan.
Sabda baginda juga :
"Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang muda-muda umurnya. Pendek akalnya. Mereka mengatakan ucapan sebaik-baik manusia. Mereka membaca Al Qur'an tapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka lepas dari agama seperti lepasnya anak panah dari buruannya." (HR. Bukhari nombor 3611 dan Muslim nombor 1066).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan: “Menganjurkan manusia agar berpegang dan mengikuti As Sunnah serta mencegah jangan sampai bid’ah muncul dan tersebar adalah amar ma’ruf nahi munkar. Bahkan ini merupakan amalan saleh yang paling mulia, sehingga seharusnya betul-betul dijalankan dengan penuh keikhlasan mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala.” (Minhajus Sunnah, 5/253).
Demikianlah dakwah Islam ditegakkan di atas ilmu dan kefahaman yang mendalam, bukan kerana suka-suka, bukan kerana budaya sebaliknya kerana tanggungjawab agama yang mesti dipikull dengan panduan agama.
Di perjalanan, orang-orang Khawarij bertemu dengan Abdullah bin Khabbab maka mereka berkata : "Apakah engkau pernah mendengar dari ayahmu sebuah hadits yang dia dengar dari Rasulullah?" Dia menjawab : "Ya, aku mendengar ayahku berkata : 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berbicara tentang zaman fitnah. Orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri dan orang yang berjalan lebih baik daripada yang mereka yang berlari. Maka jika engkau mendapati masa seperti itu, jadilah engkau seorang hamba Allah yang terbunuh'." (HR. Ahmad 5/110, Ath Thibrani nombor 3630, dan hadits ini memiliki beberapa syawahid).
“Janganlah kamu menjadi seperti orang yang musyrikin iaitu mereka yang BERPECAH-BELAH dalam agama mereka dan setiap HIZBI (golongan, parti, jemaah) itu bergembira dengan apa yang merka punyai” (Surah Ar-Rum 31-32).
P/S :
Artikel ini merupakan kumpulan tulisan lama saya khasnya sewaktu fenomena hangat tentang jemaah ini berpusar di kampus lalu kemungkinan pembaca akan mendapati saya sedikit keras sewaktu itu.
Buat makluman semua, saya dan rakan-rakan dicela dan dicemuh kerana keluar dari sebuah jemaah dengan tuduhan yang sangat dahsyat dari mereka yang ta'asub dan jahil terhadap jemaah mereka.
Mereka mewajibkan jemaah mereka kepada orang lain dan doktrin ini diterapkan kepada ahli sehingga merasakan berdosa keluar dari jemaah mereka dan juga merasakan berdosa tidak memasukkan orang dalam jemaah mereka dan juga merasa berdosa orang yang tidak berfaham dengan "fikrah" mereka.
Inilah bid'ah yang besar dan dosa dan kerana itu artikel ini sedikit emosi dan keras namun kata orang tua-tua masa berlalu dan angin tiung menjadi bayu, batu pejal menjadi lembut maka inikan pula hati manusia.
Memahami hukum jemaah hendaklah secara khusus dinilai dengan hati-hati dan ianya perlu difahami dengan mendalam. Misalnya saya tidak menyalahkan sesiapa yang masuk dan menyertai PAS dan tentulah salah dan silap apabila seseorang menghukum bahawa menyertai Pas ialah haram, wajib atau berdosa atau harus sebaliknya hukum itu jatuh pada perbuatan yang khusus dan akibat yang khusus demikian juga pada UMNO atau ABim atau JIm atau mana-mana parti atau kumpulan.
Tetapi apakah ada ulama yang mahu mengatakan "tidak apa" apabila seorang pelajar universiti yang mentah jahil akan Al-Qur'an dan sunnah tetapi dalam usrah dan ceramahnya mewajibkan orang menyertai jemaah mereka dengan mengunakan dua tiga potong ayat Al-Qur'an dan dua tiga patah hadith ?
Mereka sewenang-wenang mewajibkan hukum jemaah yang ditubuhkan oleh mereka kepada orang ramai dengan mengunakan akal mereka dan mentafsir ayat Al-Qur'an dua tiga patah dengan akal mereka dan hanya bermodalkan buku-buku Fathi Yakan dan lain-lain sebagai bahan bacaan dan hujah mereka lalu apakah boleh berdiam diri dengan mereka ini ?
Jangan berdusta mengaku tidak ada fenomena ini, bahkan di universiti di Malaysia serta di seluruh universiti fenomena ini wujud dan mereka mewajibkan orang dengan jemaah dan fikrah fahaman mereka. Maka ini yang harus di tentang dan saya menentang fenomena ini dengan semampu saya.
Wallahualam
Ta'adud jemaah itu berasal dari perkataan "adad" iaitu bilangan dan kiraan dalam bahasa Arab manakala perkataan jamaah itu bermaksud kumpulan, himpun atau kumpul. (lihat Lisan Arab oleh Ibn Manzur ra m/s 118 Jilid 6).
Perkataan ini disebut dalam firman Allah swt :
“Sesungguhnya Dia (Allah) telah menghitung mereka dan mengira dengan sebaik-baik kiraan” (Maryam: 94).
Iaitu menyamakan maksud احص (kiraan) dengan عدد (bilangan) pada ayat di atas dengan menyebut penghitungan Allah itu ialah sebagai sebaik-baik hitungan dan bilangan.
Pengertian ta'adud jemaah yang menjadi fokus kita pada kali ini ialah yang membawa kepada pengertian "berbilang jemaah" . Dimaksudkan dengan ta’adud jemaah itu ialah kewujudan jemaah yang banyak sehingga dapat dibilang dan dikira.
Berbilang jemaah bermaksud satu keadaan di mana wujudnya pelbagai kumpulan dan jemaah dalam satu masa dan tempat.
Apakah hukumnya berbilang jemaah di Malaysia ?
Membincangkan soal berbilang jemaah ini ialah satu isu sensitif dan saya akan sekali lagi terkena tempias dari mereka yang buta hati dan perut yang tidak mahu menggunakan akal dan kecerdikan untuk meneliti al-qur'an dan sunnah sebaliknya hanya bertaqlid buta lalu memburukkan sesiapa yang tidak sependapat dengannya.
Namun kerana permintaan untuk menjelaskan perihal ta'adud jemaah ini datangnya dari sahabat lama maka ana mustahil dapat menolak. Permasalahan ta'adud jemaah ini mesti dilihat dari beberapa aspek.
1) Kedudukan perkara yang diperselisihkan dan diperbezakan sehingga mengundang wujudnya perpecahan dan berbilang pandangan dan pendapat lalu masing-masing kumupulan duduk dan menetap dengan kumpulan mereka dan pendapat mereka. Lalu terjadilah ta'adud jemaah pada pendapat tertentu.
Permasalahan ta’adud jemaah atau perbezaan pendapat sering berlaku sejak zaman-berzaman dari era para sahabat iaitu ketika awal kemunculan Islam sehinggalah ke hari kiamat. Ini bahkan disebut sebagai ujian dan fitrah yang Allah berikan kepada hamba-Nya kecuali mereka yang terselamat dengan berpegang teguh kepada panduan-Nya sahaja akan terpelihara dari perbezaan dan perpecahan.
“ Jika Allah kehendaki nescaya dapat Dia menjadikan semua manusia itu umat yang satu tetapi mereka itu (dijadikan ) berselisih kecuali ORANG YANG DIKASIHI OLEH TUHAN-MU” (Surah hud : 118).
Golongan yang dikasihi ilaha golongan yang beriman yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah dan tetap di atas kesabaran dan tidak menurut akal serta hawa nafsu dalam tindakan dan amalan mereka.
Sekalipun wujud perbezaan pendapat dan ta’adud jemaah sejak zaman berzaman namun apa yang pasti keadaanya tidaklah seperti yang kita sangkakan.
Iaitu tidaklah benar ianya dibolehkan, sebaliknya sejak zaman para sahabat ta’adud jemaah ini hanyalah berlaku di antara kumulan yang benar dan kumupulan yang salah bukan bermakna semua yang berbeza pendapat itu semuanya benar. Sebaliknya ada yang benar dan salah.
Berkata Ibn Qasim ra “ Aku mendengar dari Malik (imam malik) dan dari Laits mereka bercakap perihal perbezaan pendapat dikalangan sahabat rasulullah salallahualaihiwasalam bukanlah seperti apa yang diperkatakan oleh orang awam iaitu sebagai rahmat sebaliknya mereka (Imam malik dan Imam Laits) menyebut pada perbezaan pendapat dikalangan sahabat itu wujud benar dan salah !!
Berkata Asyhab :
“ Berkata malik (imam Malik) Demi Allah kebenaran itu hanyalah satu dan perkataan dua orang yang berselisih itu bagaimana mungkin wujud sahih kedua-duanya ? Tiadalah benar dan sahih melainkan satu !!!
Pernah Umar Al-Khattab ra memarahi Ibn mas’ud dan Ubai ibn ka’ab lantaran berbeza pendapat dalam masalah solat dengan memakai pakaian yang hanya satu sahaja.
(Sila lihat dalam “Al-Madhkal Fiqhiyah” oleh Ustaz Dr. Al-Zarqa).
Perbezaan pendapat itu hukumnya dilihat kepada perkara yang diperbezakan :
- Jika perbezaan pendapat itu dan wujud kelompok jemaah berbilang dalam masalah aqidah dan iktiqad kepercayaan maka hukumnya ialah haram.
Ini berdasarkan firman Allah swt :
“Janganlah kamu menjadi seperti orang yang musyrikin iaitu mereka yang BERPECAH-BELAH dalam agama mereka dan setiap HIZBI (golongan, parti, jemaah) itu bergembira dengan apa yang merka punyai” (Surah Ar-Rum 31-32).
“ Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah bercerai-berai dan berselisihan (dalam agama mereka) sesudah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas nyata (yang dibawa oleh Nabi-nabi Allah), Dan mereka yang bersifat demikian, akan beroleh azab seksa yang besar” [‘Ali Imran:103-105] .
Permasalahan perbezaan kumpulan dan kewujudan perbezaan dan berbilang kumpulan dalam aqidah ini ialah seperti apa yang berlaku dalam umat islam apabila wujud kelompok Ahlul sunnah, syiah, khawarij, Asyairah, muktazilah, qadariyah, jabariyah dan semuanya adalah sesat kecuali satu.
Dalam hadith baginda yang diriwayatkan oleh Ibn Umar ra yang bermaksud “ Akan datang kepada umatku perkara seperti yang pernah menimpa kaum bani Israel , selangkah demi selangkah sehingga akan berlaku dikalangan mereka yang berzina dengan ibunya secara terang-terangan. Sehingga ada umatku akan melakukan sedemikian. Sesungguhnya umat bani Israel berpecah kepada 72 golongan dan akan berpecah umatku kepada 73 golongan dan kesemuanya di neraka kecuali satu golongan.
Maka bertanyalah para sahabat ra kepada baginda akan siapakah golongan yang satu itu wahai rasulullah ? Maka jawab baginda “ Golongan yang aku berada di dalamnya dan para sahabatku .” (Hadith Hasan, riwayat Tirmidzi no.26 Jilid 5, Hakim no.218 Jilid 1).
Iaitu jalan serta manhaj yang beradanya nabi dan para sahabatnya iaitu jalan salaf soleh dalam iktiqad (kepercayan) serta aqidah mereka itulah yang benar iaitu aqidah salaf manakala selainnya sesat dan ditolak. Aqidah salaf itu ialah apa yang disebut sebagai aqidah yang dipegang oleh rasulullah, para sahabat dan tabien sejak awal sehinggalah kurun ke tiga.
Manakala aqidah asya’irah yang dibawa oleh Imam Abu Hasan Al-Asya’ari yang lahir pada 260 Hijrah itu bukanlah aqidah salaf dan ianya temasuk aqidah baru yang direka hasil ijtihadnya dengan pengaruh muktazilah di dalamnya dan ternyata ianya sesat dan salah dan Imam Abu Hasan Al-Asya’ari sendiri sebelum wafatnya pada 324 Hijrah telah bertaubat dan menulis sebuah kitab berjudul “ Al-Ibanah Fi Usul Ad-Diyanah” sebagai menolak kembali segala fahamannya dan menolak usul aqidah asya’irah yang dinisbahkan kepadanya serta menyatakan ruju (kembali) taubatnya kemballi kepada aqidah salaf dan menurut jalan salaf soleh dan jalan Imam terdahulu seperti Imam Ahmad Ibn Hambal ra yang dikenali sebagai imam Ahlul Sunnah Wal Jamaah.
Nabi Salallahualaihiwasalam bersabda melalui riwayat Aisyah ra : " Sebaik-baik kurun manusia ialah kurun aku berada di dalamnya dan kemudian kurun kedua (Sahabat) dan kurun ketiga (Tabi'ien)” (Hadith Sahih, riwayat Muslim no.1965 Jilid 2, Abu Daud no. 44 Jilid 50).
- Jika perbezaan pendapat itu dalam masalah fiqh dan kefahaman dalam feqah hasil ijtihad para ulama dengan masing-masing berusaha memahami dalil dan hujah setekun mungkin namun tetap berselisih pendapat maka hukumnya ialah harus dan setiap kumpulan itu berusaha bersatu dengan mentarjihkan (mencari ketepatan) dalam pandangan masing-masing sehingga mampu sampai ke titik pertemuan yang membawa kebenaran kerana kebenaran itu hanyalah satu.
Ini dibuktikan oleh sikap para fuqaha dan Imam ummah dalam berbeza pendapat dengan mengutamakan hujah dan dalil dan jika diteliti dengan penguasaan ilmu dan hujah semua orang mampu bersatu di atas kefahaman yang sama dan beramal dengan tidak jauh beza jika diutamakan kebenaran dan beramal berdasar ilmu bukan hanya taqlid buta.
Pernah sekali Malik bin Anas ditanya adakah perlu membasuh jari-jari kaki ketika berwudhu’. Beliau menjawab “Itu tidak perlu”. Setelah berakhirnya majlis kuliah tersebut, seorang anak murid Malik, bernama Ibn Wahhab berkata “Aku mengetahui akan suatu hadis berkenaan soalan tadi.”
Bertanya Malik: “Hadis apakah itu ?”
Ibn Wahhab berkata: “Laits ibn Sa‘ad, Ibn Luhai‘ah dan ‘Amr bin al-Harits meriwayatkan dari jalan Yazid bin ‘Amr, dari Mustawrid bin Shaddad; di mana mereka telah berkata: ‘Kami melihat Rasulullah menggosok antara jari-jari kakinya ketika berwudhu dengan anak jarinya’.”
Berkata Malik: “Riwayat ini adalah sahih. Aku tidak pernah mendengarnya hingga seketika tadi.”
Ibn Wahhab seterusnya menerangkan bahawa Malik kemudian mengajar orang ramai untuk menggosok jari-jari kaki mereka apabila berwudhu’
(Riwayat Ibn Abi Hatim di dalam kitabnya – al-Jarh wa al-Ta’dil, ms. 31-32(The Prophet’s Prayer Described, ms. xi ).
Imam Ahmad Ibn Hanbal ra juga turut menyebut :
" Janganlah kamu bertaqlid kepada aku, janganlah bertaqlid kepada Imam Malik, janganlah kamu bertaqlid kepada Imam Syafi'ie dan jangan kepada Imam Al-Auza'ie dan jangan juga kepada Imam As-Sau'ri, tetapi ambillah hujah dari mana sumber yang mereka ambil…". Sila rujuk Ibn Qayyim dalam kitabnya "Al-I'lam" m/s 302 Jilid 2.
Para ulama ummah cukup melarang sikap ta’asub dan ta’adud jemaah dan kumpulan dalam pendapat fiqh kerana ianya memecah belahkan umat Islam dan ini terbukti dalam suasana hari ini.
Suasana taksub bermazhab yang paling jelas ialah apabila jemaah yang melaksanakan solat fardhu dibahagikan kepada 4 kumpulan di Masjid al-Haram menurut mazhab masing-masing. Perkara ini berlaku sebelum tahun 1342H/1924M. Lebih menyedihkan, suasana begini berlaku di hadapan Ka’bah padahal Ka’bah itu sendiri merupakan binaan yang mengisyaratkan persatuan umat Islam.
Adapun hadith yang mengatakan " Ikhtilaf pada umat ku itu rahmat" ialah hadith palsu dan bohong serta dusta !!!
Berkata Abu Muhammad ibnu Hazm : “Adapun hadits yang telah disebutkan “Perselisihan umatku adalah rahmat” adalah kebatilan dan kedustaan yang bermuara dari orang yang fasik.” (Al Ahkam fi Ushulil Ahkam 5/61).
Al Qoshimy mengomentari (sanad dan matan) hadits ini, dalam kitab Mahasinut Ta’wil 4/928 : “Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa hadits ini tidak dikenal kesahihan sanadnya. At Tibrani dan Al Baihaqy meriwayatkannya di dalam kitab Al Madkhol dengan sanad yang lemah dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’.
- Jika berbeza pendapat dalam masalah politik dan siyasah maka hukumnya ialah haram jika membawa kemudharatan dan halal jika membawa kemanfaatan dan dibuat demi maslahat.
Permbezaan dan ta’adud jemaah dalam politik jika ianya memecah belahkan kesatuan umat Islam, menyebabkan umat Islam saling bermusuhan di antara satu sama lain seperti sekarang maka hukumnya ialah haram ini kerana :
“ Janganlah KAMU berselisih dan berbantah-bantah nanti akan hilang kekuatan kamu” (Surah Al-Anfaal : 46).
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (agama Islam) dan janganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara” (Ali – Imran :102).
Persoalan politik ini isu sensitif tetapi menjaga sunnah dan mentaati perintah rasulullah itu wajib. Maka dalam menajga perpaduan umat Islam baginda rasulullah pernah berpesan kepada kita semua dengan sabda-Nya :
“ Aku berpesan kepada kamu supaya bertaqwalah kamu kepada Allah, dan dengar serta patuhlah kepada pemimpin walaupun dia diangkat dari hamba habsyi. Sesungguhnya sesiapa yang hidup selepas aku pasti akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpeganglah kamu pada Sunnah aku dan sunnah khulafa Ar-Rasyidin yang diberi pertunjuk selepas aku . Peganglah ia (sunnah) sesungguh-sungguhnya sehingga kalau pun kamu terpaksa mengigitnya dengan gigi geraham kamu. Dan berhati-hatilah kamu dengan perkara baru !!! Sesungguhnya setiap perkara baru (dalam agama) ialah bid’ah !!! dan setiap bid’ah itu sesat !!! (Hadith Sahih , riwayat Tirmidzi (no.2676) , Abu Daud (no. 4607) dan Ahmad (no.12561).
Al Hafidz Ibnu Katsir rohimahullah berkata : “Allah telah memerintahkan kepada mereka (umat Islam) untuk bersatu dan melarang mereka dari perpecahan. Dalam banyak hadits juga terdapat larangan dari perpecahan dan perintah untuk bersatu dan berkumpul (di atas kebenaran).” (Tafsir Ibnu Katsir 1/367).
Diriwayatkan dari Auf bin Malik ra yang rasulullah salallahualaihiwasalam bersabda :
“ Hendaklah sesiapa yang dibawah kepimpinan pemerintah dan dia melihat pemimpinnya melakukan maksiat maka hendaklah dibenci apa yang dilakukan oleh pemimpin itu dari maksiatnya namun jangan sekali-kali mencabut tangannya dari ketaatan kepada pemimpin itu” (Hadith Sahih, riwayat Muslim no. 1855).
Imam Ahmad ra menyebutkan beberapa hal yang antara lain : " Mendengar dan taat kepada para imam dan amirul mukminin (pemimpin kaum mukminin), baik yang shalih (adil) mahupun yang fajir (dhalim), dan taat kepada khalifah yang desepakati dan diridhai oleh kaum mukminin.
Jihad bersama mereka (yang adil mahupun yang zalim) secara terus menerus hingga hari kiamat, mengadakan pembagian harta fa'i (harta rampasan yang diperoleh tanpa melakukan perlawanan), juga terus menerus menjalankan hukum had. Tidak boleh bagi siapapun untuk mencela dan menyelisihi mereka, mengerjakan shalat Jum'at di belakang mereka dua raka'at. Barangsiapa yang mengulangi shalatnya, maka dia adalah mubtadi' (ahli bid'ah) yang meninggalkan atsar, menyelisihi sunnah dan tidak mendapat keutamaan Jum'at sedikitpun.
Barangsiapa yang memberontak kepada Imam kaum muslimin yang telah disepakati atau dan diakui kekhilafahannya, maka sungguh dia telah memecahkan tunggak kaum muslimin dan telah menyalahi atsar-atsar yang datang dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Apabila ia mati ketika melakukan hal itu, dia mati secara jahiliyyah. Dan tidak halal (diharamkan) bagi siapapun untuk memerangi sultan dan memberontaknya. Barangsiap yang berbuat demikian, dia adalah mubtadi' yang tidak berjalan di atas sunnah dan tidak pula berjalan di atas jalan yang lurus." (Syarah Ushul I'tiqad 1/160-161).
Abu Muhammad Abdur Rahman bin Abi Hatim Ar-Razy berkata : "Saya bertanya kepada bapakku dan Abu Zur'ah tentang madzab Ahlus Sunnah dalam Ushuluddin dan apa yang beliau berdua yakini dalam hal ini (politik dan pemerintahan) . Maka beliau berdua berkata : "Kami menjumpai para ulama di seluruh penjuru negeri, di Hijaz, Irak, Syam dan Yaman beri'tiqad. Kemudian beliau berdua menyebutkan beberapa hal antara lain : dan kita menegakkan jihad dan haji bersama imam-imam kaum muslimin di sepanjang zaman.
Kita tidak memberontak dan tidak pula memerangi mereka karena dikhawatirkan fitnah. Kita mendengar dan taat kepada Wilayatul Umur. Demikian pula kita tidak mencabut ketaatan dari mereka. Kita ittiba' kepada sunnah dan bersatu dalam jamaah dan menjauhi persengketaan dan perpecahan. Jihad bersama mereka tetap berjalan sejak diutusnya Nabi kita shalallahu 'alaihi wa sallam sampai hari kiamat kelak, dan tidak ada sesuatupun yang membatalkannya dan begitu juga haji." (Syarah Ushul I'tiqad 1/176-180).
Sesungguhnya mazhab Ahlul sunnah Wal Jamaah Dalam masalah kepimpinan dan pemerintahan ialah meletakkan soal pemerintahan termasuk perkara dasar. Hal ini boleh dilihat dalam kitab fathul Bari dalam musnad Ahmad dll sunan mengenai peristiwa kewafatan Nabi saw.
Para sahabat mengutamakan perlantikan Khalifah penganti nabi saw mendahului urusan jenazah baginda nabi saw sebagai tanda IJMAK SAHABAT bahawa soal pemerintahan termasuk perkara dasar BUKAN FURU'
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, dia berkata : Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Wajib atasmu untuk mendengar dan taat (kepada sulthan) dalam kesulitan dan kemudahanmu, dalam perkara yang menyenangkan dan yang kamu benci, dan tidak kamu sukai." (HR. Muslim 3/1467).
Dari Wail bin Hujr radhiallahu 'anhu, dia berkata :
Salamah bin Yazid Al-Ju'ti pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam : "Wahai Rasulullah, kalau kita diperintah oleh sultan yang meminta haknya, tetapi tidak mahu menunaikan hak kami, apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam berpaling darinya. Kemudian Salamah bertanya lagi dan Rasulullah berpaling lagi. Kemudian Salamah bertanya lagi untuk yang ketiga kalinya, maka ia ditarik oleh Al-Asy'ats bin Qais. Maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Dengar dan taatlah kalian, karena mereka akan memikul dosa-dosa mereka dan kalian juga akan memikul dosa-dosa kalian (sendiri)." (Muslim 3/1474).
Sabda baginda :
"Dengar dan taatilah (Umara), sekalipun budak Habasyi yang juling matanya." Dan dalam riwayat Bukhari : "sekalipun diperintah oleh budak Habasyi yang panjang dan lebat rambut kepalanya." (HR. Muslim 3/1467 dan Bukhari 1/30).
“ Katakanlah (hai Muhammad): "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah ke jalan Allah dengan bashirah (petunjuk dan ilmu), maha suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik." (Yusuf: 108).
2) Siapakah yang melakukan perbuatan berbilang pendapat dan kumpulan ini
Melihat kepada golongan yang melakukan perbuatan ta’adud jemaah ini juga satu keperluan walaupun sebenarnya ianya tidak menjejaskan penetapan hukum. Namun kita dapat menilai kebenaran perbuatan ini apakah ianya dibenarkan atau tidak berdasarkan keadaan pelakunya.
Pertama jika yang melakukan perbezaan pendapat ini merupakan sahabat nabi salallahualaihiwasalam dan mereka melakukannya menurut panduan atau wasiat khas dari nabi maka tidaklah kita mempunyai pilihan dalam masalah ini melainkan tidak menjadikan hujah untuk kita turut sama melakukannya kerana mereka mendapat arahan khas untuk itu seperti perbuatan Sayidina Hussin ra cucu baginda yang menentang pemerintahan Muawiyah dan Yazid ra.
Disebut demikian juga perbuatan Abdullah ibn Zubair ra yang menentang pemerintahan Yazid ra yang melakukannya berdasarkan ijtihad beliau dan ternyata ijtihadnya itu salah dan dibenci.
Sabda baginda :
" Jika seorang qadhi itu berhukum lalu berijtihad maka jika ijtihadnya itu benar maka baginya dua pahala dan jika salah maka baginya satu pahala." (Hadith Sahih disepakati Bukhari no.7352 & Muslim no. 4462).
Walaubagaimanapun sebagai berkedudukan ulama’ , golongan ilmu mereka berhak membuat ijtihad namun tidak bermakna ijtihad mereka benar lalu jika terbukti ijtihad mereka salah maka wajar kita meninggalkan mereka dan berpegang teguh di jalan para salaf soleh yang lain berada dan menjauhi perpecahan dan perbezaan serta bersatu dan menjauhi ta’adud jemaah yang berasal dari syaitan.
Ini seperti perintah Allah swt :
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (agama Islam) dan janganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara” (Ali-Imran : 102).
Sebaliknya jika yang melakukan perpecahan, perbezaan pendapat, atau menubuhkan jemaah pelbagai dalam umat Islam sambil saling berbilang pendapat sehingga membawa perpecahan itu ialah mereka yang hanya terdiri dari golongan doktor perubatan, ahli ekonomi , engineer , ustaz atau ustazah yang cuma belajar selama 4 tahun di universiti timur tengah kemudian menyambung Master 2 tahun kemudian menyambung Phd 3 tahun maka hukumnya haram mereka ini melakukan perpecahan dan perbezaan pendapat.
Mereka ini tidak layak berijtihad dengan kejahilan dan kementahan ilmu mereka sera kemudiannya berjuang di bawah system demokrasi lalu berpecah-pecah sesama umat Islam sambil mengadakan jalan tariqah mereka sendiri dalam berdakwah dan memperjuangkan Islam didasari fikrah mereka.
Sudah jadi fenomena sekarang ini di kalangan muda mudi Islam yang cintakan Islam untuk terpengaruh dengan fikrah. Si anu itu berfikrah, si anu itu tidak mempunyai fikrah, si anu itu berfikrah tidak jelas , si anu itu fikrahnya sekian dan sekian maka apakah itu fikrah ?
Fikrah ialah idea dan celakalah dan semoga dilaknat mereka yang memperjuangkan islam dengan akal dan idea kreativiti mereka atau bertaqlid menurut fikrah (idea) kreativiti tokoh mereka dalam berdakwah dan memperjuangkan Islam.
Semoga Allah melaknat mereka yang memperjuangkan islam dengan fikrah dan semoga Allah menjelekkan dan menghancurkan dan menggagalkan dakwah mereka, memecah-belahkan ikatan mereka yang memperjuangkan Islam dengan fikrah (idea).
“Dan janganlah kamu mengikut sesuatu yang kamu tidak ketahui kerana Sesungguhnya pendengaran kamu, penglihatan kamu dan hati kamu semuanya akan ditanya dan dipersoalkan." (Surah Al-Isra : 36).
“ Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu urusan baru dalam agama kami sedang ia bukan dari kami maka sesungguhnya ianya ditolak.” (Hadith sahih disepakati Bukhari 156 Jilid 8 & Muslim no.4467) .
Adapun kita para muslimin dan mukminin memperjuangkan Islam dengan menurut al-Qur’an dan sunnah dan menurut jalan serta kefahaman para salaf soleh dan jalan mereka.
Kita yang beriman dengan sunnah, mempercayai bahawa Islam sudah lengkap tanpa perlu diwarnai dan dicemari fikrah murahan manusia maka kita menyakini bahawa sudah pasti jalan perjuangan Islam dan kaedah berdakwah semuanya telah diterangkan oleh sunnah dan dijelaskan dan dibentangkan oleh para salaf soleh.
Sebagaimana dalam riwayat Abu Dzar berkata : Rasulullah salallahualaihiwasalam bersabda : “Tidaklah tertinggal sesuatu yang dapat mendekatkan ke Syurga dan menjauhkan dari Neraka kecuali telah diterangkan pada kalian.” Juga disebut oleh Abu Zar ra akan katanya “ Rasulullah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepak-ngepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau menyebutkan ilmunya pada kami.” (Hadith Sahih riwayat Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, lihat As Sahihah oleh Syeikh Albani ra 416 Jilid 4 dan hadith ini memiliki pendukung dari riwayat lain).
3) Keadaan dan waqi' (suasana) serta tempat berlakunya perbezaan pendapat dan ta'adud jemaah itu.
Setiap tempat dan keadaan itu berbeza dengan keadaan yang lain maka sebagai misalnya di sesetengah tempat hukum berta’adud jemaah mungkin bertukar dari haram kepada harus dan wajib apabila keadaan memerlukan seperti apabila berada di Iran dan Amerika syarikat misalnya.
Iaitu apabila berada di Iran di tempat aqidah mereka sesat dan menurut fahaman syiah maka adalah menjadi haram kita bersatu dan berjemaah dengan mereka maka wajib bagi umat islam di Iran yang beraqidah Ahlul sunnah untuk berpecah dan berselisih dari mereka serta bersatu dalam satu jemaah aqidah ahlul sunnah dan mengelak dari bersama syiah yang sesat dan menyeleweng itu.
Maka demikian juga mereka yang berada di Amerika adalah menjadi haram untuk mentaati pemerintah dan bersatu dengan masyarakat kuffar yang berada di sana sebaliknya hendaklah menyisih diri dan bersatu di dalam jemaah umat islam dan tidak bersatu dengan kuffar.
Adapun di Negara Umat islam seperti Malaysia maka hukumnya ialah haram berta’adud jemaah dan berpecah sehingga umat Islam lemah dan hilang kekuatan dan hilang perpaduan serta bermusuh-musuhan sesama sendiri.
“ Janganlah KAMU berselisih dan berbantah-bantah nanti akan hilang kekuatan kamu” (Surah Al-Anfaal : 46).
4) Kaedah dalam berbeza pendapat dan berselisih pandangan
Dimaksudkan keadaan dalam berbeza pendapat itu ialah ianya berlaku secara tidak diingini dan bukanlah berlaku secara kehendak. Adalah haram untuk berbeza pendapat secara suka dan kehendak dan tidaklah yang berhasrat dan suka untuk berpecah dan berbeza pendapat melainkan mereka itu ialah golongan yang zalim dan jahil.
Sekiranya terjadi berbeza pendapat itu secara tidak sengaja dan tanpa kerelaan namun kerana terpaksa seperti wujudnya keadaan berselisih di antara umat Islam yang tidak dapat dielakkan akibat hasutan dari pihak yahudi atau hasutan dari golongan munafiq maka hendaklah masing-masing segera bertaubat dan kembali kepada soff dan barisan jemaah Umat Islam serta bersatu di dalam jemaah.
“ Bersatulah kamu semua di atas tali Allah dan janganlah kamu berpecah-belah” (Ali-Imran : 103).
“ Bertaubatlah kamu semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman moga kamu mendapat kejayaan.” (An-Nur : 31).
Baginda nabi bersabda : “Hendaklah kamu berada dalam jemaah sesungguhnya tangan Allah itu berada dalam jemaah” (Riwayat Tibrani 447 /12).
Sekiranya berlaku perbezaan pendapat dan ta’adud jemaah dan ketika itu berlaku kerana tidak diingini dan dalam usaha untuk segera bersatu dan mencari jalan untuk kembali menyatukan umat Islam maka tidaklah berdosa dan dengan rahmat Allah moga dimaafkan kelemahan kita semua.
Namun sekiranya setelah diberi penerangan dan penjelasan dan di ajak untuk kembali bersatu namun pihak kumpulan jemaah tertentu itu masih enggan dan degil dan merasa suka kepada ketua mereka, merasa selesa dengan fikrah mereka, merasa benar dengan jalan mereka, merasa angkuh dengan jemaah mereka maka ketahuilah bahawa mereka telah keluar dari manhaj salaf soleh dan berada dalam dosa dan kemaksiatan kepada Allah swt.
“ Katakanlah : Mahukah kami khabarkan kepada kamu akan keadaan golongan yang hanya merugi amalan mereka ? Iaitu mereka yang sesat perbuatan mereka (jalan mereka) di dunia sedangkan dalam kesesatan itu mereka menyangka mereka sedang berbuat baik”.(Al-kahfi : 103-104).
Hukum ta'adud jemaah secara umum ialah haram
Ini disebabkan Islam itu sendiri sudah merupakan satu jemaah dan ini terbukti melalui banyak dalil dan hujah dari Al-Qur'an dan sunnah.
Allah swt berfirman :
1) “ Janganlah KAMU berselisih dan berbantah-bantah nanti akan hilang kekuatan kamu” (Surah Al-Anfaal : 46).
2) “Janganlah kamu menjadi seperti orang yang musyrikin iaitu mereka yang BERPECAH-BELAH dalam agama mereka dan setiap HIZBI (golongan, parti, jemaah) itu bergembira dengan apa yang merka punyai” (Surah Ar-Rum 31-32).
3) “ Jika Allah kehendaki nescaya dapat dia menjadikan semua manusia itu umat yang satu tetapi mereka itu (dijadikan ) berselisih kecuali ORANG YANG DIKASIHI OLEH TUHAN-MU” (Surah hud : 118).
Menurut ulama tafsir, setiap perintah dalam Al-Qur'an itu di datangkan dalam kaedah umum dan menyeluruh sekaligus membuktikan Islam ini ialah jemaah dan umum kepada semua umat Islam.
Di dalam Al- Qur’an Allah swt menyebut perkataan “ jemaah” atau se-ertinya dengan sangat banyak seperti dalam firman-Nya :
“ Bersatulah kamu semua di atas tali Allah dan janganlah kamu berpecah-belah” (Ali-Imran : 103).
“ Bertaubatlah kamu semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman moga kamu mendapat kejayaan.” (An-Nur : 31).
Sebenarnya sangat banyak ayat-ayat yang menyebut sekitar jemaah namun cukup kita mengambil dua ayat di atas sebagai contoh untuk dilakukan perbincangan. Ayat yang pertama disebut oleh para mufasir seperti Imam As-Syaukani ra dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai bermaksud perintah Allah swt supaya umat Islam bersatu dan berkumpul keseluruhannya di atas deen Islam dan melarang hamba-Nya dari berpecah belah dalam agama kerana agama itu ialah jemaah (kesatuan) .
Manakala Imam Ibn Katsir ra menambah bahawa larangan Allah swt kepada hamba-Nya supaya jangan berpecah belah ( تفرقوا) itu di awali dengan perintah jami’an (جميعا ) iaitu menyuruh manusia supaya bersatu di atas tali Allah (حبل الله) iaitu Al-Qur’an yakni Islam. (sila lihat Tafsir Al-Qur’an Azim m/s 33 Jilid 1).
Seterusnya dalam ayat yang ke dua dalam surah An-Nur ayat 31 maka Allah swt telah memerintahkan orang yang beriman supaya segera bertaubat dan di situ di gunakan kalimah jami’an ( جميعا) iaitu keseluruhan (lihat Fathul Qadir m/s 35 Jilid 4).
Mengunakan kaedah usul tafsir maka para ulama tafsir seperti Syeikh Abd Rahman Nasir As-Sa’di ra (1307-1376 H) menyebutkan bahawa Kaedah Al-Qur’an dalam memberi perintah kepada umat Islam ialah dengan mengunakan kalimah jamak iaitu (secara jemaah) keseluruhan kepada umat Islam ( lihat Qawaid Hisan Li Tafsir Qur’an m/s 26 ).
Kerana itu kita akan mendapati bahawa dalam Al-Qur’an apabila menyentuh mengenai perintah maka Allah swt kerap memulakan firman-Nya dengan uslub ( يا أيها الذين أمنوا )dan
( يا ايها الناس) iaitu di sebut untuk seluruh manusia dan Umat Islam kerana Islam itu ialah jemaah.
Oleh yang demikian, jemaah itu pengertiannya harus dilihat pada kedudukan ayat Al-Qur’an dan apabila sesuatu perintah dari Allah swt kepada umat Islam itu di sebut kalimah jemaah maka sebenarnya jemaah di situ bermaksud Islam. Kerana itu apabila Allah memerintahkan umat Islam dengan suatu kewajipan maka digunakan istilah jemaah seperti ayat di atas sebagai simbol bahawa Islam ini sebuah jemaah yang setiap arahan dari Allah swt itu tertuju kepada semua bukan hanya kepada kumpulan tertentu sahaja dan dimaksudkan supaya tidak mengadakan kumpulan baru dalam Islam kerana Islam itu sudah jemaah dan mengadakan jemaah bererti telah mengadakan kumpulan baru yang keluar dari jemaah (Islam) yang asal.
Demikianlah pengertian Al-Qur’an pada jemaah iaitu Islam itulah jemaah kerana Islam itu tidak wujud secara berpecah- pecah dan tidak boleh khilaf dalam Islam. Kerana itu jemaah dalam Al-Qur’an bukanlah bermaksud satu kumpulan haraki, terdiri dari amir dan amirah bertudung labuh dengan tanzim mereka , bukan demi Allah bukan !
Islam itu sudah jemaah ! Jemaah lain selain Islam itu itu tidak patut wujud kerana Islam itu sendiri sudah sebuah jemaah yang terdiri dari umat Islam yang beriman kepada Allah swt dan melaksanakan tanggungjawabnya sebagai muslim dengan pertunjuk Al-Qur’an dan Sunnah.
Demikianlah pegangan ulama salaf soleh yang berada di jalan kebenaran seperti sabda baginda rasul melalui riwayat Aisyah ra :
“ Sebaik-baik kurun manusia ialah kurunaku berada di dalamnya dan kemudian kurun kedua (Sahabat) dan kurun ketiga (Tabi’ien). “ (Sahih Muslim no 1965 Jilid 2, Abu Daud 44 Jilid 5).
Manakala kalimah dan pengertian jemaah berdasarkan hadith pula boleh dilihat pada riwayat yang pelbagai dari baginda rasulullah salallahualaihiwasalam yang menyebut perihal jemaah.
Seperti yang dikeluarkan oleh At- Tibrani dengan sanad yang sahih akan sabda baginda nabi salallahualaihiwasalam :
عليكم بالجماعة فان يد الله على الجماعة
“Hendaklah kamu berada dalam jemaah sesungguhnya tangan Allah itu berada dalam jemaah” (Riwayat Tibrani 447 /12).
Dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi ra , dari riwayat Ibn Abbas ra bahawa baginda pernah bersabda :
يد الله مع الجما عة
“Tangan Allah itu bersama jemaah” (Riwayat Tirmidzi m/s 367 Jilid 6).
Juga melalui riwayat yang lain di tambah dengan
فان الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد
“ Sesungguhnya Syaitan itu bersama seorang dan menjauh apabila berdua” (riwayat Ahmad dan Nasaie, Tirmidzi dan Ibn hibban dan lain-lain.)
Juga disebut melalui riwayat Umar Ibn Khattab ra menyebut bersabdanya baginda rasulullah salallahualaihiwasalam :
من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة
“Barangsiapa yang menginginkan tempat tinggal di syurga maka hendaklah berada dalam jemaah” (Hadith Sahih riwayat Tirmidzi no 2165, Ibn Majah dan Humaidi).
Juga dari riwayat Abi Dzar ra yang berkata bahawa telah bersabda rasulullah salallahualaihiwasalam :
من فا رق الجماعة شبرا فقد خلع الله ربقه ألاسلام من عنفه
“Barangsiapa yang memisahkan dirinya dari jemaah walaupun sejengkal maka Allah akan mencabut ikatan Islam dari tengkuknya” (Hadith sahih riwayat Abu Daud no. 4750).
Sebenarnya masih banyak hadith yang menyebut mengenai perihal kewajipan melazimi dan berada dalam jemaah dan larangan dari keluar atau mengasingkan diri dari jemaah. Baiklah dari sini saya mengaharapkan pembaca memahami bahawa setiap dalil hadith ini wajiblah kita imani dan di amalkan kerana ianya merupakan perintah Allah swt :
" Wahai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada rasul.." (An-Nisa :59)
Membincangkan pengertian Jemaah dari sudut hadith maka para ulama salaf soleh dan bukannya seperti para ustaz yang mengaji empat tahun yang sewenang- wenang dan mudah berdalil pada hadith-hadith bagi mewajibkan orang menyertai jemaah mereka sebaliknya para ulama salaf soleh telah menyebut bahawa maksudnya ialah Islam dan masyarakat muslim yang beriman kepada Allah.
“Katakanlah : “Rabbmu hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al A’raf : 33)
Masyarakat muslim yang beriman kepada Allah dan rasul dengan pertunjuk Al-Qur’an dan sunnah maka mereka inilah jemaah. Adapun kepimpinan dan imam itu ialah khalifah yang dilantik oleh umat Islam.
Sebagai contoh, pada hadith dari riwayat Umar Al-Khatab ra yang menyebut bahawa rasulullah salallahualaihiwasalam pernah bersabda :
عليكم بالجماعة واياكم والفرقة فان الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة
“ Hendaklah Kamu berada dalam jamaah dan jauhilah kamu dari perpecahan sesungguhnya syaitan itu bersama seorang dan menjauh apabila berdua dan barangsiapa yang menginginkan tempat tinggal di syurga maka hendaklah berada dalam jemaah” ( Hadith Sahih riwayat Tirmidzi, Ibn Majah dan Humaidi).
Imam Al-Hafidz Mubarakfuri dalam kitabnya Syarah Jami’ Tirmidzi Tuhfatul Ahwazi mensyarahkan hadith ini dengan menyebut ( عليكم بالجماعة) dalam hadith ini ialah bermaksud menetapkan diri bersama kepimpinan masyarakat Islam kerana Islam itu ialah sudah merupakan sebuah jemaah dan barangsiapa yang memisahkan dirinya dan keluar dari jemaah (masyarakat Islam) itu atau menyisihkan diri (membuat jemaah baru) maka sesungguhnya dia telah menghilangkan islam dari dirinya seperti apa yang disebut oleh hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah secara marfu dalam Sahih Muslim yang menyebut :
من خرج من الطاعة و فرقوا الجماعة فمات مات ميتة جاهلية
“ Barangsiapa yang keluar dari ketaatan kepada kepimpinan umat Islam dan memecah belahkan jemaah (masyarakat Islam) maka matinya merupakan kematian jahiliyah”
Bahkan berkata lagi Hafidz, hal ini juga disebut dalam hadith yang diriwayatkan oleh Syaikhain (Imam Bukhari dan Muslim) dari Huzaifah al-yamani ra akan hadith yang berbunyi :
تلزم جماعة المسلمين وامامهم “ Hendaklah kamu beriltizam dengan jemaah umat Islam dan kepimpinannya” dan dalam riwayat Khalid bin Sabi’ di sisi Tibrani menambah apabila kamu melihat Khalifah maka taatilah dan apabila tiada khalifah maka berperanglah ( Sila lihat Tuhfatul Ahwazi m/s 385 Jilid 6).
Menurut para ulama salaf soleh seperti apa yang diriwayatkan oleh Muhammad Ibn Sirrin dari Ibn Mas’ud ra bahawa yang dimaksudkan jemaah itu ialah para sahabat baginda dan sebahagiannya mengatakan mereka itu ialah para ulama kerana para ulama itu pewaris nabi salallahualaihiwasalam ان العلماء ورثة الأنبياء (Hadith Sahih, riwayat Tirmidzi no. 2606, Abu Daud dan Ibn Majah).
Walaubagaimanapun kesimpulan dari pegangan para salaf soleh ketika menafsirkan maksud jemaah pada waktu mereka itu berdasarkan dalil dari hadith maka mereka secara ramai menyebutnya sebagai masyarakat Islam dan kepimpinannya dan kewajipan mentaatinya. Namun tidak pernah ada sesiapa pun yang menafsirkan jemaah dalam hadith – hadith baginda sebagai melambangkan kumpulan tertentu atau gerakan tertentu begitu juga akan Al-Qur’an melainkan golongan yang jahil dan puak khawarij.
Adapun maksud kalimah jemaah dalam beberapa hadith yang lain merupakan masyarakat umat Islam yang berpegang kepada Al-Qur’an dan sunnah dengan aqidah yang sahih iaitu Ahlul sunnah wal jamaah dan ini memang wujud seperti dalam hadith yang diriwayatkan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan ra bahawa rasulullah bersabda :
الا أن من قبلكم من اهل الكتاب افترقوا على ثنتين و سبعين ملة و ان هذه الملة ستفترق على ثلاث وسبعين ثنتان وسبعون فى النار وواحد فى الجنة وهى الجماعة
“ Sesungguhnya umat terdahulu sebelum kamu dari ahli kitab telah berpecah kepada 72 golongan dan umat Islam ini kana berpecah kepada 73 golongan dan 72 golongan dalam neraka serta Cuma satu sahaja dalam syurga iaitu Al-Jamaah” (Hadith Hasan riwayat Abu Daud no. 4597 dan Ahmad, Darimi, Hakim serta Tibrani) .
Dalam hadith ini jemaah merujuk kepada masyarakat yang padanya wujud rasulullah dan para sahabat di dalamnya seperti yang dijelaskan dalam hadith lain riwayat Tirmidzi, Hakim dengan sanad Hasan. Para ulamak seterusnya mengatakan dimaksudkan dengan beradanya rasulullah dan para sahabatnya itu ialah sebagai kinayah (perumpamaan) yakni dimaksudkan ialah menuruti sunnah baginda dan mengikut jalan para salaf soleh seperti yang disampaikan oleh hadith riwayat Irbad ibn Sariyah ra yang menyebut baginda rasulullah pernah bersabda :
أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وان كان عبدا حبشيا فانه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين فتمسكوا بها و عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فان كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة
“ Aku berpesan kepada kamu supaya bertaqwalah kamu kepada Allah, dan dengar serta patuhlah kepada pemimpin walaupun dia diangkat dari hamba habsyi. Sesungguhnya sesiapa yang hidup selepas aku pasti akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpeganglah kamu pada Sunnah aku dan sunnah khulafa Ar-Rasyidin yang diberi pertunjuk selepas aku . Peganglah ia (sunnah) sesungguh-sungguhnya sehingga kalau pun kamu terpaksa mengigitnya dengan gigi geraham kamu. Dan berhati-hatilah kamu dengan perkara baru !!! Sesungguhnya setiap perkara baru (dalam agama) ialah bid’ah !!! dan setiap bid’ah itu sesat !!! (Hadith Sahih , riwayat Tirmidzi (no.2676) , Abu Daud (no. 4607) dan Ahmad (no.12561).
Manakala dalam erti kita menjelaskan makna hadith yang lain itu secara umum maka ianya bermakna keseluruhan umat Islam dan kepimpinan yang tertegak di dalamnya baik ianya merupakan kepimpinan yang baik atau pun zalim kerana berdasar pertunjuk sunnah dan perintah supaya mentaati mereka seperti yang diriwayatkan dari Auf bin Malik ra yang menyebut bahawa baginda rasulullah pernah bersabda :
“ Hendaklah sesiapa yang dibawah kepimpinan pemerintah dan dia melihat pemimpinnya melakukan maksiat maka hendaklah dibenci apa yang dilakukan oleh pemimpin itu dari maksiatnya namun jangan sekali-kali mencabut tangannya dari ketaatan kepada pemimpin itu” (Hadith Sahih, riwayat Muslim no. 1855).
Maka dalam konsep Malaysia saya dapat katakan kita umat Islam wajiblah mentaati kepimpinan yang ada walaupun kepimpinan itu melakukan maksiat dan kejahatan namun kita tidak boleh sekali-kali menubuhkan sebuah jemaah atau sebuah gerakan baru yang menyebabkan kita terkeluar dari jemaah asal iaitu Islam dan masyarakat Islam serta menyebabkan berlakuknya perpecahan di kalangan umat Islam.
Oleh yang demikian barangsiapa yang melakukan penyelewengan terhadap makna dan maksud Al-Qur’an dan sunnah dengan menyesatkan para pemuda Islam dan para wanita Islam dengan mewajibkan mereka menyertai jemaah dan kumpulan serta gerakan tertentu kononnya sebagai hukum wajib dengan mengunakan dalil- dalil dari hadith yang menyebut perkataan jemaah maka ternyata mereka telah melakukan dosa besar dan pendustaan terhadap Allah swt dan rasulnya serta umat Islam seluruhnya walaupun dia ustaz yang mengaji empat tahun di universiti !
"Katakanlah! Apakah kamu menyetahui apa-apa yang Allah telah turunkan untuk kamu daripada rezeki, kemudian dijadikan sebagian daripadanya itu, haram dan halal; katakanlah apakah Allah telah memberi izin kepadamu, ataukah memang kamu hendak berdusta atas (nama) Allah?" (Yunus: 59).
"Dan jangan kamu berani mengatakan terhadap apa yang dikatakan oleh lidah-lidah kamu dengan dusta; bahwa ini halal dan ini haram, supaya kamu berbuat dusta atas (nama) Allah, sesungguhnya orang-orang yang berani berbuat dusta atas (nama) Allah tidak akan dapat bahagia." (an-Nahl: 116)
" Apakah kamu sanggup mengatakan sesuatu perihal Allah tanpa ilmu ?" (Surah Al-Baqarah : 80).
Demikianlah peringatan kepada mereka yang mewajibkan sesuatu yang dusta dengan mewajibkan jemaah –jemaah dan mengintimakan diri dalam jemaah serta berdusta dengan kejahilan bahawa hukumnya wajib maka sesiapa yang mewajibkan jemaah –jemaah dalam masyarakat Islam yang sebenarnya hanyalah merupakan perpecahan maka dirinya telah zalim kepada Allah swt dan dirinya telah berdusta dalam agama.
Celakalah mereka yang menyalah tafsirkan hadith dan al-qur’an demi kepentingan politik mereka dan menyokong kumpulan tertentu serta menjual agama mereka demi harga yang murah.
Sedang baginda Salallahualaihiwasalam bersabda :
" Berhati-hatilah kamu terhadap apa yang disampaikan dari aku melainkan kamu mengetahuinya (akan kebenarannya) (Hadith Hasan, Riwayat Tirmidzi, Abi Syaibah dan Ahmad).
Sebenarnya menurut faham salaf soleh, mereka mengatakan bahawa Islam ini ialah sudah berjemaah dan setiap muslim yang benar aqidahnya maka mereka sesama muslim yang lain ialah bersaudara dan satu ukhuwah Islamiyah yang dinaungi oleh kalimah syahadah.
Baginda juga pernah menyebut :
“Tidak sempurna iman seseorang kamu selagimana dirinya tidak mengasihi saudaranya sepertimana mengasihi dirinya sendiri” (hadith sahih, riwayat bukhari dan Muslim).
Jemaah itu ialah Islam dan sesiapa yang sudah muslim baik di kutub utara dan kutub selatan maka secara rasminya dia merupakan sejemaah dengan kita di Malaysia ini iaitu jemaah Islam.
Namun perkembangan realiti dunia Islam yang semakin hari umat Islam sudah meninggalkan Islam maka demikian juga dalam bidang agama lantaran lahir kejahilan dan kedunguan maka fenomena jemaah begitu pesat berkembangan dan wujud di merata-rata.
Ramai umat Islam mula tertarik kepada puak-puak atau golongan tertentu dalam masyarakat dan kelompok-kelompok tertentu dalam Islam.
“Dan janganlah kamu mengikut sesuatu yang kamu tidak ketahui kerana Sesungguhnya pendengaran kamu, penglihatan kamu dan hati kamu semuanya akan ditanya dan dipersoalkan." (Surah Al-Isra : 36).
Setiap umat Islam merasa selamat dan selesa dengan jemaah masing-masing konon beralasan atas kesamaan fikrah (idea) dan kesamaan pendapat dalam agama Islam yang mereka punyai berdasar akal mereka.
Kumpulan A :
Mereka memahami Islam dengan fahaman mereka lalu menafsirkan Islam dengan tafsiran mereka lalu berdakwah dan menjalankan amal Islam dengan kefahaman mereka lalu menubuhkan jemaah mereka , menamakan kumpulan mereka, hidup sebagai Islam menurut pandangan fikrah mereka, lalu bergerak berharakah di atas kefahaman mereka .
Mereka ini Islam tetapi mereka membeza-bezakan umat Islam yang lain dengan jemaah mereka. Ahli jemaah mereka ialah saudara mereka manakala umat Islam yang bukan ahli jemaah mereka bukanlah saudara mereka dan bukan mendapat perihatian sangat dalam kehidupan mereka.
Mereka berjuang di atas fikrah yang mereka dokong dan mentaati kepimpinan yang dilantik oleh mereka berdasar fahaman mereka.
“ Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu urusan baru dalam agama kami sedang ia bukan dari kami maka sesungguhnya ianya ditolak.” (Hadith sahih disepakati Bukhari 156 Jilid 8 & Muslim no.4467) .
Ubay bin Ka'ab berkata : 'Sesungguhnya sederhana di jalan ini dan (di atas) sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh tetapi dalam menentang jalan ini dan bercanggah dengan sunnah. Maka lihatlah amalan kalian jika dalam keadaan bersungguh-sungguh atau sederhana hendaknya di atas manhaj (cara pemahaman dan pengamalan) para Nabi dan sunnah mereka.'
Kumpulan B :
Mereka seperti kumpulan di atas cumanya kefahaman mereka terhadap Islam berbeza dengan kefahaman kumpulan A dan kaedah mereka berdakwah, kaedah mereka menjalankan syariat tidak sama dan berbeza uslub dengan kumupulan A.
Mereka mempunyai kepimpinan mereka sendiri, mempunyai kaedah, uslub mereka sendiri yang dibangunkan berdasarkan kefahaman mereka kepada Islam.
Demikianlah sehingga wujud kumpulan C, D dan E serta sehinggalah ke Z seperti firman Allah swt :
“ Jika Allah kehendaki nescaya dapat Dia menjadikan semua manusia itu umat yang satu tetapi mereka itu (dijadikan ) berselisih kecuali ORANG YANG DIKASIHI OLEH TUHAN-MU” (Surah hud : 118).
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah bercerai-berai dan berselisihan (dalam agama mereka) sesudah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas nyata (yang dibawa oleh Nabi-nabi Allah), Dan mereka yang bersifat demikian, akan beroleh azab seksa yang besar.” [‘Ali Imran 3:102-105].
Dalam hadith baginda pernah bersabda :
'Amal yang paling dicintai Allah adalah yang istiqamah (terus-menerus) walau sedikit'." (HR. Bukhari 1/109 dan Muslim nombor 782) [Ilmu Ushulil Bida', Syaikh Ali Hasan halaman 55-56]. Seorang Alim Ahli Al Qur'an, Muhammad Amin Asy Syinqithi berkata dalam Adlwa'ul Bayan 1/494 : "Para ulama telah menyatakan bahwa kebenaran itu berada di antara sikap melampaui batas dan sikap meremehkan.
Dan itu adalah makna ucapan Mutharrif bin Abdullah :”Sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah. Kebaikan itu terletak antara dua kejelekan”.
Dan dengan itu, kamu tahu bahwa orang yang berhasil menjauhi kedua sifat itu telah mendapat hidayah." Ucapan Syaikh Ali Hasan dalam buku Dhawabith Al Amr bil Ma'ruf wan Nahyi 'Anil Munkar 'inda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah halaman 9.
Sedangkan imam Az-zahabi ra pernah menyebut " Apabila seorang ahli kalam (ahli akal) berkata jauhkan kami dari al-qur'an dan sunnah dan biarkan kami mengunakan akal" maka ketahuilah dia itu ialah Abu Jahal !! Dan jika datang kepada-Mu seorang Ahli sufi berkata " tinggalkan dalil zahir dan nash dan pakailah zauq, khusyuk dan wajd (suara hati) maka ketahuilah dia itu sesungguhnya ialah iblis dalam rupa manusia." (lihat dalam siyar alam nubala' m/s 472 Jilid 4).
Kesimpulan
Dalam masalah ta'adud jemaah ini hendaklah kita menjauhi perpecahan dan bersatu di atas tali Allah iaitu Al-Qur'an dan Sunnah. Janganlah kita berpecah dan berselisih sesama umat Islam sebaliknya di atas ukhuwah agama dan pertalian saudara berasaskan tauhid itu hendaklah kita berkerjasama menegakkan Islam berdasar sunnah rasulullah dan jalan para sahabat salaf soleh.
“ Bersatulah kamu semua di atas tali Allah dan janganlah kamu berpecah-belah” (Ali-Imran : 103).
Yakinilah bahawa sesungguhnya tidaklah para rasul dan nabi itu diwafatkan melainkan telah menyampaikan amanah dakwah kepada umatnya maka demikianlah juga dengan rasul kita Muhammad salallahualaihiwasalam yang telah menyampaikan segala risalah dakwah dan ajaran Islam tanpa tertinggal dan di antaranya telah dijelaskan kepada kita cara berjuang menegakkan Islam tanpa perlu kita mencedoknya dari fikrah manusia atau mengambilnya dari barat.
Sebagaimana dalam riwayat Abu Dzar berkata : Rasulullah salallahualaihiwasalam bersabda : “Tidaklah tertinggal sesuatu yang dapat mendekatkan ke Syurga dan menjauhkan dari Neraka kecuali telah diterangkan pada kalian.” Juga disebut oleh Abu Zar ra akan katanya “ Rasulullah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepak-ngepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau menyebutkan ilmunya pada kami.” (Hadith Sahih riwayat Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, lihat As Sahihah oleh Syeikh Albani ra 416 Jilid 4 dan hadith ini memiliki pendukung dari riwayat lain).
Seandainya wujud khilaf dan perselisihan maka hendaklah kita semua kembali kepada al-Qur'an dan sunnah sebagaimana perintah Allah swt supaya kita dapat bersatu.
"Maka jika kamu berselisih dalam sesuatu hal maka kembalilah pada Allah (Al-quran) dan rasul (As-sunnah)…" ( Surah An-Nisa' : 59).
Maka demikianlah kefahaman yang sebenar yang perlu difahami bahawa kesatuan dan perpaduan itu wajib dan harus diusahakan oleh setiap mereka yang mengaku beriman kepada Allah swt dan rasul. Maka sesungguhnya kefahaman yang benar itu ialah yang berdasar kehendak Allah swt dan di atas pertunjuk rasul-Nya.
" Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan baginya Maka Allah akan memberikannya kefahaman dalam urusan agama." (hadith Sahih, Muttafaqun Alaih –Disepakati oleh Bukhari no. 3116 & Muslim no. 1037)
Sebagai peringatan juga hendaklah kita mengawasi kumpulan-kumpulan pelampau dalam agama yang bergerak dan berjuang Islam dengan kejahilan sehingga lebih menimbulkan fitnah dari kebaikan.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang memperingatkan agar berhati-hati dari orang-orang khawarij dimana beliau telah menyebutkan tanda-tandanya kepada para sahabat dengan sabdanya : “Bacaan (Al Qur’an) kalian tidak dapat mengimbangi bacaan (Al Qur’an) mereka sedikitpun. Shalat kamu tidak dapat menandingi shalat mereka sedikitpun. Mereka membaca Al Qur’an dan menyangka bahwa Al Qur’an itu dalil bagi mereka padahal hujjah atas mereka. Makna shalat mereka tidak melewati tenggorokan mereka dan mereka keluar dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya.” Dalam riwayat lain : “Sesungguhnya jika aku mendapati mereka, aku akan bunuh mereka seperti membunuh kaum Tsamud.” (Hadith sahih riwayat Muslim)
Para ulama menyebut Orang yang dikasihi oleh Allah itu ialah orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada pertunjuk sunnah dan bersatu di atas Al-Qur'an dan Sunnah dan tidak menyertai perpecahan dan menjauhi perbezaan dan perselisihan.
Sabda baginda juga :
"Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang muda-muda umurnya. Pendek akalnya. Mereka mengatakan ucapan sebaik-baik manusia. Mereka membaca Al Qur'an tapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka lepas dari agama seperti lepasnya anak panah dari buruannya." (HR. Bukhari nombor 3611 dan Muslim nombor 1066).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan: “Menganjurkan manusia agar berpegang dan mengikuti As Sunnah serta mencegah jangan sampai bid’ah muncul dan tersebar adalah amar ma’ruf nahi munkar. Bahkan ini merupakan amalan saleh yang paling mulia, sehingga seharusnya betul-betul dijalankan dengan penuh keikhlasan mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala.” (Minhajus Sunnah, 5/253).
Demikianlah dakwah Islam ditegakkan di atas ilmu dan kefahaman yang mendalam, bukan kerana suka-suka, bukan kerana budaya sebaliknya kerana tanggungjawab agama yang mesti dipikull dengan panduan agama.
Di perjalanan, orang-orang Khawarij bertemu dengan Abdullah bin Khabbab maka mereka berkata : "Apakah engkau pernah mendengar dari ayahmu sebuah hadits yang dia dengar dari Rasulullah?" Dia menjawab : "Ya, aku mendengar ayahku berkata : 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berbicara tentang zaman fitnah. Orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri dan orang yang berjalan lebih baik daripada yang mereka yang berlari. Maka jika engkau mendapati masa seperti itu, jadilah engkau seorang hamba Allah yang terbunuh'." (HR. Ahmad 5/110, Ath Thibrani nombor 3630, dan hadits ini memiliki beberapa syawahid).
“Janganlah kamu menjadi seperti orang yang musyrikin iaitu mereka yang BERPECAH-BELAH dalam agama mereka dan setiap HIZBI (golongan, parti, jemaah) itu bergembira dengan apa yang merka punyai” (Surah Ar-Rum 31-32).
P/S :
Artikel ini merupakan kumpulan tulisan lama saya khasnya sewaktu fenomena hangat tentang jemaah ini berpusar di kampus lalu kemungkinan pembaca akan mendapati saya sedikit keras sewaktu itu.
Buat makluman semua, saya dan rakan-rakan dicela dan dicemuh kerana keluar dari sebuah jemaah dengan tuduhan yang sangat dahsyat dari mereka yang ta'asub dan jahil terhadap jemaah mereka.
Mereka mewajibkan jemaah mereka kepada orang lain dan doktrin ini diterapkan kepada ahli sehingga merasakan berdosa keluar dari jemaah mereka dan juga merasakan berdosa tidak memasukkan orang dalam jemaah mereka dan juga merasa berdosa orang yang tidak berfaham dengan "fikrah" mereka.
Inilah bid'ah yang besar dan dosa dan kerana itu artikel ini sedikit emosi dan keras namun kata orang tua-tua masa berlalu dan angin tiung menjadi bayu, batu pejal menjadi lembut maka inikan pula hati manusia.
Memahami hukum jemaah hendaklah secara khusus dinilai dengan hati-hati dan ianya perlu difahami dengan mendalam. Misalnya saya tidak menyalahkan sesiapa yang masuk dan menyertai PAS dan tentulah salah dan silap apabila seseorang menghukum bahawa menyertai Pas ialah haram, wajib atau berdosa atau harus sebaliknya hukum itu jatuh pada perbuatan yang khusus dan akibat yang khusus demikian juga pada UMNO atau ABim atau JIm atau mana-mana parti atau kumpulan.
Tetapi apakah ada ulama yang mahu mengatakan "tidak apa" apabila seorang pelajar universiti yang mentah jahil akan Al-Qur'an dan sunnah tetapi dalam usrah dan ceramahnya mewajibkan orang menyertai jemaah mereka dengan mengunakan dua tiga potong ayat Al-Qur'an dan dua tiga patah hadith ?
Mereka sewenang-wenang mewajibkan hukum jemaah yang ditubuhkan oleh mereka kepada orang ramai dengan mengunakan akal mereka dan mentafsir ayat Al-Qur'an dua tiga patah dengan akal mereka dan hanya bermodalkan buku-buku Fathi Yakan dan lain-lain sebagai bahan bacaan dan hujah mereka lalu apakah boleh berdiam diri dengan mereka ini ?
Jangan berdusta mengaku tidak ada fenomena ini, bahkan di universiti di Malaysia serta di seluruh universiti fenomena ini wujud dan mereka mewajibkan orang dengan jemaah dan fikrah fahaman mereka. Maka ini yang harus di tentang dan saya menentang fenomena ini dengan semampu saya.
Wallahualam
Gejala Taksub Kepada Dr Mohd Asri (MAZA) – Perbincangan
Gejala Taksub Kepada Dr Mohd Asri (MAZA) – Perbincangan
Permasalahan ta’asub yang berlaku di kalangan umat Islam segalanya disebabkan kejahilan dan kelemahan ilmu serta kekurangan maklumat sehingga melahirkan rasa rendah diri yang ketara lalu wujud perasaan kagum dan penghormatan yang melampau terhadap seseorang yang mempunyai kelebihan yang tidak kita punyai.
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (Hud : 112).
Dr Mohd Asri Zainul Abidin merupakan seorang ulama muda tanahair yang berjaya membawa dakwah dan perubahan yang bermanfaat serta cukup bagus kepada umat Islam di Malaysia. Beliau bukan sahaja memiliki keilmuan yang mendalam tetapi juga memiliki peribadi yang memikat. Tidak hairan kenapa dengan cepat beliau berjaya membuka mata ramai pihak dan menarik ramai umat Islam kepada dakwah seruan yang dibawanya iaitu memartabatkan kitab dan sunnah.
Pada hari ini nama Dr Mohd Asri Zainul Abidin, Mufti Kerajaan Negeri Perlis semakin terkenal dan menjadi bahan perbualan di mana-mana disebabkan pelbagai isu yang diketengahkan oleh beliau dan ulasan serta komen beliau yang mengundang perhatian ramai. Mempunyai penyokong dari pelbagai lapisan masyarakat khususnya golongan pelajar IPT dan universiti serta golongan professional menjadikan beliau cukup terkenal dan memiliki kekuatan suara dalam masyarakat.
Dr Asri mempunyai pengikut dan kumpulan penyokong dari golongan pelajar seperti di Universti Islam Antarabangsa Malaysia, ustaz-ustaz muda keluaran Jordan dan Syiria, laman-laman web seperti Al-Ahkam.net yang merupakan laman pro-Dr Asri , markaz persendirian yang bernama Markaz Imam Ibn Qayyim di Pulau Pinang juga sehingga kepada orang politik seperti Dato Sri Shahidan Kasim, Menteri Besar Negeri Perlis.
Beliau sekalipun merupakan bekas pelajar kepada Dr Radhi USM, juga merupakan tokoh angkatan baru yang menyertai perjuangan aliran salafi di Malaysia berbanding orang-orang lama di Yayasan Anda, yayasan Al-Khadeem milik Ustaz Hussain Yee, Yayasan An-Nidda dan tokoh-tokohnya seperti Dr Abdullah Yassin, Prof Dr Johari Mat, Ustaz Abdullah Al-Qari di Kelantan, Ustaz Rasul Dahri di Johor yang suatu ketika dahulu pernah dihebohkan juga hampir dilantik menjadi Mufti Perlis dan lain-lain tokoh lama yang banyaknya sudah dilupakan atau senyap dari perbualan orang namun ternyata Dr Mohd Asri berbeza dan lain dari yang lain apabila beliau mempunyai kredebiliti tersendiri.
Beliau bijak memainkan peranan dan kesempatan serta mempunyai kekuatan dengan gerakan pelajar yang merupakan sesuatu yang unik serta berbeza dari tokoh-tokoh salafi Malaysia sebelum ini yang jauh hubungan mereka dengan pelajar universiti. Selain itu ceramah dan kuliah Dr Mohd Asri dihadiri oleh golongan professional dan orang kenamaan yang membentuk satu kelebihan kepada dakwah yang dibawa oleh beliau.
Usaha dakwah beliau yang membawa seruan kembali kepada kitab dan sunnah dan mendaulatkan isi kandungannya mendapat sambutan banyak pihak serta kejayaan beliau menghadapi tentangan dari pihak-pihak yang kurang disukai ramai seperti Astora Jabat dan lain-lain menaikkan lagi nama beliau di mata masyarakat.
Ciri-ciri Ta’asub
Persoalan Ta’asub muncul di dalam mana-mana sahaja kelompok umat Islam dan ianya ibarat satu penyakit yang tidak dapat dipisahkan sebaliknya terus hidup menjadi parasit dalam umat Islam.
Gejala Ta’asub dapat dilihat pada ciri-ciri yang dimiliki oleh umat Islam terhadap tokoh-tokoh tertentu atau pada fahaman tertentu seperti :
1) Menganggap apa yang disampaikan oleh guru atau fahaman mereka sebagai mesti benar dan tidak akan salah sama sekali
2) Menganggap apa yang diucapkan oleh guru dan tokoh tertentu mesti bertepatan dengan kitab dan sunnah atau membawa maksud dari kitab dan sunnah
3) Menyakini kelebihan guru dan fadhilatnya yang melebihi orang lain sekaligus menjamin kebenaran pendapatnya
4) Merasakan gurunya sudah cukup menjadi rujukannya tanpa perlu melihat kepada pendapat orang lain atau kepada ulama dan tokoh lain
5) Menyakini jalan perjuangan yang dibawa oleh gurunya bertepatan dengan kitab dan sunnah serta mesti disokong walaupun tidak memahaminya atau masih belum memahami isi kandungan kitab dan sunnah
Ciri-ciri Kecil (yang menandakan bibit ta’asub kepada Dr Mohd Asri)
a) Hanya mendengar dan mengambil ilmu dari Dr Mohd Asri dan yang sealiran dengannya sahaja tanpa melihat pendapat dan tokoh lain
b) Mengkagumi Dr Mohd Asri dengan berlebih-lebihan dan mengangkat beliau melebihi yang sepatutnya atau melebihi kelayakkannya misalnya mengatakan beliau ulama mujtahid atau konon pernah berguru dengan ulama besar seperti Syeikh Albani dan lain-lain sedangkan hakikatnya tidak dan sebagainya
c) Ghairah menyampaikan segala khabar dan berita berkait Dr Mohd Asri sekalipun hakikatnya tidak penting dan merupakan hal yang remeh
d) Seronok mendapat peluang berhubung dekat dengan Dr Mohd Asri dan mendampinginya melebihi tokoh-tokoh lain sekalipun tidak salah tetapi hal ini sudah mula menunjukkan bibit-bibit kekaguman yang boleh merosakkan.
Saya yakin mereka yang selama ini ta’asub kepada Dr Mohd Asri pasti akan memberikan komen terhadap tulisan saya ini, bahkan mungkin ada yang akan memarahi saya tetapi demi kerana mahukan kebaikan kepada umat Islam juga kerana menyayangi tokoh ulama muda kita maka perlu saya tegur umat Islam supaya jangan ta’asub kerana jika tidak maka sudah pasti dakwah seruan Dr Asri sendiri yang melarang umat Islam ta’asub akan gagal apabila umat Islam hanya berubah arah dari ta’asub kepada aliran lama menjadi ta’asub kepada Dr Mohd Asri.
Sekiranya tidak ada sesiapa yang ta’asub kepada Dr Mohd Asri maka artikel ini tidak akan dimarahi sebaliknya diterima dengan terbuka dan gembira sebagai salah satu nasihat yang baik kerana agama itu ialah nasihat.
Sabda baginda salallahualaihiwasalam kepada Tamim Ad-Dari ra :
الدين النصيحة , الدين النصيحة, الدين النصيحة
“ Sesungguhnya Agama itu ialah nasihat, sesungguhnya agama itu ialah nasihat, sesungguhnya Agama itu ialah nasihat.”
(Hadith Sahih, riwayat Muslim no. 95 Bab 55).
Perihal Gejala Ta’asub
Masalah ta’asub sudah lama merebak dan menjadi virus yang mendaging dalam jasad umat Islam sejak zaman berzaman. Pelbagai ubat yang dibawa oleh para ulama untuk menghilangkan virus ini akhirnya berubah menjadi virus baru yang terus beranak- pinak.
“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu berdiri kerana Allah, menjadi saksi dengan keadilan. Janganlah kerana kebencianmu terhadap satu kaum, sehingga membuatkan kamu tidak berlaku adil. Berlaku adillah, kerana keadilan itu lebih dekat kepada taqwa dan takutlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.” (Al-maidah : 8).
Ta’asub muncul daripada kelemahan ilmu manusia yang seterusnya membawa kepada perasaan lemah dan rendah diri serta mengkagumi seseorang atau fahaman tertentu sebagai agung dan mulia. Sikap ini membawa kepada ketaatan dan kepatuhan tanpa perintah terhadap peribadi orang yang dikagumi atau dihormati.
Baginda rasulullah salallahualaihiwasalam sekalipun sebagai seorang rasul utusan Allah dan merupakan hamba Allah yang paling mulia melarang umat-Nya dari memiliki sikap ghulu (melampau) dan ta’asub terhadap baginda.
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas ra bahawa baginda rasulullah bersabda : “ Berhati-hatilah kamu daripada ghulu (melampau) dalam agama kerana sesungguhnya orang sebelum kamu telah dihancurkan disebabkan sikap melampau mereka dalam agama.” (Hadith riwayat Ahmad dan lain-lain).
“ Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama, Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Faathir : 28).
Para ahli ilmu menyebutkan bahawa dimaksudkan ulama itu ialah mereka yang memiliki perasaan takut kepada Allah swt dan disebabkan itulah mereka mendapat kedudukan sebagai ulama dari ilmu yang dimiliki membawa mereka menuju kepada takut kepada Allah swt lalu menghasilkan ketaatan.
Sehingga para ulama menyebutkan orang yang paling banyak berfatwa di kalangan kamu ialah orang yang paling berani masuk ke dalam neraka lantaran disebabkan banyak berfatwa mendedahkan dirinya kepada pelbagai kesalahan dan juga tanggungjawab yang besar yang perlu dipikul dari keputusannya kerana melibatkan kehidupan dan pengaruh kepada orang lain.
Utbah ibn Muslim pernah meriwayatkan bahawa beliau pernah berkawan dengan Ibn Umar ra (Abdullah Ibn Umar ra) selama tiga puluh empat bulan dan seringkali ketika beliau ditanya dengan sesuatu persolan maka djawab oleh beliau dengan berkata : “Aku tidak tahu”.
Demikian juga Ibn Abi Laila ra yang menyebutkan aku pernah melihat seratus dua puluh lebih para sahabat rasulullah salallahualaihiwasalam dari kalangan ansar yang apabila ditanyakan dengan sesuatu permasalahan agama maka dia menyerahkan kepada yang lain sehingga sahabat yang lain itu menyerahkan kepada yang lain sehingga seringkali persoalan itu kembali kepada sahabat yang pertama ditanyakan tadi.
Setiap yang diusahakan di dunia hari ini akan dipersoalkan oleh Allah swt di akhirat maka hendaklah kita berhati-hati khasnya di dalam ilmu agama yang memerlukan kepada ahli di dalam bidangnya.
Gejala ta’asub tidak pernah hilang walaupun pelbagai ulama muncul menyeru supaya umat Islam menghentikan ta’asub kerana disebabkan beberapa faktor yang akan kita bincangkan.
Dakwah Fardhi Tidak Secara Jamaie
Permasalahan yang menimpa waqi (situasi) semasa hari ini ialah ramai tokoh-tokoh pendakwah muda dan mereka yang hebat ilmunya bergerak dengan berdakwah secara fardhi (individu) dan tidak secara jamaie. Hal ini membawa kepada perkembangan gejala ta’asub dengan serius.
Tokoh seperti Dr Mohd Asri Zainul Abidin lebih dikenali sebagai tokoh fardhi (individu) bukan jamaie (kumpulan) ini disebabkan kononnya fahaman salaf itu tidak boleh berorganisasi disebabkan pendapat sesetengah mereka yang termakan ubat bius kejahilan yang menganggap ianya bid’ah.
Disebabkan berorganisasi itu bid’ah maka kefahaman salafi yang dibius ini menganggap salafi mesti bergerak sebagai individu dan berjalannya kefahaman salafi itu mesti dengan bekerjasama dengan pihak pemerintah yang sekalipun zalim dan mencapai tahap taghut.
Mereka lalu menjadi tokoh-tokoh di dalam masyarakat yang segala tindak-tanduknya diputuskan oleh mereka sendiri melalui pendapat dan ijtihad mereka lalu segala keputusan itu disokong oleh pelajar-pelajar mereka yang menjadi pengikut setia sebagai satu keputusan yang dari kitab dan sunnah.
Bahkan Imam Abu Ishak As-Syatibi ra telah memperingatkan umat Islam akan hakikat ini dengan menyebutkan di dalam kitabnya Al-Itishom m/s 173 jilid 2 dengan bermaksud : “ Sesungguhnya yang menjadi sebab utama bid’ah dan pertikaian yang membawa kepada perpecahan umat dan malapetaka ialah seseorang mempercayai dirinya ialah seorang mujtahid atau termasuk ahlul ilmi wal ijtihad dalam ilmu agama sedangkan hakikatnya dirinya belumlah mencapai tahap itu.
Maka apabila dia beramal dengan pendapatnya maka dianggap pendapatnya ialah sebagai pendapat ulama dan khilafnya sebagai khilaf ulama lalu baik hal itu berlaku di dalam hal yang furu (cabang) atau hal yang mendasar dan usul baik iktikad dan amaliyah sehingga seringkali dia mengambil sesetengah hal yang juz’iyah atau furu’iyah (cabang) dari syariat lalu diruntuhkan hal yang kulliyat atau usul dengannya atau sebaliknya sehinggalah jadi apa yang zahir itu sepintas lalu seolah menepati makna tetapi hakikatnya tidak mencapai maksud syarak maka inilah dia seorang tukang pembuat bid’ah.”
“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ianya di sisi Allah adalah amat besar.” (An-Nur :15).
Maka dari sikap ini kita lihat banyak kacau bilau dalam masyarakat melayu hari ini serta umat Islam umumnya di pelbagai Negara dan daerah kekacauan dan keraguan yang menyesakkan apabila kejahilan dan kebenaran yang tidak penuh bertemu sehingga fitnah tidak pernah kehabisan dari terus membakar umat Islam.
Sekalipun ada kalanya pendapat mereka diperalatkan oleh pihak pemerintah dan kumpulan tertentu untuk kepentingan duniawi dan berhasrat serta bermaksud yang tidak baik terhadap hukum syarak.
Sesungguhnya di dalam Islam, gelaran, kemasyhuran serta kedudukan title bukanlah menjadi sesuatu tujuan yang dibenarkan untuk dimiliki jika tidak ada keperluan daruri atau mendesak yang membawa kepada keperluan dan kemanfaatan akhirat.
Bahkan di dalam persoalan menuntut ilmu, mempelajari ilmu agama dengan tujuan mendapat kedudukan dan juga gelaran penghormatan dari manusia maka hukumnya ialah haram dan berdosa ini berdalilkan kepada hadith Baginda rasulullah salallahualaihiwasalam yang pernah bersabda : “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk menyaingi para ulama, atau untuk berdebat dan mengalahkan orang yang bodoh atau untuk mencari wajah manusia kepadanya maka Allah akan menempatkan dirinya di dalam api neraka”. (Hadith sahih riwayat Tirmidzi dan Ibn Majah).
Ketiadaan Syura dalam Dakwah
Permasalahan yang kerap belaku dalam situasi dakwah hari ini ialah apabila umat Islam mengabaikan konsep syura (mesyuarat) dan perbincangan di antara ulama dalam dakwah sehingga mengakibatkan berjalannya dakwah itu sebagai suatu yang dimonopoli oleh kumpulan tertentu dan berlaku berdasarkan ijtihad individu.
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan solat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (As-Syura : 38).
Kita melihat tokoh-tokoh di tanahair baik Dr Asri dan lain-lain menjadi suatu yang biasa apabila mengeluarkan pendapat dan pandangan seolah-olah mereka ialah ulama bertaraf mujtahid dan kurang menjalankan gerak kerja yang disebut syura di kalangan ahlul ahli wal aqdi (mereka yang ahli dan layak dalam bermesyuarat dan membuat keputusan) yang memiliki kelayakkan dalam memberikan pandangan dalam sesuatu hal sehingga setiap masalah dapat diselesaikan dengan cara yang terbaik dan menepati maksud syarak serta menepati keperluan waqi (semasa).
Para imam mazhab benar-benar meninggalkan kepada kita semua teladan yang baik dalam masalah berfatwa dan keilmuan sehingga perlu dicontohi oleh para pelajar ilmu bukan hanya kepada kealiman mereka tetapi juga pada taqwa dan keimanan mereka.
Al-Imam Malik ra pernah berkata “ Barangsiapa yang ditanya akan suatu persoalan maka sebelum dia menjawabnya hendaklah terlebih dahulu menyerahkan dirinya kepada pertimbangan syurga dan neraka dari perbuatannya itu apakah dia dapat melepaskan diri di akhirat kelak kemudian barulah dia boleh menjawab persoalan tersebut.”
Bahkan Imam Malik ra sendiri terkenal dengan jawapannya paling berhikmah iaitu “Aku tidak tahu” sehingga apabila seorang dari muridnya berkata apakah akan aku pulang memberitahu orang-orang ramai mengenai engkau tidak tahu dalam masalah ini ? Lalu dijawab oleh imam dengan berkata : “Ya, beritahu kepada orang-orang lain bahawa aku tidak tahu”. Demikianlah wara’ dan taqwa mereka kepada Allah swt mengatasi ilmu mereka.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. kerana itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad (berazam), Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali-Imran : 159).
Berkata Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya yang menukilkan riwayat dari Ibn Mardawaih bahawa Ali ra telah ditanya tentang maksud apakah “berazam & membulatkan tekad” di dalam ayat di atas maka dijawab bermesyuarat dengan mereka yang mempunyai pandangan (pengetahuan) kemudian mengikuti pandangan mereka.
Pendakwah Harus Melahirkan Madrasah Bukan Pengikut
Para pendakwah dan tokoh ilmuan harus melahirkan madrasah dan sekolah yang melahirkan generasi Islam dari didikan yang sahih dan bukannya melahirkan pengikut yang jahil serta tidak memiliki apa-apa ilmu sebaliknya menuruti guru-guru-nya atau menaqalkan (memetik) ayat-ayat dan hujah-hujah dari buku-buku tulisan gurunya.
Kejayaan seseorang pendakwah itu bukanlah dari hasil peribadi yang dicapai sebaliknya dari ilmu dan hasil usaha sekolah yang dibentuk olehnya sehingga menjadikan dirinya sebagai contoh dan teladan kepada umat. Ubay bin Ka'ab berkata : 'Sesungguhnya sederhana di jalan ini dan (di atas) sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh tetapi dalam menentang jalan ini dan bercanggah dengan sunnah. Maka lihatlah amalan kalian jika dalam keadaan bersungguh-sungguh atau sederhana hendaknya di atas manhaj (cara pemahaman dan pengamalan) para Nabi dan sunnah mereka.'
Rasulullah menghasilkan sekolah Al-Qur’an yang darinya telah lahir para sahabat dengan tarbiyah rabbani maka demikian juga ulama-ulama Islam selepas itu yang terkenal seperti Al-Imam Ibn Taimiyyah ra yang menghasilkan madrasah beliau sehingga darinya lahir para Imam hebat seperti Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah ra, Imam Ibn Katsir ra dan juga Al-Imam Adz-Zahabi dan lain-lain.
Suatu hari Dr Mohd Asri dan lain-lain tokoh yang ada hari ini akan kembali menemui Allah swt dan segala pencapaian peribadi seperti menjadi mufti, menjawat jawatan ahli lembaga fatwa kebangsaan atau sebagainya langsung tidak membawa manfaat kecuali apabila ianya menghasilkan satu generasi baru yang membawa perubahan kepada apa yang dikehendaki oleh kitab dan sunnah.
Dr Mohd Asri dan lain-lain tokoh harus menjadi seperti ulama yang bertindak sebagai guru yang tidak menyimpan buah maut dari para pelajarnya sebaliknya menjadi guru yang melatih anak-anak murid supaya menjadi lebih hebat dari dirinya sendiri sehingga dengan itu barulah generasi dakwah yang berlandaskan kitab dan sunnah akan terbentuk.
Jangan Menyeru Kepada Seruan Peribadi
Seruan dakwah harus dikembalikan kepada Allah swt kerana Dialah pemilik segala seruan dan sebaik-baik seruan ialah kembali kepada Allah swt dan mengabdikan diri kepada-Nya. Dakwah salafiyah di Malaysia seringkali terdedah kepada pelbagai masalah disebabkan ianya digerakkan oleh tokoh peribadi dan seruan dakwah berbentuk seruan kepada peribadi.
Alangkah baiknya nasihat Al-fadhil Syeikh Soleh Ibn Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan yang menasihati para pemuda di dalam kitabnya dengan mengatakan “Ikutilah haq (kebenaran) itu walau siapa pun dia dan janganlah mengikuti orang-orang nanti kamu akan menyalahi kebenaran”.(Menjawab Persoalan-persoalan Baru m/s 149).
Berkata Al-Auzaie ra : “ Kami mengikuti sunnah daripada sumbernya” ( lihat Syarh Sunnah oleh Al-Lalikaie).
Berkata Ibn Abbas ra : “ Aku berasa bimbang diturunkan ke atas kamu batu daripada langit apabila aku mengatakan Allah swt berfirman sekian maka kamu bahkan mengatakan telah berkata Abu Bakar dan Umar sekian dan sekian”. (lihat di dalam Musnad Ahmad no. 337/1 dan disahihkan isnadnya oleh Syeikh Ahmad Syakir ra).
Hal ini telah disyarahkan oleh Syeikhul Islam Muhammad Abd Wahab di dalam Kitab Tauhid dan dijelaskan oleh Syeikh Soleh ibn Fauzan dengan berkata sekiranya ta’asub terhadap pendapat dan tokoh agung seperti Abu Bakar ra dan Umar ra yang merupakan sebaik manusia selepas para nabi tanpa dalil adalah dilarang maka apatah lagi ta’asub dan mengikuti pendapat mereka yang lain ?
Maka sudah tentu sekali pendapat Mufti Kerajaan Negeri Selangor menduduki kedudukan yang boleh diterima dan ditolak berdasarkan hujah dan dalil yang dikemukakan oleh beliau dan diperbincangkan oleh para ahli ilmu dan ulama.
“Janganlah kamu menjadikan panggilan (seruan) Rasul diantara kamu seperti panggilan (seruan) sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cubaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur : 63).
Seruan kepada peribadi seperti mengajak para pemuda dan pemudi meminati Dr Mohd Asri Zainul Abidin sebagai langkah berdakwah konon untuk mendekatkan para pemuda kepada jalan salaf soleh bukanlah cara yang baik dan tepat. Sebaliknya membawa para pemuda terus mendekati isi kandungan dakwah melalui contoh teladan dan juga isi dasar kandungan kitab dan sunnah itulah yang terbaik.
Mengikuti Dr Mohd Asri tidak menjamin apa-apa keselamatan di sisi Allah swt sebaliknya mengikuti kebenaran yang dibawa oleh para ulama termasuk apa-apa yang benar yang dibawa oleh Dr Mohd Asri itulah yang dapat membawa kepada keselamatan di dunia dan di akhirat.
Penawar Gejala Ta’asub
Mengubati masalah ta’asub bukanlah mudah sebaliknya memerlukan kepada pelbagai usaha baik daripada pihak masyarakat dan juga para ulama dan tokoh-tokoh yang menjadi bahan idola serta ta’asub masyarakat.
Permasalahan ini perlu dikupas dan diperhalusi oleh setiap umat Islam yang benar-benar mahu mencari ubat dan penawar kepada penyakit dan virus yang menimpa umat Islam dan mahukan kebaikan, perpaduan dan keselamatan bagi semua umat Islam.
Mengikhlaskan Niat Kerana Allah
Menjadikan diri kita semua ikhlas kerana Allah swt maka insyaAllah segala permasalahan akan diberikan hidayah oleh Allah dan pertunjuk serta jalan keluar yang diredhai-Nya. Mengikhlaskan niat kerana Allah swt semata-mata akan melapangkan kita buat seketika dan membolehkan akal waras kembali berfikir dan meneliti setiap hujah dan pandangan daripada pelbagai pendapat sehingga boleh mencelikkan mata kita dari sikap ta’asub dan kekaguman yang melampau.
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah iaitu tuhan sekalian alam.” (Al-An’am : 162).
Benarlah sabda baginda rasulullah salallahualaihiwasalam : “ Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah akan kebaikan kepadanya maka diberikan kepadanya akan kefahaman dalam agama.” (Hadith sahih riwayat Bukhari dan Muslim).
Allah yang mengehendaki kita beroleh hidayah, apakah kita pernah lupa kemungkinan suatu ketika dahulu kita bukanlah seperti apa yang kita ada pada hari ini ? Lupakah kita suatu masa dahulu mungkin kita tergolong di kalangan mereka yang melakukan maksiat lalu dengan hidayah dari-Nya kita beroleh pengetahuan dan perubahan sehingga mendapat kedudukan seperti sekarang ?
Bagi mereka yang mempunyai sikap ta’asub kepada tokoh tertentu pastinya boleh menginsafi bahawa sebelum mereka menjadi pengikut kepada tokoh tersebut mereka pernah menjadi sekian dan sekian dan bagaimana mereka boleh diberi hidayah oleh Allah untuk menemui kefahaman yang sedia ada sekarang maka sudah pasti mereka juga boleh diberikan lagi hidayah oleh Allah untuk terus menemui kebenaran dari ilmu Allah swt yang tidak akan pernah putus.
“Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan Katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Thaha : 114).
Meluaskan ilmu pengetahuan dan maklumat
Sesiapa pun harus menyedari ilmu mereka terhad dibanding kebenaran hakiki yang merupakan ilmu Allah swt. Tidak akan selesai pengajian dan penyelidikkan mencari kebenaran sekalipun menjawat pangkat mufti atau memiliki phd.
قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَاداً لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَداً
“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)".(Al-Kahfi : 109).
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, nescaya tidak akan habis (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Luqman : 27).
Perlulah diketahui segala fatwa dan keputusan hukum agama yang diputuskan tanpa mempunyai dalil yang qathi serta jelas dari kitab dan sunnah disebut sebagai keputusan zanni (sangkaan) yang beroleh pahala ijtihad dan tidak mencapai hukum mutlak dan ganjaran serta kebenarannya hanyalah diketahui oleh Allah swt.
Ta’asub kepada pendapat atau pegangan dalam sesuatu masalah agama yang tidak mempunyai dalil yang qathie atau yakin dan jelas adalah merupakan sesuatu yang tidak wajar disebabkan ianya boleh jadi tersilap dan tersalah tetapi disisi Allah selama kita memenuhi syarat-syarat pelaksanaannya maka ianya dianggap benar disisi Allah swt.
Bergerak Secara Berjemaah
Gejala Ta’asub dapat dielakkan dengan mengerakkan usaha dakwah secara berjemaah dan bermesyuarat dengan ahli ilmu yang mempunyai kedudukan di dalam agama serta taqwa.
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah : 2).
Perintah berjemaah merupakan satu perintah yang disebut sebagai wajib berdasarkan kepada hadith baginda yang diriwayatkan oleh Ibn Umar ra yang bermaksud “ Akan datang kepada umatku perkara seperti yang pernah menimpa kaum bani Israel, selangkah demi selangkah sehingga akan berlaku dikalangan mereka yang berzina dengan ibunya secara terang-terangan. Sehingga ada umatku akan melakukan sedemikian. Sesungguhnya umat bani Israel berpecah kepada 72 golongan dan akan berpecah umatku kepada 73 golongan dan kesemuanya di neraka kecuali satu golongan.
Maka bertanyalah para sahabat ra kepada baginda akan siapakah golongan yang satu itu wahai rasulullah ? Maka jawab baginda “ Golongan yang aku berada di dalamnya dan para sahabatku .” (Hadith Hasan, riwayat Tirmidzi no.26 Jilid 5, Hakim no.218 Jilid 1).
Iaitu jalan serta manhaj yang beradanya nabi dan para sahabatnya iaitu jalan salaf soleh dalam iktiqad (kepercayan) serta aqidah mereka itulah yang benar.
Manakala kalimah dan pengertian jemaah berdasarkan hadith pula boleh dilihat pada riwayat yang pelbagai dari baginda rasulullah salallahualaihiwasalam yang menyebut perihal jemaah.
Seperti yang dikeluarkan oleh At- Tibrani dengan sanad yang sahih akan sabda baginda nabi salallahualaihiwasalam :
عليكم بالجماعة فان يد الله على الجماعة
“Hendaklah kamu berada dalam jemaah sesungguhnya tangan Allah itu berada dalam jemaah” (Riwayat Tibrani 447 /12).
Dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi ra , dari riwayat Ibn Abbas ra bahawa baginda pernah bersabda :
يد الله مع الجما عة
“Tangan Allah itu bersama jemaah” (Riwayat Tirmidzi m/s 367 Jilid 6).
Juga melalui riwayat yang lain di tambah dengan
فان الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد
“ Sesungguhnya Syaitan itu bersama seorang dan menjauh apabila berdua” (riwayat Ahmad dan Nasaie, Tirmidzi dan Ibn hibban dan lain-lain.)
Juga dari riwayat Abi Dzar ra yang berkata bahawa telah bersabda rasulullah salallahualaihiwasalam :
من فا رق الجماعة شبرا فقد خلع الله ربقه ألاسلام من عنفه
“Barangsiapa yang memisahkan dirinya dari jemaah walaupun sejengkal maka Allah akan mencabut ikatan Islam dari tengkuknya” (Hadith sahih riwayat Abu Daud no. 4750).
Sebenarnya masih banyak hadith yang menyebut mengenai perihal kewajipan melazimi dan berada dalam jemaah dan larangan dari keluar atau mengasingkan diri dari jemaah.
Juga disebut melalui riwayat Umar Ibn Khattab ra menyebut bersabdanya baginda rasulullah salallahualaihiwasalam :
من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة
“Barangsiapa yang menginginkan tempat tinggal di syurga maka hendaklah berada dalam jemaah” (Hadith Sahih riwayat Tirmidzi no 2165, Ibn Majah dan Humaidi).
Imam Al-Hafidz Mubarakfuri dalam kitabnya Syarah Jami’ Tirmidzi Tuhfatul Ahwazi mensyarahkan hadith ini dengan menyebut kewajipan berjemaah dalam hadith ini ialah bermaksud menetapkan diri bersama kepimpinan masyarakat Islam kerana Islam itu ialah sudah merupakan sebuah jemaah dan barangsiapa yang memisahkan dirinya dan keluar dari jemaah (masyarakat Islam) itu atau menyisihkan diri (membuat jemaah baru) maka sesungguhnya dia telah menghilangkan islam dari dirinya seperti apa yang disebut oleh hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah secara marfu dalam Sahih Muslim yang menyebut :
من خرج من الطاعة و فرقوا الجماعة فمات مات ميتة جاهلية
“ Barangsiapa yang keluar dari ketaatan kepada kepimpinan umat Islam dan memecah belahkan jemaah (masyarakat Islam) maka matinya merupakan kematian jahiliyah”
Bahkan berkata lagi Hafidz, hal ini juga disebut dalam hadith yang diriwayatkan oleh Syaikhain (Imam Bukhari dan Muslim) dari Huzaifah al-yamani ra akan hadith yang berbunyi :
تلزم جماعة المسلمين وامامهم “ Hendaklah kamu beriltizam dengan jemaah umat Islam dan kepimpinannya” dan dalam riwayat Khalid bin Sabi’ di sisi Tibrani menambah apabila kamu melihat Khalifah maka taatilah dan apabila tiada khalifah maka berperanglah ( Sila lihat Tuhfatul Ahwazi m/s 385 Jilid 6).
Menurut para ulama salaf soleh seperti apa yang diriwayatkan oleh Muhammad Ibn Sirrin dari Ibn Mas’ud ra bahawa yang dimaksudkan jemaah itu ialah para sahabat baginda dan sebahagiannya mengatakan mereka itu ialah para ulama kerana para ulama itu pewaris nabi salallahualaihiwasalam ان العلماء ورثة الأنبياء (Hadith Sahih, riwayat Tirmidzi no. 2606, Abu Daud dan Ibn Majah).
Berdasarkan situasi pada hari ini, jemaah yang berbentuk organisasi dan membawa kefahaman yang sahih yang diperjuangkan oleh rasulullah dan para sahabat boleh memainkan peranan sebagai penyelamat umat Islam daripada kesesatan dan kejahilan. Tidak ada halangan dan kedosaan bergerak menjalankan dakwah secara berjemaah bahkan itulah yang paling afdhal selain membawa berkah dan kebaikan kepada umat Islam. Disebabkan dengan membawa dakwah secara berjemaah maka umat Islam selain teratur dan tersusun maka harakah dakwah juga bebas dari godaan syaitan secara peribadi dan ancaman-ancaman penyelewengan.
Wallahualam.
p/s :
Sekiranya anda tidak ta'asub maka anda tidak perlu risau kepada artikel ini
Permasalahan ta’asub yang berlaku di kalangan umat Islam segalanya disebabkan kejahilan dan kelemahan ilmu serta kekurangan maklumat sehingga melahirkan rasa rendah diri yang ketara lalu wujud perasaan kagum dan penghormatan yang melampau terhadap seseorang yang mempunyai kelebihan yang tidak kita punyai.
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (Hud : 112).
Dr Mohd Asri Zainul Abidin merupakan seorang ulama muda tanahair yang berjaya membawa dakwah dan perubahan yang bermanfaat serta cukup bagus kepada umat Islam di Malaysia. Beliau bukan sahaja memiliki keilmuan yang mendalam tetapi juga memiliki peribadi yang memikat. Tidak hairan kenapa dengan cepat beliau berjaya membuka mata ramai pihak dan menarik ramai umat Islam kepada dakwah seruan yang dibawanya iaitu memartabatkan kitab dan sunnah.
Pada hari ini nama Dr Mohd Asri Zainul Abidin, Mufti Kerajaan Negeri Perlis semakin terkenal dan menjadi bahan perbualan di mana-mana disebabkan pelbagai isu yang diketengahkan oleh beliau dan ulasan serta komen beliau yang mengundang perhatian ramai. Mempunyai penyokong dari pelbagai lapisan masyarakat khususnya golongan pelajar IPT dan universiti serta golongan professional menjadikan beliau cukup terkenal dan memiliki kekuatan suara dalam masyarakat.
Dr Asri mempunyai pengikut dan kumpulan penyokong dari golongan pelajar seperti di Universti Islam Antarabangsa Malaysia, ustaz-ustaz muda keluaran Jordan dan Syiria, laman-laman web seperti Al-Ahkam.net yang merupakan laman pro-Dr Asri , markaz persendirian yang bernama Markaz Imam Ibn Qayyim di Pulau Pinang juga sehingga kepada orang politik seperti Dato Sri Shahidan Kasim, Menteri Besar Negeri Perlis.
Beliau sekalipun merupakan bekas pelajar kepada Dr Radhi USM, juga merupakan tokoh angkatan baru yang menyertai perjuangan aliran salafi di Malaysia berbanding orang-orang lama di Yayasan Anda, yayasan Al-Khadeem milik Ustaz Hussain Yee, Yayasan An-Nidda dan tokoh-tokohnya seperti Dr Abdullah Yassin, Prof Dr Johari Mat, Ustaz Abdullah Al-Qari di Kelantan, Ustaz Rasul Dahri di Johor yang suatu ketika dahulu pernah dihebohkan juga hampir dilantik menjadi Mufti Perlis dan lain-lain tokoh lama yang banyaknya sudah dilupakan atau senyap dari perbualan orang namun ternyata Dr Mohd Asri berbeza dan lain dari yang lain apabila beliau mempunyai kredebiliti tersendiri.
Beliau bijak memainkan peranan dan kesempatan serta mempunyai kekuatan dengan gerakan pelajar yang merupakan sesuatu yang unik serta berbeza dari tokoh-tokoh salafi Malaysia sebelum ini yang jauh hubungan mereka dengan pelajar universiti. Selain itu ceramah dan kuliah Dr Mohd Asri dihadiri oleh golongan professional dan orang kenamaan yang membentuk satu kelebihan kepada dakwah yang dibawa oleh beliau.
Usaha dakwah beliau yang membawa seruan kembali kepada kitab dan sunnah dan mendaulatkan isi kandungannya mendapat sambutan banyak pihak serta kejayaan beliau menghadapi tentangan dari pihak-pihak yang kurang disukai ramai seperti Astora Jabat dan lain-lain menaikkan lagi nama beliau di mata masyarakat.
Ciri-ciri Ta’asub
Persoalan Ta’asub muncul di dalam mana-mana sahaja kelompok umat Islam dan ianya ibarat satu penyakit yang tidak dapat dipisahkan sebaliknya terus hidup menjadi parasit dalam umat Islam.
Gejala Ta’asub dapat dilihat pada ciri-ciri yang dimiliki oleh umat Islam terhadap tokoh-tokoh tertentu atau pada fahaman tertentu seperti :
1) Menganggap apa yang disampaikan oleh guru atau fahaman mereka sebagai mesti benar dan tidak akan salah sama sekali
2) Menganggap apa yang diucapkan oleh guru dan tokoh tertentu mesti bertepatan dengan kitab dan sunnah atau membawa maksud dari kitab dan sunnah
3) Menyakini kelebihan guru dan fadhilatnya yang melebihi orang lain sekaligus menjamin kebenaran pendapatnya
4) Merasakan gurunya sudah cukup menjadi rujukannya tanpa perlu melihat kepada pendapat orang lain atau kepada ulama dan tokoh lain
5) Menyakini jalan perjuangan yang dibawa oleh gurunya bertepatan dengan kitab dan sunnah serta mesti disokong walaupun tidak memahaminya atau masih belum memahami isi kandungan kitab dan sunnah
Ciri-ciri Kecil (yang menandakan bibit ta’asub kepada Dr Mohd Asri)
a) Hanya mendengar dan mengambil ilmu dari Dr Mohd Asri dan yang sealiran dengannya sahaja tanpa melihat pendapat dan tokoh lain
b) Mengkagumi Dr Mohd Asri dengan berlebih-lebihan dan mengangkat beliau melebihi yang sepatutnya atau melebihi kelayakkannya misalnya mengatakan beliau ulama mujtahid atau konon pernah berguru dengan ulama besar seperti Syeikh Albani dan lain-lain sedangkan hakikatnya tidak dan sebagainya
c) Ghairah menyampaikan segala khabar dan berita berkait Dr Mohd Asri sekalipun hakikatnya tidak penting dan merupakan hal yang remeh
d) Seronok mendapat peluang berhubung dekat dengan Dr Mohd Asri dan mendampinginya melebihi tokoh-tokoh lain sekalipun tidak salah tetapi hal ini sudah mula menunjukkan bibit-bibit kekaguman yang boleh merosakkan.
Saya yakin mereka yang selama ini ta’asub kepada Dr Mohd Asri pasti akan memberikan komen terhadap tulisan saya ini, bahkan mungkin ada yang akan memarahi saya tetapi demi kerana mahukan kebaikan kepada umat Islam juga kerana menyayangi tokoh ulama muda kita maka perlu saya tegur umat Islam supaya jangan ta’asub kerana jika tidak maka sudah pasti dakwah seruan Dr Asri sendiri yang melarang umat Islam ta’asub akan gagal apabila umat Islam hanya berubah arah dari ta’asub kepada aliran lama menjadi ta’asub kepada Dr Mohd Asri.
Sekiranya tidak ada sesiapa yang ta’asub kepada Dr Mohd Asri maka artikel ini tidak akan dimarahi sebaliknya diterima dengan terbuka dan gembira sebagai salah satu nasihat yang baik kerana agama itu ialah nasihat.
Sabda baginda salallahualaihiwasalam kepada Tamim Ad-Dari ra :
الدين النصيحة , الدين النصيحة, الدين النصيحة
“ Sesungguhnya Agama itu ialah nasihat, sesungguhnya agama itu ialah nasihat, sesungguhnya Agama itu ialah nasihat.”
(Hadith Sahih, riwayat Muslim no. 95 Bab 55).
Perihal Gejala Ta’asub
Masalah ta’asub sudah lama merebak dan menjadi virus yang mendaging dalam jasad umat Islam sejak zaman berzaman. Pelbagai ubat yang dibawa oleh para ulama untuk menghilangkan virus ini akhirnya berubah menjadi virus baru yang terus beranak- pinak.
“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu berdiri kerana Allah, menjadi saksi dengan keadilan. Janganlah kerana kebencianmu terhadap satu kaum, sehingga membuatkan kamu tidak berlaku adil. Berlaku adillah, kerana keadilan itu lebih dekat kepada taqwa dan takutlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.” (Al-maidah : 8).
Ta’asub muncul daripada kelemahan ilmu manusia yang seterusnya membawa kepada perasaan lemah dan rendah diri serta mengkagumi seseorang atau fahaman tertentu sebagai agung dan mulia. Sikap ini membawa kepada ketaatan dan kepatuhan tanpa perintah terhadap peribadi orang yang dikagumi atau dihormati.
Baginda rasulullah salallahualaihiwasalam sekalipun sebagai seorang rasul utusan Allah dan merupakan hamba Allah yang paling mulia melarang umat-Nya dari memiliki sikap ghulu (melampau) dan ta’asub terhadap baginda.
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas ra bahawa baginda rasulullah bersabda : “ Berhati-hatilah kamu daripada ghulu (melampau) dalam agama kerana sesungguhnya orang sebelum kamu telah dihancurkan disebabkan sikap melampau mereka dalam agama.” (Hadith riwayat Ahmad dan lain-lain).
“ Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama, Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Faathir : 28).
Para ahli ilmu menyebutkan bahawa dimaksudkan ulama itu ialah mereka yang memiliki perasaan takut kepada Allah swt dan disebabkan itulah mereka mendapat kedudukan sebagai ulama dari ilmu yang dimiliki membawa mereka menuju kepada takut kepada Allah swt lalu menghasilkan ketaatan.
Sehingga para ulama menyebutkan orang yang paling banyak berfatwa di kalangan kamu ialah orang yang paling berani masuk ke dalam neraka lantaran disebabkan banyak berfatwa mendedahkan dirinya kepada pelbagai kesalahan dan juga tanggungjawab yang besar yang perlu dipikul dari keputusannya kerana melibatkan kehidupan dan pengaruh kepada orang lain.
Utbah ibn Muslim pernah meriwayatkan bahawa beliau pernah berkawan dengan Ibn Umar ra (Abdullah Ibn Umar ra) selama tiga puluh empat bulan dan seringkali ketika beliau ditanya dengan sesuatu persolan maka djawab oleh beliau dengan berkata : “Aku tidak tahu”.
Demikian juga Ibn Abi Laila ra yang menyebutkan aku pernah melihat seratus dua puluh lebih para sahabat rasulullah salallahualaihiwasalam dari kalangan ansar yang apabila ditanyakan dengan sesuatu permasalahan agama maka dia menyerahkan kepada yang lain sehingga sahabat yang lain itu menyerahkan kepada yang lain sehingga seringkali persoalan itu kembali kepada sahabat yang pertama ditanyakan tadi.
Setiap yang diusahakan di dunia hari ini akan dipersoalkan oleh Allah swt di akhirat maka hendaklah kita berhati-hati khasnya di dalam ilmu agama yang memerlukan kepada ahli di dalam bidangnya.
Gejala ta’asub tidak pernah hilang walaupun pelbagai ulama muncul menyeru supaya umat Islam menghentikan ta’asub kerana disebabkan beberapa faktor yang akan kita bincangkan.
Dakwah Fardhi Tidak Secara Jamaie
Permasalahan yang menimpa waqi (situasi) semasa hari ini ialah ramai tokoh-tokoh pendakwah muda dan mereka yang hebat ilmunya bergerak dengan berdakwah secara fardhi (individu) dan tidak secara jamaie. Hal ini membawa kepada perkembangan gejala ta’asub dengan serius.
Tokoh seperti Dr Mohd Asri Zainul Abidin lebih dikenali sebagai tokoh fardhi (individu) bukan jamaie (kumpulan) ini disebabkan kononnya fahaman salaf itu tidak boleh berorganisasi disebabkan pendapat sesetengah mereka yang termakan ubat bius kejahilan yang menganggap ianya bid’ah.
Disebabkan berorganisasi itu bid’ah maka kefahaman salafi yang dibius ini menganggap salafi mesti bergerak sebagai individu dan berjalannya kefahaman salafi itu mesti dengan bekerjasama dengan pihak pemerintah yang sekalipun zalim dan mencapai tahap taghut.
Mereka lalu menjadi tokoh-tokoh di dalam masyarakat yang segala tindak-tanduknya diputuskan oleh mereka sendiri melalui pendapat dan ijtihad mereka lalu segala keputusan itu disokong oleh pelajar-pelajar mereka yang menjadi pengikut setia sebagai satu keputusan yang dari kitab dan sunnah.
Bahkan Imam Abu Ishak As-Syatibi ra telah memperingatkan umat Islam akan hakikat ini dengan menyebutkan di dalam kitabnya Al-Itishom m/s 173 jilid 2 dengan bermaksud : “ Sesungguhnya yang menjadi sebab utama bid’ah dan pertikaian yang membawa kepada perpecahan umat dan malapetaka ialah seseorang mempercayai dirinya ialah seorang mujtahid atau termasuk ahlul ilmi wal ijtihad dalam ilmu agama sedangkan hakikatnya dirinya belumlah mencapai tahap itu.
Maka apabila dia beramal dengan pendapatnya maka dianggap pendapatnya ialah sebagai pendapat ulama dan khilafnya sebagai khilaf ulama lalu baik hal itu berlaku di dalam hal yang furu (cabang) atau hal yang mendasar dan usul baik iktikad dan amaliyah sehingga seringkali dia mengambil sesetengah hal yang juz’iyah atau furu’iyah (cabang) dari syariat lalu diruntuhkan hal yang kulliyat atau usul dengannya atau sebaliknya sehinggalah jadi apa yang zahir itu sepintas lalu seolah menepati makna tetapi hakikatnya tidak mencapai maksud syarak maka inilah dia seorang tukang pembuat bid’ah.”
“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ianya di sisi Allah adalah amat besar.” (An-Nur :15).
Maka dari sikap ini kita lihat banyak kacau bilau dalam masyarakat melayu hari ini serta umat Islam umumnya di pelbagai Negara dan daerah kekacauan dan keraguan yang menyesakkan apabila kejahilan dan kebenaran yang tidak penuh bertemu sehingga fitnah tidak pernah kehabisan dari terus membakar umat Islam.
Sekalipun ada kalanya pendapat mereka diperalatkan oleh pihak pemerintah dan kumpulan tertentu untuk kepentingan duniawi dan berhasrat serta bermaksud yang tidak baik terhadap hukum syarak.
Sesungguhnya di dalam Islam, gelaran, kemasyhuran serta kedudukan title bukanlah menjadi sesuatu tujuan yang dibenarkan untuk dimiliki jika tidak ada keperluan daruri atau mendesak yang membawa kepada keperluan dan kemanfaatan akhirat.
Bahkan di dalam persoalan menuntut ilmu, mempelajari ilmu agama dengan tujuan mendapat kedudukan dan juga gelaran penghormatan dari manusia maka hukumnya ialah haram dan berdosa ini berdalilkan kepada hadith Baginda rasulullah salallahualaihiwasalam yang pernah bersabda : “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk menyaingi para ulama, atau untuk berdebat dan mengalahkan orang yang bodoh atau untuk mencari wajah manusia kepadanya maka Allah akan menempatkan dirinya di dalam api neraka”. (Hadith sahih riwayat Tirmidzi dan Ibn Majah).
Ketiadaan Syura dalam Dakwah
Permasalahan yang kerap belaku dalam situasi dakwah hari ini ialah apabila umat Islam mengabaikan konsep syura (mesyuarat) dan perbincangan di antara ulama dalam dakwah sehingga mengakibatkan berjalannya dakwah itu sebagai suatu yang dimonopoli oleh kumpulan tertentu dan berlaku berdasarkan ijtihad individu.
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan solat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (As-Syura : 38).
Kita melihat tokoh-tokoh di tanahair baik Dr Asri dan lain-lain menjadi suatu yang biasa apabila mengeluarkan pendapat dan pandangan seolah-olah mereka ialah ulama bertaraf mujtahid dan kurang menjalankan gerak kerja yang disebut syura di kalangan ahlul ahli wal aqdi (mereka yang ahli dan layak dalam bermesyuarat dan membuat keputusan) yang memiliki kelayakkan dalam memberikan pandangan dalam sesuatu hal sehingga setiap masalah dapat diselesaikan dengan cara yang terbaik dan menepati maksud syarak serta menepati keperluan waqi (semasa).
Para imam mazhab benar-benar meninggalkan kepada kita semua teladan yang baik dalam masalah berfatwa dan keilmuan sehingga perlu dicontohi oleh para pelajar ilmu bukan hanya kepada kealiman mereka tetapi juga pada taqwa dan keimanan mereka.
Al-Imam Malik ra pernah berkata “ Barangsiapa yang ditanya akan suatu persoalan maka sebelum dia menjawabnya hendaklah terlebih dahulu menyerahkan dirinya kepada pertimbangan syurga dan neraka dari perbuatannya itu apakah dia dapat melepaskan diri di akhirat kelak kemudian barulah dia boleh menjawab persoalan tersebut.”
Bahkan Imam Malik ra sendiri terkenal dengan jawapannya paling berhikmah iaitu “Aku tidak tahu” sehingga apabila seorang dari muridnya berkata apakah akan aku pulang memberitahu orang-orang ramai mengenai engkau tidak tahu dalam masalah ini ? Lalu dijawab oleh imam dengan berkata : “Ya, beritahu kepada orang-orang lain bahawa aku tidak tahu”. Demikianlah wara’ dan taqwa mereka kepada Allah swt mengatasi ilmu mereka.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. kerana itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad (berazam), Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali-Imran : 159).
Berkata Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya yang menukilkan riwayat dari Ibn Mardawaih bahawa Ali ra telah ditanya tentang maksud apakah “berazam & membulatkan tekad” di dalam ayat di atas maka dijawab bermesyuarat dengan mereka yang mempunyai pandangan (pengetahuan) kemudian mengikuti pandangan mereka.
Pendakwah Harus Melahirkan Madrasah Bukan Pengikut
Para pendakwah dan tokoh ilmuan harus melahirkan madrasah dan sekolah yang melahirkan generasi Islam dari didikan yang sahih dan bukannya melahirkan pengikut yang jahil serta tidak memiliki apa-apa ilmu sebaliknya menuruti guru-guru-nya atau menaqalkan (memetik) ayat-ayat dan hujah-hujah dari buku-buku tulisan gurunya.
Kejayaan seseorang pendakwah itu bukanlah dari hasil peribadi yang dicapai sebaliknya dari ilmu dan hasil usaha sekolah yang dibentuk olehnya sehingga menjadikan dirinya sebagai contoh dan teladan kepada umat. Ubay bin Ka'ab berkata : 'Sesungguhnya sederhana di jalan ini dan (di atas) sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh tetapi dalam menentang jalan ini dan bercanggah dengan sunnah. Maka lihatlah amalan kalian jika dalam keadaan bersungguh-sungguh atau sederhana hendaknya di atas manhaj (cara pemahaman dan pengamalan) para Nabi dan sunnah mereka.'
Rasulullah menghasilkan sekolah Al-Qur’an yang darinya telah lahir para sahabat dengan tarbiyah rabbani maka demikian juga ulama-ulama Islam selepas itu yang terkenal seperti Al-Imam Ibn Taimiyyah ra yang menghasilkan madrasah beliau sehingga darinya lahir para Imam hebat seperti Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah ra, Imam Ibn Katsir ra dan juga Al-Imam Adz-Zahabi dan lain-lain.
Suatu hari Dr Mohd Asri dan lain-lain tokoh yang ada hari ini akan kembali menemui Allah swt dan segala pencapaian peribadi seperti menjadi mufti, menjawat jawatan ahli lembaga fatwa kebangsaan atau sebagainya langsung tidak membawa manfaat kecuali apabila ianya menghasilkan satu generasi baru yang membawa perubahan kepada apa yang dikehendaki oleh kitab dan sunnah.
Dr Mohd Asri dan lain-lain tokoh harus menjadi seperti ulama yang bertindak sebagai guru yang tidak menyimpan buah maut dari para pelajarnya sebaliknya menjadi guru yang melatih anak-anak murid supaya menjadi lebih hebat dari dirinya sendiri sehingga dengan itu barulah generasi dakwah yang berlandaskan kitab dan sunnah akan terbentuk.
Jangan Menyeru Kepada Seruan Peribadi
Seruan dakwah harus dikembalikan kepada Allah swt kerana Dialah pemilik segala seruan dan sebaik-baik seruan ialah kembali kepada Allah swt dan mengabdikan diri kepada-Nya. Dakwah salafiyah di Malaysia seringkali terdedah kepada pelbagai masalah disebabkan ianya digerakkan oleh tokoh peribadi dan seruan dakwah berbentuk seruan kepada peribadi.
Alangkah baiknya nasihat Al-fadhil Syeikh Soleh Ibn Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan yang menasihati para pemuda di dalam kitabnya dengan mengatakan “Ikutilah haq (kebenaran) itu walau siapa pun dia dan janganlah mengikuti orang-orang nanti kamu akan menyalahi kebenaran”.(Menjawab Persoalan-persoalan Baru m/s 149).
Berkata Al-Auzaie ra : “ Kami mengikuti sunnah daripada sumbernya” ( lihat Syarh Sunnah oleh Al-Lalikaie).
Berkata Ibn Abbas ra : “ Aku berasa bimbang diturunkan ke atas kamu batu daripada langit apabila aku mengatakan Allah swt berfirman sekian maka kamu bahkan mengatakan telah berkata Abu Bakar dan Umar sekian dan sekian”. (lihat di dalam Musnad Ahmad no. 337/1 dan disahihkan isnadnya oleh Syeikh Ahmad Syakir ra).
Hal ini telah disyarahkan oleh Syeikhul Islam Muhammad Abd Wahab di dalam Kitab Tauhid dan dijelaskan oleh Syeikh Soleh ibn Fauzan dengan berkata sekiranya ta’asub terhadap pendapat dan tokoh agung seperti Abu Bakar ra dan Umar ra yang merupakan sebaik manusia selepas para nabi tanpa dalil adalah dilarang maka apatah lagi ta’asub dan mengikuti pendapat mereka yang lain ?
Maka sudah tentu sekali pendapat Mufti Kerajaan Negeri Selangor menduduki kedudukan yang boleh diterima dan ditolak berdasarkan hujah dan dalil yang dikemukakan oleh beliau dan diperbincangkan oleh para ahli ilmu dan ulama.
“Janganlah kamu menjadikan panggilan (seruan) Rasul diantara kamu seperti panggilan (seruan) sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cubaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur : 63).
Seruan kepada peribadi seperti mengajak para pemuda dan pemudi meminati Dr Mohd Asri Zainul Abidin sebagai langkah berdakwah konon untuk mendekatkan para pemuda kepada jalan salaf soleh bukanlah cara yang baik dan tepat. Sebaliknya membawa para pemuda terus mendekati isi kandungan dakwah melalui contoh teladan dan juga isi dasar kandungan kitab dan sunnah itulah yang terbaik.
Mengikuti Dr Mohd Asri tidak menjamin apa-apa keselamatan di sisi Allah swt sebaliknya mengikuti kebenaran yang dibawa oleh para ulama termasuk apa-apa yang benar yang dibawa oleh Dr Mohd Asri itulah yang dapat membawa kepada keselamatan di dunia dan di akhirat.
Penawar Gejala Ta’asub
Mengubati masalah ta’asub bukanlah mudah sebaliknya memerlukan kepada pelbagai usaha baik daripada pihak masyarakat dan juga para ulama dan tokoh-tokoh yang menjadi bahan idola serta ta’asub masyarakat.
Permasalahan ini perlu dikupas dan diperhalusi oleh setiap umat Islam yang benar-benar mahu mencari ubat dan penawar kepada penyakit dan virus yang menimpa umat Islam dan mahukan kebaikan, perpaduan dan keselamatan bagi semua umat Islam.
Mengikhlaskan Niat Kerana Allah
Menjadikan diri kita semua ikhlas kerana Allah swt maka insyaAllah segala permasalahan akan diberikan hidayah oleh Allah dan pertunjuk serta jalan keluar yang diredhai-Nya. Mengikhlaskan niat kerana Allah swt semata-mata akan melapangkan kita buat seketika dan membolehkan akal waras kembali berfikir dan meneliti setiap hujah dan pandangan daripada pelbagai pendapat sehingga boleh mencelikkan mata kita dari sikap ta’asub dan kekaguman yang melampau.
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah iaitu tuhan sekalian alam.” (Al-An’am : 162).
Benarlah sabda baginda rasulullah salallahualaihiwasalam : “ Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah akan kebaikan kepadanya maka diberikan kepadanya akan kefahaman dalam agama.” (Hadith sahih riwayat Bukhari dan Muslim).
Allah yang mengehendaki kita beroleh hidayah, apakah kita pernah lupa kemungkinan suatu ketika dahulu kita bukanlah seperti apa yang kita ada pada hari ini ? Lupakah kita suatu masa dahulu mungkin kita tergolong di kalangan mereka yang melakukan maksiat lalu dengan hidayah dari-Nya kita beroleh pengetahuan dan perubahan sehingga mendapat kedudukan seperti sekarang ?
Bagi mereka yang mempunyai sikap ta’asub kepada tokoh tertentu pastinya boleh menginsafi bahawa sebelum mereka menjadi pengikut kepada tokoh tersebut mereka pernah menjadi sekian dan sekian dan bagaimana mereka boleh diberi hidayah oleh Allah untuk menemui kefahaman yang sedia ada sekarang maka sudah pasti mereka juga boleh diberikan lagi hidayah oleh Allah untuk terus menemui kebenaran dari ilmu Allah swt yang tidak akan pernah putus.
“Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan Katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Thaha : 114).
Meluaskan ilmu pengetahuan dan maklumat
Sesiapa pun harus menyedari ilmu mereka terhad dibanding kebenaran hakiki yang merupakan ilmu Allah swt. Tidak akan selesai pengajian dan penyelidikkan mencari kebenaran sekalipun menjawat pangkat mufti atau memiliki phd.
قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَاداً لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَداً
“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)".(Al-Kahfi : 109).
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, nescaya tidak akan habis (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Luqman : 27).
Perlulah diketahui segala fatwa dan keputusan hukum agama yang diputuskan tanpa mempunyai dalil yang qathi serta jelas dari kitab dan sunnah disebut sebagai keputusan zanni (sangkaan) yang beroleh pahala ijtihad dan tidak mencapai hukum mutlak dan ganjaran serta kebenarannya hanyalah diketahui oleh Allah swt.
Ta’asub kepada pendapat atau pegangan dalam sesuatu masalah agama yang tidak mempunyai dalil yang qathie atau yakin dan jelas adalah merupakan sesuatu yang tidak wajar disebabkan ianya boleh jadi tersilap dan tersalah tetapi disisi Allah selama kita memenuhi syarat-syarat pelaksanaannya maka ianya dianggap benar disisi Allah swt.
Bergerak Secara Berjemaah
Gejala Ta’asub dapat dielakkan dengan mengerakkan usaha dakwah secara berjemaah dan bermesyuarat dengan ahli ilmu yang mempunyai kedudukan di dalam agama serta taqwa.
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah : 2).
Perintah berjemaah merupakan satu perintah yang disebut sebagai wajib berdasarkan kepada hadith baginda yang diriwayatkan oleh Ibn Umar ra yang bermaksud “ Akan datang kepada umatku perkara seperti yang pernah menimpa kaum bani Israel, selangkah demi selangkah sehingga akan berlaku dikalangan mereka yang berzina dengan ibunya secara terang-terangan. Sehingga ada umatku akan melakukan sedemikian. Sesungguhnya umat bani Israel berpecah kepada 72 golongan dan akan berpecah umatku kepada 73 golongan dan kesemuanya di neraka kecuali satu golongan.
Maka bertanyalah para sahabat ra kepada baginda akan siapakah golongan yang satu itu wahai rasulullah ? Maka jawab baginda “ Golongan yang aku berada di dalamnya dan para sahabatku .” (Hadith Hasan, riwayat Tirmidzi no.26 Jilid 5, Hakim no.218 Jilid 1).
Iaitu jalan serta manhaj yang beradanya nabi dan para sahabatnya iaitu jalan salaf soleh dalam iktiqad (kepercayan) serta aqidah mereka itulah yang benar.
Manakala kalimah dan pengertian jemaah berdasarkan hadith pula boleh dilihat pada riwayat yang pelbagai dari baginda rasulullah salallahualaihiwasalam yang menyebut perihal jemaah.
Seperti yang dikeluarkan oleh At- Tibrani dengan sanad yang sahih akan sabda baginda nabi salallahualaihiwasalam :
عليكم بالجماعة فان يد الله على الجماعة
“Hendaklah kamu berada dalam jemaah sesungguhnya tangan Allah itu berada dalam jemaah” (Riwayat Tibrani 447 /12).
Dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi ra , dari riwayat Ibn Abbas ra bahawa baginda pernah bersabda :
يد الله مع الجما عة
“Tangan Allah itu bersama jemaah” (Riwayat Tirmidzi m/s 367 Jilid 6).
Juga melalui riwayat yang lain di tambah dengan
فان الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد
“ Sesungguhnya Syaitan itu bersama seorang dan menjauh apabila berdua” (riwayat Ahmad dan Nasaie, Tirmidzi dan Ibn hibban dan lain-lain.)
Juga dari riwayat Abi Dzar ra yang berkata bahawa telah bersabda rasulullah salallahualaihiwasalam :
من فا رق الجماعة شبرا فقد خلع الله ربقه ألاسلام من عنفه
“Barangsiapa yang memisahkan dirinya dari jemaah walaupun sejengkal maka Allah akan mencabut ikatan Islam dari tengkuknya” (Hadith sahih riwayat Abu Daud no. 4750).
Sebenarnya masih banyak hadith yang menyebut mengenai perihal kewajipan melazimi dan berada dalam jemaah dan larangan dari keluar atau mengasingkan diri dari jemaah.
Juga disebut melalui riwayat Umar Ibn Khattab ra menyebut bersabdanya baginda rasulullah salallahualaihiwasalam :
من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة
“Barangsiapa yang menginginkan tempat tinggal di syurga maka hendaklah berada dalam jemaah” (Hadith Sahih riwayat Tirmidzi no 2165, Ibn Majah dan Humaidi).
Imam Al-Hafidz Mubarakfuri dalam kitabnya Syarah Jami’ Tirmidzi Tuhfatul Ahwazi mensyarahkan hadith ini dengan menyebut kewajipan berjemaah dalam hadith ini ialah bermaksud menetapkan diri bersama kepimpinan masyarakat Islam kerana Islam itu ialah sudah merupakan sebuah jemaah dan barangsiapa yang memisahkan dirinya dan keluar dari jemaah (masyarakat Islam) itu atau menyisihkan diri (membuat jemaah baru) maka sesungguhnya dia telah menghilangkan islam dari dirinya seperti apa yang disebut oleh hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah secara marfu dalam Sahih Muslim yang menyebut :
من خرج من الطاعة و فرقوا الجماعة فمات مات ميتة جاهلية
“ Barangsiapa yang keluar dari ketaatan kepada kepimpinan umat Islam dan memecah belahkan jemaah (masyarakat Islam) maka matinya merupakan kematian jahiliyah”
Bahkan berkata lagi Hafidz, hal ini juga disebut dalam hadith yang diriwayatkan oleh Syaikhain (Imam Bukhari dan Muslim) dari Huzaifah al-yamani ra akan hadith yang berbunyi :
تلزم جماعة المسلمين وامامهم “ Hendaklah kamu beriltizam dengan jemaah umat Islam dan kepimpinannya” dan dalam riwayat Khalid bin Sabi’ di sisi Tibrani menambah apabila kamu melihat Khalifah maka taatilah dan apabila tiada khalifah maka berperanglah ( Sila lihat Tuhfatul Ahwazi m/s 385 Jilid 6).
Menurut para ulama salaf soleh seperti apa yang diriwayatkan oleh Muhammad Ibn Sirrin dari Ibn Mas’ud ra bahawa yang dimaksudkan jemaah itu ialah para sahabat baginda dan sebahagiannya mengatakan mereka itu ialah para ulama kerana para ulama itu pewaris nabi salallahualaihiwasalam ان العلماء ورثة الأنبياء (Hadith Sahih, riwayat Tirmidzi no. 2606, Abu Daud dan Ibn Majah).
Berdasarkan situasi pada hari ini, jemaah yang berbentuk organisasi dan membawa kefahaman yang sahih yang diperjuangkan oleh rasulullah dan para sahabat boleh memainkan peranan sebagai penyelamat umat Islam daripada kesesatan dan kejahilan. Tidak ada halangan dan kedosaan bergerak menjalankan dakwah secara berjemaah bahkan itulah yang paling afdhal selain membawa berkah dan kebaikan kepada umat Islam. Disebabkan dengan membawa dakwah secara berjemaah maka umat Islam selain teratur dan tersusun maka harakah dakwah juga bebas dari godaan syaitan secara peribadi dan ancaman-ancaman penyelewengan.
Wallahualam.
p/s :
Sekiranya anda tidak ta'asub maka anda tidak perlu risau kepada artikel ini